33 Tahun Pembunuhan Marsinah, Dian Septi Soroti Pola Militerisme dan Penjinakan Gerakan Buruh

Bella

Kamis, 30 April 2026 | 17:45 WIB
33 Tahun Pembunuhan Marsinah, Dian Septi Soroti Pola Militerisme dan Penjinakan Gerakan Buruh
Aktivis buruh dan tokoh wanita Marsinah. [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nym]
baca 10 detik
  • Perwakilan Marsinah.id, Dian Septi, menyoroti kasus pembunuhan Marsinah sebagai simbol impunitas dan represi militeristik yang masih terus berulang.
  • Diskusi di Jakarta pada 30 April 2026 menekankan pentingnya mengaitkan perjuangan buruh dengan semangat anti-militerisme yang sistematis.
  • Dian mengkritik serikat pekerja yang pro-penguasa karena dianggap mengabaikan akar persoalan eksploitasi buruh serta tuntutan politik yang substantif.

Suara.com - Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) sekaligus memperingati 33 tahun tragedi pembunuhan aktivis buruh Marsinah, perwakilan dari Marsinah.id, Dian Septi, menekankan pentingnya mengaitkan kembali perjuangan buruh dengan semangat anti-militerisme.

Dalam sebuah diskusi publik yang digelar di Resonansi, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026), Dian menyoroti bahwa pola kekerasan dan represi terhadap rakyat tidak banyak berubah sejak era Orde Baru.

Dian menjelaskan bahwa meskipun Marsinah telah diakui sebagai pahlawan nasional, kasus pembunuhannya tetap menjadi simbol pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan femisida yang belum tuntas diusut.

"Marsinah ini adalah simbol pelanggaran Hak Asasi Manusia, pekerja, femisida terhadap perempuan. Dan lewat pintu Marsinah kita bisa melihat lapisan kekerasan, eksploitasi, dan represi gitu," ujar Dian dalam paparannya, Kamis (30/4/2026).

Impunitas dan Pola yang Berulang

Menurutnya, relevansi kasus Marsinah di masa kini terletak pada rantai impunitas yang belum terputus. Hal ini menyebabkan pola kekerasan militeristik terhadap rakyat dan buruh terus berulang di berbagai daerah dan kasus lainnya.

"Kenapa kemudian Marsinah masih relevan untuk saat ini dan penting untuk terus diingat dan digugat keadilannya? Karena impunitas yang melingkupinya di mana kasus Marsinah dan juga kasus yang lain mengalami nasib yang serupa, itu telah memberi dampak bagi kita semua karena kekerasannya pada akhirnya terus terulang," tegasnya.

Dian menambahkan bahwa relasi antara negara, militer, dan buruh saat ini masih mencerminkan gaya Orde Baru, di mana penjinakan terhadap gerakan buruh dilakukan secara sistematis.

Kritik terhadap "May Day Abal-Abal"

baca juga

Dalam diskusi tersebut, Dian Septi melontarkan kritik keras terhadap fenomena beberapa serikat pekerja yang mulai merapat ke lingkaran kekuasaan, yang menurutnya merupakan upaya penjinakan gerakan. Ia menyinggung perayaan May Day yang akan datang dianggapnya tidak menyentuh akar persoalan buruh.

"Penjinakan serikat pekerja yang terus berulang. Kita tahu bahwa pada dewasa ini sebagian serikat pekerja akhirnya merapat ke Prabowo dengan May Day abal-abal ala Prabowo dan mengombinasikannya dengan ajakan jalan santai, ajakan untuk merayakan perayaan tanpa betul-betul menyentuh persoalan eksploitasi yang selama ini terus-menerus terjadi," ujarnya.

Ia juga menyoroti ironi rencana kunjungan ke makam Marsinah tanpa adanya keberanian untuk mengungkap motif politik di balik pembunuhan Marsinah pada masa lampau.

"Pengesahan dan juga akan mendatangi makam almarhum Marsinah di Jawa Timur sambil tidak menyentuh sama sekali kenapa Marsinah dibunuh," lanjutnya.

Pesan Teror Melalui Tubuh Perempuan

Lebih lanjut, ia menjelaskan secara mendalam bagaimana kekejaman yang dialami Marsinah merupakan bentuk pesan teror visual untuk membungkam perlawanan.

Tindakan merusak tubuh perempuan, menurutnya, adalah bentuk pesan konkret dari penguasa saat itu.

"Femisida dengan menghancurkan tubuh perempuan itu adalah pesan yang paling konkret bila kita melawan maka itulah ganjarannya. Karena tubuh itu kan punya pesan yang sangat kasat mata ya, secara visual tubuh itu adalah bagian yang paling pertama dan paling penting dalam berkomunikasi dan itulah yang paling dilukai. Ketika terluka maka itu yang kemudian memberikan pesan teror," jelasnya.

Tak hanya itu, Dian juga mengingatkan kembali bahwa Marsinah bukan sekadar simbol korban, melainkan pemikir yang progresif.

Marsinah kala itu mengusung 12 tuntutan yang sangat politis, termasuk pembubaran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), cuti hamil, cuti haid, hingga jaminan kesehatan.

Ia memperingatkan bahwa memisahkan tuntutan ekonomi buruh dari kesadaran politik adalah langkah yang berbahaya karena dapat melemahkan pergerakan secara keseluruhan.

"Sebuah tuntutan hak normatif pekerja menjadi tidak politis adalah ketika dibiarkan itu menjadi tuntutan yang ekonomis, tetapi secara politis berdekatan dengan penguasa. Jadi tidak menjadi politis karena tidak disuarakan di level politik, dituntut kepada penguasa di level politik, dinegosiasikan dengan penguasa seolah-olah tuntutan akan terpenuhi ketika bisa bernegosiasi dengan penguasa tanpa kesadaran politik dari pekerja," ujarnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelang Hari Buruh, Jukir Liar dan PKL di Monas Jadi Target Penertiban

Jelang Hari Buruh, Jukir Liar dan PKL di Monas Jadi Target Penertiban

News | Kamis, 30 April 2026 | 17:06 WIB

Pernah Alami Jam Kerja 'Gila', Rachel Amanda Sadari Privilege Artis Dibanding Buruh Pabrik

Pernah Alami Jam Kerja 'Gila', Rachel Amanda Sadari Privilege Artis Dibanding Buruh Pabrik

Entertainment | Kamis, 30 April 2026 | 16:55 WIB

Jelang Hari Buruh, Ketimpangan Upah dan Rentannya Pekerja Informal Disorot

Jelang Hari Buruh, Ketimpangan Upah dan Rentannya Pekerja Informal Disorot

News | Kamis, 30 April 2026 | 16:34 WIB

1.793 Personel Dikerahkan Amankan May Day 2026, 200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas

1.793 Personel Dikerahkan Amankan May Day 2026, 200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas

News | Kamis, 30 April 2026 | 16:04 WIB

1 Mei Tak Cuma Hari Buruh, Tanggal Ini Juga Jadi Momen Bersejarah bagi Papua

1 Mei Tak Cuma Hari Buruh, Tanggal Ini Juga Jadi Momen Bersejarah bagi Papua

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 15:26 WIB

Siapa Saja yang Termasuk Buruh? Profesi Mentereng Pun Bisa Masuk

Siapa Saja yang Termasuk Buruh? Profesi Mentereng Pun Bisa Masuk

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 14:43 WIB

Perbedaan May Day dan Mayday, Mana yang Artinya Hari Buruh?

Perbedaan May Day dan Mayday, Mana yang Artinya Hari Buruh?

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 13:29 WIB

25 Ucapan Hari Buruh 2026, Inspiratif untuk Sesama Pekerja

25 Ucapan Hari Buruh 2026, Inspiratif untuk Sesama Pekerja

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 12:19 WIB

Sejarah Hari Buruh, Perjuangan Berdarah di Balik Aturan 8 Jam Kerja

Sejarah Hari Buruh, Perjuangan Berdarah di Balik Aturan 8 Jam Kerja

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 11:47 WIB

Hari Buruh Apakah Libur? Ini Ketentuannya dari Pemerintah

Hari Buruh Apakah Libur? Ini Ketentuannya dari Pemerintah

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 08:44 WIB

Terkini

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:22 WIB

×