- Warga di Jawa Barat secara swadaya menjaga perlintasan kereta api menggunakan palang bambu bertali demi keselamatan ribuan pengendara.
- Penjaga perlintasan menggunakan alat komunikasi Handy Talky hasil patungan mandiri untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kedatangan kereta api.
- Pihak otoritas belum memberikan bantuan teknis dan justru mengancam penutupan permanen perlintasan jika terjadi kecelakaan di lokasi tersebut.
Suara.com - Keselamatan ribuan pengendara yang melintasi perlintasan kereta api sebidang di salah satu daerah di Jawa Barat ternyata selama bertahun-tahun hanya bergantung pada seutas tali tambang dan inisiatif swadaya masyarakat.
Di tengah absennya dukungan alat dari otoritas terkait, warga terpaksa memutar otak dan merogoh kocek pribadi demi mencegah jatuhnya korban jiwa.
Al (31), seorang warga yang pernah 15 tahun menjaga perlintasan liar, menceritakan betapa sederhananya infrastruktur keselamatan yang mereka kelola. Alih-alih palang besi otomatis berstandar industri, mereka hanya mengandalkan pohon bambu yang tumbuh di sekitar desa.
"Ya inisiatif warga bikin palang pintunya pake bambu, diiket pake tali jadi semi otomatis gitu di tarikin pake tambang nanti dua-dua palang pintunya turun sendiri pas ada kereta," seperti dikatakan Al saat podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip Selasa (12/5/2026).
Ia menambahkan bahwa biaya pembuatannya sangat minim karena bahan baku tersedia gratis di sekitar lingkungan desa.
"Kalau di sana kan masih desa ya, masih banyak pohon bambu jadi, ya paling belinya beli tambang doang gitu karena bambunya kan tinggal ambil,” ungkapnya.
Modernisasi Lewat Jalur Patungan
Menariknya, kesadaran akan keselamatan justru mendorong para penjaga perlintasan ini untuk melakukan modernisasi secara mandiri. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Al dan rekan-rekannya di empat titik perlintasan berbeda berinisiatif membeli alat komunikasi Handy Talky (HT) dari hasil uang patungan.
"Itu pun karena emang inisiatif antar menjaga pintu kereta ya dari 4 pintu kereta itu. Jadi sesama pintu kereta nih, patungan beli HT. Jadi nanti kalau ada kereta dari Jakarta nih yang paling ujung ngabarin ke pintu kereta yang ini, yang ini ngabarin lagi kesini," jelasnya.
Kehadiran HT ini menjadi revolusi bagi mereka. Sebelum ada alat komunikasi, para penjaga hanya mengandalkan penglihatan manual terhadap lampu kereta.
"Kalau dulu nih sebelum pake HT, ya kita main-main ngeliat lampu lah, ngeliat isi kereta lah kalau sudah keliatan kan. Jadi orang baru nyebrang, kereta sudah keliatan gitu kan. Kalau sekarang kereta belum keliatan, palang pintu sudah kita tutup," tambahnya.
Minim Dukungan
Interaksi dengan pihak otoritas disebut sangat minim dan cenderung bersifat satu arah. Al mengingat PT KAI pernah datang ke lokasi, namun bukan untuk memberi bantuan teknis, melainkan memberikan ultimatum terkait keberadaan perlintasan tersebut.
"Karena kan memang KAI pernah bilang jangan sampai ada korban dari palang pintu kereta ini, karena satu aja ada korban, tutup permanen di situ," ujarnya.
Potret yang diceritakan Al menunjukkan sebuah ironi, di mana keselamatan publik di titik-titik krusial justru diserahkan sepenuhnya kepada warga sipil tanpa jaminan standar keselamatan resmi.
Hingga saat ini, sistem ekonomi mandiri dari sumbangan sukarela para pengguna jalanlah yang membiayai pengadaan alat penunjang keselamatan seperti HT.
Reporter: Tsabita Aulia