Iran Alami Kelakaan Obat Kanker dan Diabetes Akibat Serangan Udara Militer Israel - AS

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 28 April 2026 | 16:37 WIB
Iran Alami Kelakaan Obat Kanker dan Diabetes Akibat Serangan Udara Militer Israel - AS
Rudal Iran (Tasnimnews)
  • Serangan udara AS-Israel hancurkan 25 fasilitas medis dan produsen obat vital di Iran.

  • Pasien diabetes dan jantung kesulitan mendapatkan obat akibat kelangkaan stok serta lonjakan harga.

  • Apoteker Iran membangun jaringan informasi darurat untuk membantu distribusi obat kepada pasien kritis.

Suara.com - Sektor kesehatan Iran kini berada di titik nadir setelah gelombang gempuran militer Amerika Serikat dan Israel melumpuhkan infrastruktur produksi obat-obatan vital secara sistematis.

Kehancuran puluhan fasilitas farmasi ini memicu krisis kemanusiaan baru dengan hilangnya akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial yang sebelumnya sudah sulit didapat.

Dikutip dari Sputnik, keadaan darurat ini tidak hanya menghambat penanganan luka perang tetapi secara langsung mengancam nyawa pasien pengidap penyakit degeneratif yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan.

Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)
Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)

Pemerintah setempat mencatat agresi tersebut telah menargetkan setidaknya 25 titik strategis industri kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah negara.

Pabrik yang memproduksi obat kanker, penyakit kardiovaskular, hingga zat anestesi kini tidak lagi mampu beroperasi secara normal akibat kerusakan fisik yang parah.

Institut Pasteur Teheran yang menjadi tulang punggung produksi vaksin nasional turut menjadi korban dalam rangkaian serangan udara yang terorganisir tersebut.

Kondisi ini memperparah defisit stok obat untuk penyakit saraf seperti multiple sclerosis yang sangat bergantung pada produksi domestik di bawah tekanan sanksi.

Sebuah video viral menunjukkan momen seorang wanita Israel terpental ke tanah akibat ledakan rudal yang meledak hanya beberapa meter darinya. [NY Post]
Sebuah video viral menunjukkan momen seorang wanita Israel terpental ke tanah akibat ledakan rudal yang meledak hanya beberapa meter darinya. [NY Post]

Apoteker di lapangan melaporkan bahwa pasien harus menghadapi kenyataan pahit dengan kosongnya rak-rak obat di apotek perkotaan maupun pedesaan.

Dr. Pejman Naim mengungkapkan kondisi ini menciptakan kepanikan bagi warga yang memiliki ketergantungan tinggi pada regimen obat harian untuk bertahan hidup.

“Beberapa obat, seperti untuk diabetes dan penyakit kardiovaskular, sangat langka di pasaran. Obat-obatan ini sebenarnya sudah terbatas selama perang, dan warga kesulitan mendapatkannya baik sebelum maupun selama konflik. Kini, kelangkaannya semakin parah,” kata Naim.

Meskipun infrastruktur fisik hancur, tenaga medis profesional di Iran berupaya menjaga sistem pelayanan tetap bernapas melalui metode pengelolaan darurat.

Pemerintah secara resmi mengaktifkan layanan saluran siaga bagi penduduk untuk melacak ketersediaan sisa stok obat yang masih tersebar di beberapa titik.

Para apoteker secara mandiri membangun integrasi informasi untuk mengarahkan pasien menuju lokasi yang masih memiliki sediaan medis yang dibutuhkan.

Inisiatif swadaya ini menjadi satu-satunya harapan bagi pasien jantung dan penderita penyakit kronis lainnya yang tidak boleh putus mengonsumsi obat.

Dr. Pejman Naim memberikan pandangan optimis bahwa upaya kolektif ini merupakan cara terbaik untuk memitigasi dampak agresi militer saat ini.

“Beberapa obat, seperti untuk diabetes dan penyakit kardiovaskular, sangat langka di pasaran. Obat-obatan ini sebenarnya sudah terbatas selama perang, dan warga kesulitan mendapatkannya baik sebelum maupun selama konflik. Kini, kelangkaannya semakin parah,” kata Naim.

Selain hilangnya barang dari peredaran, lonjakan harga yang ekstrem menjadi tembok besar bagi masyarakat kelas bawah untuk mengakses layanan kesehatan.

Ekonomi farmasi yang terguncang membuat daya serap pasar menurun drastis seiring dengan melemahnya kemampuan finansial warga di tengah kecamuk perang.

Sektor impor pun tidak mampu menjadi solusi instan karena hambatan logistik dan sanksi internasional yang menyulitkan pengadaan bahan baku dasar.

Banyak apotek terpaksa beroperasi dengan stok minimal yang membuat proses penyembuhan pasien menjadi jauh lebih lama dari durasi normalnya.

Dr. Pejman Naim menyoroti bagaimana konflik ini telah merobek stabilitas ekonomi apotek yang selama ini menjadi garda depan pelayanan warga.

“Perang berdampak sangat merusak, termasuk terhadap apotek. Penjualan obat anjlok, sementara harga melonjak sehingga warga kesulitan membeli obat penting,” ujarnya.

Pemulihan total industri kesehatan Iran diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun mengingat kerusakan pada alat-alat produksi yang bersifat sangat spesifik.

Harapan kini tertumpu pada kemungkinan berhentinya kontak senjata agar bantuan kemanusiaan dan bahan baku medis dapat masuk ke Teheran tanpa hambatan.

Masyarakat internasional diminta untuk melihat situasi ini sebagai krisis hak asasi manusia akibat penargetan fasilitas sipil yang seharusnya dilindungi hukum internasional.

Pemerintah Iran bersikeras bahwa penghancuran rantai pasok medis merupakan upaya sistematis untuk melemahkan ketahanan bangsa melalui jalur kesehatan publik.

“Beberapa obat, seperti untuk diabetes dan penyakit kardiovaskular, sangat langka di pasaran. Obat-obatan ini sebenarnya sudah terbatas selama perang, dan warga kesulitan mendapatkannya baik sebelum maupun selama konflik. Kini, kelangkaannya semakin parah,” kata Naim.

Konflik bersenjata yang melibatkan serangan ke fasilitas farmasi di Iran bermula dari meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari lalu.

Militer Amerika Serikat dan Israel mengklaim serangan tersebut sebagai langkah strategis, namun otoritas Teheran membantah dengan menunjukkan bukti kerusakan pada fasilitas produsen obat rakyat.

Serangan ini mencakup penghancuran pabrik obat-obatan kritis yang tidak terkait dengan aktivitas militer, sehingga memicu perdebatan mengenai pelanggaran hukum perang.

Hingga saat ini, kelangkaan obat terus meluas sementara komunitas medis internasional mulai menyuarakan kekhawatiran atas potensi bencana kesehatan berskala besar.

Kejahatan perang menjadi istilah yang berulang kali digaungkan oleh pemerintah Iran dalam menanggapi agresi yang secara langsung melumpuhkan sistem pengobatan penyakit tidak menular tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apa itu UNCLOS? Hukum Internasional yang Menjadi Sorotan di Tengah Perang AS - Iran

Apa itu UNCLOS? Hukum Internasional yang Menjadi Sorotan di Tengah Perang AS - Iran

News | Selasa, 28 April 2026 | 13:42 WIB

Terima Pesan dari Mojtaba Khamenei, Sikap Vladimir Putin Bisa Bikin AS Was-was

Terima Pesan dari Mojtaba Khamenei, Sikap Vladimir Putin Bisa Bikin AS Was-was

News | Selasa, 28 April 2026 | 13:20 WIB

Deretan Fakta Baru Penembakan Trump: Pelaku Naik Kereta dari LA, Senjata Dibeli dari 2023

Deretan Fakta Baru Penembakan Trump: Pelaku Naik Kereta dari LA, Senjata Dibeli dari 2023

News | Selasa, 28 April 2026 | 12:52 WIB

Terkini

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:33 WIB

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:00 WIB

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:23 WIB

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:22 WIB

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:18 WIB

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:21 WIB

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:12 WIB

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:56 WIB

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:54 WIB