-
Harga tiket Piala Dunia 2026 di Meksiko mencapai puluhan ribu dolar sehingga sulit dijangkau warga.
-
Warga lokal memprotes turnamen karena memicu krisis air bersih dan kenaikan harga sewa hunian.
-
Isu keamanan kartel narkoba menjadi tantangan serius bagi Meksiko dalam menjamin keselamatan turis mancanegara.
Suara.com - Ambisi Meksiko mengukir sejarah sebagai negara pertama yang tiga kali menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 kini justru menyisakan kekecewaan mendalam bagi rakyatnya.
Pesta sepak bola kali ini dinilai terlalu eksklusif karena harga tiket yang mustahil dijangkau oleh rata-rata pekerja lokal.
Kesenjangan ekonomi yang lebar membuat turnamen ini dianggap hanya bisa dinikmati oleh kalangan berduit dan wisatawan mancanegara.
![Bukan Prancis atau Argentina, Simulasi Matematika Prediksi Negara Ini Juara Piala Dunia 2026 [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/06/71643-piala-dunia-2026.jpg)
“Untuk realitas ekonomi Meksiko, hanya orang-orang yang memiliki sarana paling banyak yang bisa masuk,” ujar Francisco Javier Ferreira, seorang pensiunan berusia 70 tahun dikutip dari CNN.
Meksiko sendiri hanya mendapatkan jatah 13 pertandingan dari total 104 laga yang sebagian besar digelar di Amerika Serikat.
Kekecewaan penggemar memuncak saat FIFA merilis harga tiket babak penyisihan di Mexico City yang menyentuh angka 3.000 hingga 10.000 dolar AS.
Bagi warga seperti Ferreira yang berpenghasilan 1.000 dolar AS per bulan, biaya satu tiket setara dengan beberapa bulan biaya hidup.
![Grup A Piala Dunia 2026: Meksiko, Afrika Selatan, Korea Selatan, Ceko. [FIFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/05/81068-grup-a-piala-dunia-2026-meksiko-afrika-selatan-korea-selatan-ceko.jpg)
Kondisi ini diperparah dengan skema pasar sekunder FIFA yang membiarkan harga tiket final melambung hingga jutaan dolar.
“Rasanya tidak sama dengan dua Piala Dunia sebelumnya. Piala Dunia ini pada dasarnya milik Amerika Serikat. Rasanya tidak seperti Meksiko. Begitulah rasanya bagi saya karena bahkan harga tiket pun di luar jangkauan semua orang,” keluh Ferreira.
FIFA berdalih bahwa mereka telah menyediakan kategori tiket murah mulai dari 60 dolar AS khusus bagi asosiasi nasional tim yang lolos.
Fasilitas Stadion Banorte yang Belum Siap Sepenuhnya
Stadion Banorte atau yang dulu dikenal sebagai Stadion Azteca kini telah bersolek dengan renovasi besar selama hampir dua tahun.
Meski kapasitasnya bertambah menjadi 86.000 kursi, akses masuk bagi masyarakat umum justru dipersulit dengan pembatasan kendaraan.
Penonton terpaksa berjalan kaki sejauh dua kilometer karena akses utama stadion hanya diprioritaskan bagi tamu-tamu istimewa.
Alan Rea, seorang penggemar yang gagal mendapatkan tiket, terpaksa hanya bisa membawa anaknya melihat stadion saat laga persahabatan.
“Saya pikir kita seharusnya mendapatkan seluruh Piala Dunia dan bukan hanya 13 pertandingan di Meksiko — tapi bagaimanapun, kami akan memanfaatkan setiap pertandingan yang ada,” katanya.
Di luar urusan lapangan, bayang-bayang kekerasan kartel dan blokade jalan di beberapa wilayah Meksiko menjadi kekhawatiran utama para turis.
Penangkapan gembong narkoba baru-baru ini memicu aksi pembakaran kendaraan yang mengancam stabilitas keamanan menjelang turnamen.
Di ibu kota, gelombang protes justru muncul dari warga yang mengeluhkan kelangkaan air bersih akibat pembangunan infrastruktur turnamen.
Proyek Piala Dunia juga dituding sebagai biang kerok kenaikan harga sewa hunian karena banyaknya apartemen yang beralih fungsi menjadi sewa jangka pendek.
Sejumlah pemuda melakukan aksi blokade jalan sambil menyuarakan bahwa ajang internasional ini telah berubah menjadi agenda yang sangat elitis.
Piala Dunia 2026 merupakan kolaborasi tiga negara antara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, di mana Meksiko menggunakan tiga kota utama yaitu Monterrey, Guadalajara, dan Mexico City.
Stadion Banorte menjadi ikon utama di Meksiko setelah melewati pembaruan teknologi lapangan hybrid dan sistem pemantauan keamanan canggih.
Namun, kemegahan fisik tersebut kontras dengan situasi domestik Meksiko yang sedang berjuang melawan krisis perumahan dan isu keamanan nasional.