- Duta Besar Korea Utara, Kim Song, menegaskan di markas PBB bahwa status negaranya sebagai pemilik senjata nuklir tidak berubah.
- Pyongyang menolak tunduk pada Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir karena status kekuatan nuklir telah tercantum dalam konstitusi nasional Korea Utara.
- Korea Utara semakin mempererat kerja sama militer dengan Rusia melalui pertukaran pasukan dan potensi bantuan teknologi pertahanan terbaru.
Suara.com - Pemerintah Korea Utara (Korut) kembali menegaskan sikap keras terkait program nuklir milik mereka.
Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song, di tengah berlangsungnya konferensi peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di markas besar PBB.
Kim Song menilai Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya terus mempertanyakan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir.
Namun menurutnya, tekanan internasional tidak akan mengubah posisi Pyongyang.
“Status Republik Demokratik Rakyat Korea sebagai negara bersenjata nuklir tidak akan berubah hanya karena klaim retoris dari pihak luar,” ujar Kim Song seperti dikutip media pemerintah KCNA.
Kim juga menegaskan Korea Utara tidak akan tunduk pada Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir dalam kondisi apa pun.
![Ilmuwan dibalik nuklir Korut. [Mirror]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/09/06/77044-ilmuwan-dibalik-nuklir-korut.jpg)
Menurutnya, status negara nuklir Korea Utara bahkan telah dimasukkan ke dalam konstitusi nasional.
Korut diketahui keluar dari NPT pada 2003 dan sejak itu telah melakukan enam uji coba nuklir.
Langkah tersebut membuat negara itu dijatuhi berbagai sanksi oleh Dewan Keamanan PBB.
Sejumlah pengamat memperkirakan Korea Utara kini memiliki puluhan hulu ledak nuklir.
Pemerintah Pyongyang juga berulang kali menyebut program nuklir mereka bersifat “tidak dapat dibatalkan” dan akan terus diperkuat.
Di sisi lain, Korea Utara juga disebut semakin dekat dengan Russia. Pyongyang dilaporkan mengirim pasukan darat serta amunisi artileri untuk mendukung invasi Rusia ke Ukraine.
Sebagai imbalannya, sejumlah analis menilai Korea Utara kemungkinan menerima bantuan teknologi militer dari Moskow.
Menurut laporan SIPRI, sembilan negara bersenjata nuklir dunia saat ini memiliki total 12.241 hulu ledak nuklir hingga Januari 2025.
Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, China, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.