-
Pendapatan sopir di Filipina merosot tajam akibat lonjakan harga BBM global yang sangat signifikan.
-
Komunitas sipil menggalang dapur umum untuk membantu kebutuhan pangan harian para pengemudi angkutan.
-
Warga mendesak pemerintah Filipina memberikan subsidi tetap dan menghapus pajak minyak sementara waktu.
Suara.com - Krisis minyak dunia yang dipicu konflik Timur Tengah kini menghantam sektor transportasi publik di Filipina secara telak.
Kenaikan harga bahan bakar yang tidak terkendali mencekik para pengemudi angkutan yang memiliki margin keuntungan sangat tipis.
Dikutip dari CNA, situasi ekonomi ini telah mengubah tatanan hidup para pekerja jalanan yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Ketergantungan pada energi fosil membuat sektor transportasi menjadi garda terdepan yang paling rentan terhadap guncangan geopolitik.
Kini para pengemudi harus berjuang ekstra keras hanya untuk sekadar menutup biaya operasional kendaraan mereka sendiri.
Data menunjukkan harga solar dan bensin melonjak hingga tiga kali lipat sejak bulan Maret yang lalu.

Kondisi ini mengakibatkan pendapatan harian sopir jeepney merosot tajam dari 50 dolar AS menjadi hanya 6 dolar AS.
Bantuan dari pihak pemerintah dinilai belum memadai untuk menjaga keberlangsungan operasional angkutan umum di jalanan kota.
Kekosongan peran negara ini kemudian mulai diisi oleh gerakan swadaya dari individu serta kelompok masyarakat sipil.
Munculnya inisiatif pemberian makan gratis dan donasi menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota dalam beberapa pekan.
Inisiatif Dapur Umum dan Solidaritas Warga
Trining’s Kitchen Stories di Kota Marikina menjadi salah satu tempat yang menyediakan makanan bergizi bagi para sopir.
Restoran kecil ini mengandalkan kucuran dana dari donatur pribadi serta pelaku bisnis lokal untuk menjalankan aksinya.
Hingga saat ini mereka tercatat telah menyalurkan lebih dari seribu paket makanan hangat bagi warga yang terdampak.
Pemilik restoran, Jayson Maulit, percaya bahwa semangat gotong royong merupakan bagian tidak terpisahkan dari identitas nasional negaranya.