Di Balik Ledakan Belanja Online, Mengapa Transisi Kemasan Ramah Lingkungan Masih Berliku?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 07 Mei 2026 | 11:23 WIB
Di Balik Ledakan Belanja Online, Mengapa Transisi Kemasan Ramah Lingkungan Masih Berliku?
Ilustrasi Belanja Online. [Envato]
baca 10 detik
  • Lonjakan belanja daring di Indonesia meningkatkan limbah kemasan plastik hingga 4,8 kali lipat dibanding belanja konvensional setiap bulannya.
  • UMKM kesulitan beralih ke kemasan ramah lingkungan karena tingginya biaya produksi dan tekanan margin keuntungan dari platform digital.
  • Kurangnya regulasi pemerintah serta insentif sistemik menyebabkan transisi menuju kemasan berkelanjutan belum dapat diimplementasikan secara luas di Indonesia.

Selama bertahun-tahun, plastik menjadi standar utama dalam industri pengiriman. Material ini murah, ringan, tahan air, dan mudah ditemukan. Dalam logika bisnis digital yang serba cepat, plastik dianggap sebagai pilihan paling aman dan efisien.

Konsumen pun secara tidak langsung ikut mempertahankan sistem tersebut.

“Dari konsumen sejauh ini tidak ada yang komplain sih. Selama barangnya aman dan tidak rusak, mereka merasa sudah cukup,” kata Prisil.

Penjual memilih plastik karena murah dan praktis, sementara konsumen lebih memprioritaskan barang tiba dengan aman dibandingkan jenis kemasan yang digunakan.

Ilustrasi sampah bubble wrap kemasan dari belanja online (Freepik)
Ilustrasi sampah bubble wrap kemasan dari belanja online (Freepik)

Masalahnya, pilihan alternatif masih mahal dan belum menjadi standar di platform e-commerce. Pelaku usaha kecil akhirnya berada di posisi paling rentan, mereka dituntut lebih ramah lingkungan, tetapi tidak diberi dukungan sistem yang memadai.

Data terbaru menunjukkan harga berbagai produk berbahan plastik juga terus naik di sejumlah daerah. Kenaikan bahkan dilaporkan mencapai 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000. Situasi ini semakin mempersempit ruang gerak UMKM.

Ketika Regulasi dan Platform Sama-sama Senyap

Pemerintah sebenarnya telah memiliki Permen LHK No. 75 Tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen. Namun implementasinya di sektor e-commerce masih belum jelas.

Hingga kini, belum ada standar kemasan hijau yang benar-benar diterapkan secara luas di platform digital. Insentif untuk pelaku usaha yang ingin beralih ke kemasan berkelanjutan juga masih minim.

baca juga

Suara.com, telah mencoba menghubungi sejumlah platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop terkait kebijakan green logistics dan regulasi internal mereka. Namun hingga tulisan ini diterbitkan, pihak perusahaan menyatakan tidak bersedia diwawancarai.

Situasi serupa juga terjadi di sektor publik. Upaya meminta tanggapan dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait tanggung jawab ekosistem e-commerce terhadap sampah kemasan belum membuahkan hasil.

Akibatnya, tanggung jawab lingkungan akhirnya jatuh ke tangan penjual dan konsumen—dua pihak yang justru memiliki daya tawar paling kecil dalam rantai industri digital.

Inovasi Ada, Tapi Belum Didukung Sistem

Di tengah lambatnya regulasi dan belum adanya standar kemasan hijau di industri e-commerce, sejumlah inovasi mulai bermunculan. Salah satunya datang dari Cassaplast, perusahaan bioplastik asal Bandung yang mengembangkan kemasan berbahan dasar singkong.

Di tengah dominasi plastik konvensional, bioplastik dipandang sebagai salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan karena memiliki jejak karbon lebih rendah dan berasal dari bahan organik yang dapat terurai lebih cepat.

Perwakilan Cassaplast, Reza, menjelaskan, industri e-commerce sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendorong penggunaan kemasan berkelanjutan karena volume pengiriman yang sangat tinggi setiap harinya.

“Kalau dilihat, e-commerce itu identik dengan penggunaan kemasan dalam jumlah besar. Di situ sebenarnya bioplastik relevan karena materialnya berasal dari bahan organik seperti singkong dan emisinya lebih rendah dibanding plastik konvensional,” ujarnya.

Namun, jalan menuju transisi itu masih panjang. Harga bioplastik saat ini dinilai belum kompetitif bagi banyak pelaku UMKM. Selain biaya produksi yang lebih mahal, infrastruktur pendukung seperti fasilitas kompos industri juga masih terbatas.

“Untuk skala UMKM atau bisnis menengah ke bawah, ini masih kurang efisien secara biaya,” katanya.

Tantangan lain muncul dari sisi daya tahan produk. Berbeda dengan plastik biasa, bioplastik lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan, terutama untuk pengiriman jarak jauh.

“Kalau terkena suhu tinggi dalam perjalanan, teksturnya bisa berubah jadi lebih kasar. Memang bisa kembali normal saat suhu ruang, tapi tetap butuh waktu,” jelasnya.

Di luar persoalan teknis, tantangan terbesar justru datang dari pasar. Kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan dinilai masih rendah. Banyak konsumen mendukung isu keberlanjutan secara konsep, tetapi tetap memilih produk dengan harga paling murah saat berbelanja.

“Banyak orang support sustainability in theory, tapi praktiknya tetap memilih yang lebih murah,” ujarnya.

Oleh karena, itu, menurut, persoalan ini jadi bukti bahwa transisi menuju kemasan hijau tidak bisa hanya dibebankan kepada produsen kecil atau konsumen semata.

Tanpa dukungan sistem, inovasi ramah lingkungan akan sulit berkembang menjadi arus utama.

Mereka berharap pemerintah hadir lebih aktif melalui insentif pajak, dukungan riset, hingga perluasan edukasi publik mengenai perbedaan produk biodegradable, compostable, dan dampak jangka panjang sampah plastik terhadap lingkungan.

“Edukasi dan awareness masyarakat Indonesia soal ramah lingkungan masih kurang. Banyak yang belum benar-benar paham dampaknya dalam jangka panjang,” kata perwakilan Cassaplast.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Niatnya Go Green Pakai Wadah Sendiri, Eh Malah Kena 'Pajak' Tak Terduga

Niatnya Go Green Pakai Wadah Sendiri, Eh Malah Kena 'Pajak' Tak Terduga

Your Say | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:20 WIB

Badai PHK Hantui Industri Tekstil hingga Plastik, Menperin: Bukan Hanya di Indonesia

Badai PHK Hantui Industri Tekstil hingga Plastik, Menperin: Bukan Hanya di Indonesia

Bisnis | Selasa, 05 Mei 2026 | 15:09 WIB

Ria Ricis Akhirnya Akui Oplas Hidung, Sekalian Biar Makin Cantik

Ria Ricis Akhirnya Akui Oplas Hidung, Sekalian Biar Makin Cantik

Entertainment | Minggu, 03 Mei 2026 | 13:25 WIB

Terkini

Digitalisasi Pajak Daerah Tembus 97,5 Persen, BI Bidik Peningkatan Pendapatan Daerah

Digitalisasi Pajak Daerah Tembus 97,5 Persen, BI Bidik Peningkatan Pendapatan Daerah

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 07:50 WIB

10 Pilihan Sabun Cuci Muka untuk Jerawat, Bantu agar Tidak Semakin Meradang

10 Pilihan Sabun Cuci Muka untuk Jerawat, Bantu agar Tidak Semakin Meradang

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 07:45 WIB

Progres Underpass Bitung Capai 70,7 Persen, Ditargetkan Rampung Februari 2027

Progres Underpass Bitung Capai 70,7 Persen, Ditargetkan Rampung Februari 2027

Foto | Sabtu, 07 November 2026 | 07:30 WIB

Sambut HUT Meranti, Sejumlah Praktisi Hukum Bentuk LBH Tanah Jantan

Sambut HUT Meranti, Sejumlah Praktisi Hukum Bentuk LBH Tanah Jantan

Riau | Sabtu, 07 November 2026 | 07:24 WIB

Iran Klaim Dua Kapal Tanker Terbakar Dihantam Ranjau di Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Iran Klaim Dua Kapal Tanker Terbakar Dihantam Ranjau di Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 07:20 WIB

Cara Tambah Anggota Keluarga atau Bayi Baru Lahir di KK, Ini Syarat dan Prosedurnya

Cara Tambah Anggota Keluarga atau Bayi Baru Lahir di KK, Ini Syarat dan Prosedurnya

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 06:31 WIB

5 Rekomendasi Sampo Anti Ketombe yang Bisa Dipakai Setiap Hari, Tak Bikin Iritasi

5 Rekomendasi Sampo Anti Ketombe yang Bisa Dipakai Setiap Hari, Tak Bikin Iritasi

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 06:21 WIB

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Awan Panas Guguran Meluncur hingga 5 Kilometer

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Awan Panas Guguran Meluncur hingga 5 Kilometer

Foto | Sabtu, 07 November 2026 | 06:00 WIB

Dari Adu Teknik Memasak hingga Meracik Kopi, Chef Dunia Bersaing di Jakarta

Dari Adu Teknik Memasak hingga Meracik Kopi, Chef Dunia Bersaing di Jakarta

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 01:49 WIB

LPPOM Tak Ingin Sertifikasi Halal Berhenti Jadi Label, UMKM Didorong Naik Kelas

LPPOM Tak Ingin Sertifikasi Halal Berhenti Jadi Label, UMKM Didorong Naik Kelas

News | Sabtu, 07 November 2026 | 01:37 WIB

×