Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Pandemi Baru Seperti COVID-19

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:43 WIB
Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Pandemi Baru Seperti COVID-19
Hantavirus (Shutterstock)
  • Hantavirus di kapal MV Hondius dipastikan memiliki risiko penularan publik yang sangat rendah.

  • Pakar menegaskan hantavirus jauh lebih sulit menyebar dibanding COVID-19 karena membutuhkan kontak fisik.

  • Masa inkubasi yang panjang hingga enam minggu membantu petugas medis mengontrol penyebaran wabah.

Suara.com - Ledakan kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius dipastikan tidak akan memicu pandemi global layaknya krisis kesehatan tahun 2020. Para ahli infeksi menegaskan karakteristik virus ini sangat berbeda secara fundamental sehingga resiko bagi masyarakat luas sangat minim.

Kemunculan virus yang dibawa hewan pengerat ini memang sempat memicu trauma kolektif terhadap masa awal pandemi virus corona. Namun, otoritas kesehatan internasional melihat pola penyebaran hantavirus jauh lebih terkendali dan sulit melompat antarmanusia secara masif.

"Ini bukan COVID yang lain," ujar Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada CBS.

Ilustrasi varian Omicron, Covid-19. [BBC]
Ilustrasi varian Omicron, Covid-19. [BBC]

Saat ditanya mengenai pesannya untuk warga Amerika yang khawatir, ia mengatakan, "Berdasarkan penilaian ilmiah dan berdasarkan bukti... risikonya rendah. Jadi mereka tidak seharusnya— mereka tidak seharusnya khawatir."

Kematian tiga penumpang dalam sepuluh kasus terkonfirmasi menjadi dasar kewaspadaan ketat bagi 18 warga Amerika yang baru saja dipulangkan. Meski fatalitasnya tinggi, struktur biologis hantavirus menghambat kemampuannya untuk menyebar secepat kilat di ruang publik terbuka.

Analogi "kayu basah di perapian batu" digunakan untuk menggambarkan betapa sulitnya hantavirus ini untuk mengobarkan "api" pandemi yang luas. Berbeda dengan COVID-19 yang mudah terbakar bak hutan kering, hantavirus membutuhkan kondisi yang sangat spesifik untuk tetap aktif.

Ilustrasi pasien Covid-19. [Ist]
Ilustrasi pasien Covid-19. [Ist]

Spesialis penyakit menular Dr. Céline Gounder menyamakan kondisi awal COVID-19 dengan hutan kering yang diterjang angin kencang dan tanpa hujan. Ia menjelaskan bahwa spesialis penyakit menular, layaknya kepala pemadam kebakaran, sudah sangat mengenali perilaku virus jenis ini sebelumnya.

"Ini tidak menular seperti cara COVID dulu, atau sekarang. Masa inkubasinya berbeda, dan itu sebenarnya membantu kami dalam mengendalikannya," kata Gounder.

"Hantavirus menginfeksi jauh di dalam paru-paru, bukan saluran pernapasan atas, sehingga jauh lebih sulit untuk dibatukkan atau diembuskan keluar ke udara dalam jumlah virus yang cukup agar mudah menular," tambahnya.

Pengetahuan medis selama puluhan tahun tentang virus ini memberikan keunggulan bagi para ilmuwan dibandingkan saat menghadapi SARS-CoV-2 yang baru muncul. Pemahaman ini memungkinkan deteksi dan isolasi dilakukan dengan protokol yang jauh lebih presisi dan efektif sejak dini.

Strain virus Andes yang ditemukan di Amerika Selatan merupakan satu-satunya varian hantavirus yang tercatat mampu berpindah antarmanusia. Penularannya memerlukan interaksi fisik yang sangat lama dan dekat, bukan sekadar berada di ruangan yang sama secara singkat.

Jejak infeksi diduga berasal dari perjalanan sepasang suami istri di wilayah daratan sebelum mereka menaiki kapal pesiar di Argentina. Tragedi ini menonjol karena sang suami wafat beberapa pekan lebih awal dibandingkan istrinya yang menyusul kemudian.

"Ini bukan COVID. Ini bukan influenza. Ini menyebar dengan cara yang sangat, sangat berbeda," kata Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO.

"Saya ingin bersikap tegas di sini," lanjutnya.

"Ini bukan SARS-CoV-2 [virus yang menyebabkan COVID]. Ini bukan awal dari pandemi COVID. Ini adalah wabah yang kita lihat di sebuah kapal. Ini adalah area yang terbatas."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus

Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:28 WIB

Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres

Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:08 WIB

Bandara Soetta Perketat Pengawasan Penumpang dari 4 Negara Antisipasi Hantavirus

Bandara Soetta Perketat Pengawasan Penumpang dari 4 Negara Antisipasi Hantavirus

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:04 WIB

Terkini

Mengenal Istilah Ngadal: Tradisi 'Magang' Anak SMP Jadi Penjaga Perlintasan Rel Liar

Mengenal Istilah Ngadal: Tradisi 'Magang' Anak SMP Jadi Penjaga Perlintasan Rel Liar

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:31 WIB

Rekam Jejak Kontroversial Sara Duterte: Dari Pukul Petugas hingga Ancam Pembunuhan Ferdinand Marcos

Rekam Jejak Kontroversial Sara Duterte: Dari Pukul Petugas hingga Ancam Pembunuhan Ferdinand Marcos

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:28 WIB

Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus

Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:28 WIB

Puan Maharani Soal Larangan Nobar Film 'Pesta Babi', Minta DPR Panggil Pihak Terkait

Puan Maharani Soal Larangan Nobar Film 'Pesta Babi', Minta DPR Panggil Pihak Terkait

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:26 WIB

SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi LCC 4 Pilar MPR RI: Juri Diduga Tak Konsisten

SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi LCC 4 Pilar MPR RI: Juri Diduga Tak Konsisten

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:18 WIB

Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres

Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:08 WIB

Minta Maaf ke Siswa SMAN 1 Pontianak, Hetifah Sjaifudian Perjuangkan Tanding Ulang LCC 4 Pilar

Minta Maaf ke Siswa SMAN 1 Pontianak, Hetifah Sjaifudian Perjuangkan Tanding Ulang LCC 4 Pilar

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55 WIB

Datang ke RSCM, Oditur Militer Pulang Tanpa Bisa Temui Andrie Yunus

Datang ke RSCM, Oditur Militer Pulang Tanpa Bisa Temui Andrie Yunus

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54 WIB

Usut Korupsi Outsourcing Pekalongan, KPK Cecar Ryan Savero Soal Aliran Uang ke Fadia Arafiq

Usut Korupsi Outsourcing Pekalongan, KPK Cecar Ryan Savero Soal Aliran Uang ke Fadia Arafiq

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:50 WIB

Sering Jumat Berkah, Pemilik Kontrakan Ungkap Aktivitas Bidan di Sleman Usai 11 Bayi Dievakuasi

Sering Jumat Berkah, Pemilik Kontrakan Ungkap Aktivitas Bidan di Sleman Usai 11 Bayi Dievakuasi

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47 WIB