- Gunung Mayon di Provinsi Albay, Filipina, meletus pada 2 Mei 2026 dan berdampak pada 52 desa sekitar.
- Pemerintah menaikkan status menjadi Level 3 serta menetapkan zona bahaya enam kilometer akibat ancaman arus piroklastik.
- Sebanyak 1.500 keluarga telah mengungsi karena hujan abu tebal mengganggu aktivitas warga dan jarak pandang di lokasi.
Suara.com - Letusan Gunung Mayon pada Sabtu (2/5/2026) memaksa ribuan warga di Provinsi Albay mengungsi. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 52 desa terdampak hujan abu tebal akibat aktivitas vulkanik tersebut.
Wilayah terdampak berada di selatan Manila, dengan sebaran abu vulkanik yang cukup luas dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Pemerintah menetapkan zona berbahaya dalam radius enam kilometer dari kawah, menyusul potensi ancaman arus piroklastik.
Menurut laporan Asiaone, Philippine Institute of Volcanology and Seismology (PHIVOLCS) memperkirakan aliran piroklastik dapat menjangkau hingga empat kilometer dari puncak gunung.
Fenomena ini dikenal sebagai campuran gas panas dan material vulkanik yang bergerak cepat dan berbahaya.
Lembaga tersebut juga menaikkan status aktivitas menjadi Level 3 dari skala lima tingkat setelah terdeteksi aktivitas strombolian dan semburan lava sementara.
Sementara itu, Biro Pemadam Kebakaran Filipina menyatakan tim tanggap darurat telah dikerahkan ke berbagai lokasi terdampak untuk membantu proses evakuasi dan penanganan warga.
Laporan menyebut sekitar 1.500 keluarga kini berada di pusat evakuasi. Data PHIVOLCS juga mencatat Filipina memiliki 24 gunung berapi aktif, termasuk Gunung Mayon yang dikenal paling sering menunjukkan aktivitas.
Menukil laporan Gulf News, aliran material vulkanik mengarah ke jalur Mi-isi di sektor barat daya gunung, area yang dikenal rawan saat terjadi erupsi.
Asap abu tebal terlihat membumbung tinggi, menyebabkan jarak pandang menurun drastis dan sempat menghentikan lalu lintas di Jalan Lingkar Camalig.
Rekaman warga menunjukkan hujan abu menyelimuti wilayah Camalig, memicu gangguan visibilitas dan jatuhan material vulkanik di permukiman.
Pihak berwenang memperingatkan bahwa arus piroklastik dapat bergerak sangat cepat dan membahayakan keselamatan warga di sekitar lereng gunung.
Personel dari Palang Merah Filipina turut dikerahkan untuk membantu koordinasi penanganan bencana serta memantau dampak kesehatan akibat abu vulkanik.
“Kami sangat menyarankan seluruh warga di komunitas terdampak untuk tetap siaga tinggi. Hindari memasuki zona bahaya yang telah ditetapkan, terutama di dekat lembah dan aliran sungai tempat gas panas dan material dapat bergerak cepat," ujar organisasi tersebut
"Jika terjadi hujan abu, tetaplah di dalam rumah, gunakan masker pelindung. Pastikan persediaan makanan serta air tertutup dengan baik untuk mencegah kontaminasi,” imbuhnya.