Prabowo Tunjuk Jumhur Jadi Menteri, Analis: Sinyal Perang ke Oligarki Hitam Lingkungan

Muhammad Yasir

Rabu, 29 April 2026 | 18:24 WIB
Prabowo Tunjuk Jumhur Jadi Menteri, Analis: Sinyal Perang ke Oligarki Hitam Lingkungan
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (kiri) dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol (kanan) berjabat tangan usai dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/tom]
  • Presiden Prabowo Subianto menunjuk Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup untuk melawan praktik oligarki perusak lingkungan di Indonesia.
  • Rekam jejak Jumhur sebagai aktivis dinilai mampu memutus pola kolaborasi antara korporasi besar dengan elit politik dan aparatur.
  • Langkah tersebut berisiko memicu resistensi internal serta eksternal karena posisi Jumhur dinilai rentan tanpa dukungan politik yang memadai.

Suara.com - Langkah Prabowo Subianto menunjuk Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dinilai bukan sekadar perombakan kabinet biasa. Keputusan itu dibaca sebagai sinyal keras menghadapi jaringan korporasi perusak lingkungan atau “oligarki hitam”.

Analis politik dan militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pilihan Prabowo  itu sebagai strategi untuk menghadirkan figur “outsider” yang bebas dari kepentingan bisnis sumber daya alam.

“Jumhur itu kan tidak terikat secara langsung dengan kepentingan bisnis besar. Dia aktivis, nggak ada kaitannya dengan perusahaan-perusahaan besar,” ujar Selamat Ginting dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (29/4/2026).

Selamat menyebut persoalan lingkungan di Indonesia selama ini kerap buntu karena kuatnya relasi antara korporasi besar dengan elite politik dan aparat negara.

Dalam konteks itu, rekam jejak Jumhur sebagai aktivis dinilai menjadi modal penting untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai “mafia lingkungan”.

“Jadi mungkin pesan Presiden Prabowo yang tidak secara eksplisit, tugas Jumhur adalah menghadapi dalam tanda petik atau tidak pakai tanda petik mafia lingkungan itu. Ini istilah yang bisa merujuk pada ada relasi kuasa yang kompleks dan terinstitusionalisasi terlembagakan dengan siapa dengan elit-elit aparatur negara,” jelasnya.

Selamat juga menilai, penunjukan ini sekaligus memberi keuntungan politik ganda bagi Prabowo: merangkul basis buruh sekaligus menempatkan figur berani di garis depan melawan oligarki.

“Mengambil Jumhur menurut saya, Prabowo mendapatkan dua poin. Buruh bisa dia kendalikan, kemudian juga dia bisa memasang Jumhur untuk menghadapi oligarki-oligarki lingkungan hidup, oligarki hitam,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa problem lingkungan di Indonesia bukan sekadar soal regulasi, melainkan telah menyatu dalam struktur kekuasaan. Karena itu, pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai.

“Menurut saya kehadiran figur seperti Jumhur bisa dibaca sebagai usaha Prabowo memutus pola lama. Pola lama ya artinya jaringan yang dulu berkolaborasi dengan pemerintahan lama akan diputus,” tambahnya.

Namun, langkah ini juga menyimpan risiko. Selamat mengingatkan gaya konfrontatif seorang aktivis berpotensi memicu resistensi, baik dari dalam pemerintahan maupun dari kekuatan eksternal.

“Sanggup nggak Jumhur berhadapan dengan situasi yang tidak mudah ini? Gaya konfrontatifnya figur aktivis seperti Jumhur ini menurut saya ini berisiko juga menimbulkan resistensi bagi pemerintahan Prabowo Subianto,” ujarnya.

Selain itu, minimnya basis partai politik dan dukungan finansial besar membuat posisi Jumhur dinilai rentan tanpa sokongan kekuatan politik yang memadai.

“Keberanian seorang Jumhur aja tidak cukup. Dia harus juga kita backup. Tantangan utama yang dihadapi Jumhur adalah betul-betul ada fakta persoalan lingkungan hidup ini menjadi bagian dari struktur kekuasaan tersendiri,” pungkasnya.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Tunjuk Pengusaha Tambang-Sawit: Cari Makan di Sini, Simpan Uang di Luar Negeri!

Prabowo Tunjuk Pengusaha Tambang-Sawit: Cari Makan di Sini, Simpan Uang di Luar Negeri!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:16 WIB

Analis Bongkar Misi Reshuffle Prabowo Hapus Bayang-bayang Jokowi dan Jadikan Dudung 'The New Luhut'

Analis Bongkar Misi Reshuffle Prabowo Hapus Bayang-bayang Jokowi dan Jadikan Dudung 'The New Luhut'

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:18 WIB

Jumhur Jadi Menteri LH, Rocky Gerung di Istana: Kabinet Jadi Efektif Kalau Ada Tokoh Mantan Napi!

Jumhur Jadi Menteri LH, Rocky Gerung di Istana: Kabinet Jadi Efektif Kalau Ada Tokoh Mantan Napi!

News | Senin, 27 April 2026 | 18:19 WIB

Terkini

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:33 WIB

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:00 WIB

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:23 WIB

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:22 WIB

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:18 WIB

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:21 WIB

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:12 WIB

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:56 WIB

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:54 WIB