-
Pendapatan sopir di Filipina merosot tajam akibat lonjakan harga BBM global yang sangat signifikan.
-
Komunitas sipil menggalang dapur umum untuk membantu kebutuhan pangan harian para pengemudi angkutan.
-
Warga mendesak pemerintah Filipina memberikan subsidi tetap dan menghapus pajak minyak sementara waktu.
“Jika seseorang memimpin jalan, orang-orang menjadi lebih berani dan lebih tegar untuk juga mendonasikan dan juga bersikap baik kepada orang lain. Saya rasa kebaikan ada dalam DNA Filipina,” ujar Jayson Maulit.
Jayson menekankan bahwa jika usaha kecil bisa bergerak, maka seharusnya pihak penguasa mampu melakukan hal yang jauh lebih besar.
Ratusan pengendara ojek daring dan pengemudi roda tiga kini rutin mengantre demi mendapatkan jatah makan malam gratis.
Bagi mereka, bantuan makanan siap saji ini sangat berarti untuk memangkas pengeluaran rumah tangga yang terus membengkak.
Seorang pengendara ojek motor bernama Cyrus Bustos mengakui bahwa bantuan ini meringankan beban pikirannya setiap hari.
“Kami harus terus mengemudi hingga malam hari. Memiliki makanan ini berarti kami tidak perlu khawatir tentang makan malam,” kata Cyrus Bustos.
Perjuangan Sopir Menghadapi Tekanan Ekonomi
Ketekunan menjadi satu-satunya modal bagi para pekerja sektor transportasi ini untuk tetap bertahan menghidupi keluarga mereka.
Hal senada disampaikan oleh Francis Serapion yang merasa mencari uang di masa sekarang jauh lebih sulit dari sebelumnya.
“Sulit untuk mencari uang akhir-akhir ini, tetapi kami harus gigih untuk menghidupi keluarga kami,” ungkap pengemudi roda tiga, Francis Serapion.
Di sisi lain, jaringan komunitas PARA Commuter juga ikut mendirikan dapur umum portabel di pinggir jalanan Manila.
Uniknya bantuan tersebut tidak hanya datang dari warga lokal, tetapi juga dari kelompok penggemar budaya populer internasional.
“Berbagai grup penggemar K-pop telah berdonasi kepada kami,” kata Nanoy Rafael, koordinator dari PARA Commuters’ Network.
Keterlibatan para seniman lokal juga memperkuat dukungan finansial melalui penyisihan pendapatan dari hasil pertunjukan mereka sendiri.
Fenomena ini membangkitkan kembali semangat "pantry komunitas" yang sempat populer pada masa karantina wilayah akibat pandemi lalu.