- Kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada 27 April 2026 menyoroti tingginya risiko keamanan pada perlintasan sebidang liar.
- Warga lokal mengelola perlintasan liar sebagai sumber penghasilan melalui sistem organisasi informal dan proses regenerasi "ngadal".
- Para penjaga bekerja secara otodidak tanpa pelatihan resmi, menjadikan aktivitas tersebut sebagai mata pencaharian turun-temurun warga setempat.
Suara.com - Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan kereta api jarak jauh, KRL, dan sebuah taksi listrik di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu, menyisakan luka mendalam sekaligus tanda tanya besar mengenai keamanan perlintasan sebidang.
Di balik risiko tinggi yang mengintai nyawa, muncul sebuah realitas sosial di mana menjaga perlintasan kereta api liar menjadi "profesi" turun-temurun bagi warga yang tinggal di bantarannya.
Al atau yang kerap disapa Bang Al (31), seorang warga yang menghabiskan 15 tahun hidupnya menjaga perlintasan liar di Jawa Barat, menceritakan bagaimana ia dan anak-anak sebayanya tumbuh bersama deru mesin kereta.
Baginya, menjaga palang pintu bukan sekadar membantu kelancaran lalu lintas, melainkan cara untuk bertahan hidup sejak usia sekolah.
"Karena kan emang saya tinggal di bantaran deket rel kereta api juga ya, jadi emang lahir di situ. Dan sebelum saya lahir juga emang pintu kereta di situ emang sudah ada, makanya dari SMP itu pengen punya duit ya lewat jaga pintu kereta itu," ujar Al dalam kanal Youtube Suaradotcom, dikutip pada Selasa (12/05/2026).
Sistem ‘Ngadal’ dan Regenerasi Penjaga
Menariknya, pengelolaan perlintasan liar ternyata memiliki struktur organisasi informal yang cukup rapi.
Al menjelaskan, ada sistem pembagian jadwal atau sift yang melibatkan belasan orang. Bagi para pemula atau anak-anak yang baru bergabung, mereka harus melewati fase yang disebut dengan istilah "ngadal".
"Yang jaga pintu kereta itu bukan seorang dua orang, bisa sampai belasan orang. Cuman yang punya jadwal tertentu itu paling lima orang sampai enam orang. Dan saya awalnya gak langsung jaga didapat jadwal kayak gitu, awalnya ngadal. Istilahnya di situ ada istilah ngadal," ungkapnya.
Fase "ngadal" ini diibaratkan sebagai masa magang. Para "pengadal" ini akan mengisi kekosongan waktu saat penjaga utama beristirahat. Melalui proses inilah, regenerasi penjaga perlintasan liar terus berlanjut di kampung-kampung pinggir rel.
Keahlian Otodidak di Balik Bahaya
![Pengendara melintasi rel perlintasan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/01/89567-perlintasan-kereta-api-sebidang.jpg)
Meskipun bekerja di lingkungan dengan risiko nyawa yang sangat besar, para penjaga ini tidak pernah mendapatkan pelatihan resmi dari otoritas terkait.
Bang Al mengaku mendapatkan kemampuannya secara otodidak hanya dengan mengamati lingkungan sekitar yang sudah menjadi tempat bermainnya sehari-hari.
"Ya mungkin karena emang dari kecil udah di situ kan. Ya palang pintu kereta juga kan. Jadi sampai sekarang pun emang tempat nongkrong dibikin kayak sawung-sawungan. Jadi kalau orang-orang pada ngobrol pagi, sore, malam ya di situ tempatnya. Jadi emang mainnya di situ. Jadi tanpa harus diajarin. Pokoknya intinya jangan meleng aja gitu, kanan-kiri, kanan-kiri," ujarnya.
Warisan Keluarga