- Konsorsium Pembaruan Agraria memilih berunjuk rasa di Gedung DPR RI daripada menghadiri acara May Day bersama Presiden.
- Keputusan ini diambil karena pemerintah dinilai masih menggunakan pendekatan represif terhadap petani, nelayan, serta masyarakat adat di Indonesia.
- Sejak September 2025, tercatat ratusan petani mengalami kekerasan, penangkapan, hingga penembakan akibat konflik mempertahankan hak atas tanah mereka.
Suara.com - Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengungkapkan alasan tidak bergabung dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas bersama Presiden Prabowo Subianto.
Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika menyampaikan bahwa pihaknya lebih memilih untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI dan menyampaikan kritik.
Dia menegaskan bahwa persoalan buruh, petani, nelayan, dan pekerja perempuan belum terselesaikan oleh pemerintah sehingga KPA tidak mau mengikuti May Day Fiesta di Monas.
“Untuk itulah, May Day kali ini, bersama gerakan rakyat, Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK), KPA bersama serikat petani memilih untuk tetap turun ke jalan memperingati Hari Buruh Internasional,” kata Dewi di atas mobil komando, Jumat (1/5/2026).
Menurut dia, saat ini masih banyak petani yang direpresif untuk mempertahankan tanahnya, nelayan yang dijarah, dan aktivis pejuang hak tanah petani yang ditangkap.
“Jika kami menghitung dari sejak 24 September 2025 tahun lalu, ketika kami turun ke jalanan memperingati Hari Tani Nasional, sejak 24 September sampai dengan May Day hari ini, tercatat sudah 22 orang petani dan masyarakat adat yang ditembak karena mempertahankan tanahnya,” tutur Dewi.
Dia menyebut petani dan masyarakat adat di Bengkulu Selatan, di Jambi, di Watas, di Bandung, ditembak karena pendekatan pemerintah masih sangat represif dengan intimidasi oleh aparat-aparat keamanan.
“Sudah 272 petani bersama masyarakat adat mengalami kekerasan fisik karena memperjuangkan hak atas tanahnya dan sudah 450 petani bersama masyarakat adat ditangkap karena mempertahankan kampung dan tanahnya, kawan-kawan semuanya,” ungkap Dewi.
“Oleh karena itu, di May Day tahun ini, kita menyatakan tetap melawan pada kapitalisme,” tandas dia.