-
Ketua Parlemen Iran mengejek kegagalan ancaman ledakan sumur minyak yang dilontarkan Donald Trump.
-
Pemerintah Iran menyebut teori blokade laut Amerika sebagai saran sampah yang merusak pasar.
-
Teheran memprediksi harga minyak dunia bisa melonjak hingga 140 Dollar akibat kebijakan Amerika.
Suara.com - Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa ancaman sabotase dan blokade maritim Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Teheran tidak terbukti di lapangan.
Kegagalan prediksi Washington ini menunjukkan bahwa ketahanan energi Iran jauh lebih stabil dibandingkan narasi krisis yang dilemparkan oleh Gedung Putih.
Ketegangan ini justru memicu kekhawatiran baru di pasar global mengenai lonjakan harga minyak mentah yang diprediksi akan terus merangkak naik.

Qalibaf secara terbuka mengejek gertakan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi kehancuran infrastruktur energi Iran dalam waktu singkat.
“3 hari berlalu, tidak ada sumur yang meledak. Kita bisa memperpanjangnya hingga 30 hari dan menyiarkan langsung sumur tersebut di sini,” tulis Qalibaf melalui media sosialnya, dikutip dari Tasnimnews.
Komentar ini merupakan respons langsung terhadap pernyataan Trump tiga hari sebelumnya yang menyebut industri minyak Iran berada di ambang kehancuran.

Teheran menilai retorika yang dibangun oleh pemerintah Amerika Serikat hanyalah bentuk kepanikan atas ketidakberdayaan strategi blokade mereka.
Politisi senior Iran ini menganggap klaim Amerika sebagai cerminan dari kegagalan intelijen ekonomi dan strategi militer di Selat Hormuz.
Qalibaf juga mengarahkan kritiknya kepada Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang dianggap memberikan masukan tidak akurat kepada presiden.
“Itu adalah jenis saran sampah yang didapat pemerintah AS dari orang-orang seperti Bessent yang juga mendorong teori blokade dan menaikkan harga minyak hingga 120 dolar. Perhentian berikutnya: 140. Masalahnya bukan teorinya, melainkan pola pikirnya,” tegas Qalibaf.
Pemerintah Iran meyakini bahwa pola pikir konfrontatif ini justru menjadi bumerang yang merugikan stabilitas ekonomi internasional secara luas.
Lonjakan harga energi global dianggap sebagai dampak langsung dari kebijakan blokade yang tidak realistis dan dipaksakan oleh Washington.
Bagi Teheran, narasi mengenai kelangkaan bahan bakar di dalam negeri merupakan upaya manipulatif untuk melemahkan psikologi pasar dan rakyat Iran.
Perseteruan terbaru ini dipicu oleh klaim Donald Trump yang menyatakan bahwa infrastruktur minyak Iran akan meledak dalam tiga hari jika gangguan blokade berlanjut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkuat narasi tersebut dengan menyebut industri minyak Iran mulai berhenti berproduksi dan segera runtuh total.