Ketakutan Penjaga Perlintasan Rel Liar Usai Tragedi Bekasi: Kami Juga Tak Mau Celakakan Orang!

Vania Rossa | Suara.com

Selasa, 12 Mei 2026 | 17:04 WIB
Ketakutan Penjaga Perlintasan Rel Liar Usai Tragedi Bekasi: Kami Juga Tak Mau Celakakan Orang!
Pengendara melintasi rel perlintasan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Kecelakaan kereta api di Bekasi Timur pada 27 April 2026 memicu sorotan terhadap ribuan perlintasan sebidang liar nasional.
  • Penjaga perlintasan liar menghadapi tekanan psikologis, risiko hukum, serta konflik fisik dengan pengendara tidak disiplin saat bertugas.
  • Presiden Prabowo menginstruksikan penertiban perlintasan liar, sehingga warga meminta pemerintah menyediakan solusi jalan alternatif yang aksesibel dan manusiawi.

Suara.com - Pasca-kecelakaan maut yang melibatkan kereta api dan taksi listrik di perlintasan Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu, sorotan tajam kini tertuju pada ribuan perlintasan sebidang liar di seluruh Indonesia.

Di balik perdebatan soal penutupan akses, para penjaga perlintasan liar yang sering dianggap pahlawan sekaligus pelanggar aturan, kini dihantui ketakutan akan beban moral dan risiko hukum yang menyelimuti pekerjaan mereka.

Al (31), seorang mantan penjaga perlintasan liar di Jawa Barat, membeberkan betapa beratnya tekanan psikologis yang dihadapi saat bertugas. Meskipun bekerja tanpa status legalitas dari pemerintah maupun PT KAI, para penjaga ini memikul tanggung jawab penuh atas nyawa setiap pengendara yang melintas.

“Ya sempat sih (kepikiran hal terburuk), cuman kan namanya di situ juga kan kita jaga ga sendiri. Jadi kalaupun kitanya lagi kurang fokus itu ada orang-orang di situ,” seperti dikatakan Al saat podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip pada Selasa (12/5/2026).

Beradu Mulut dengan Pengendara Nekat

Ketakutan terbesar para penjaga rel bukanlah pada kereta yang melaju kencang, melainkan pada perilaku pengendara yang tidak disiplin. Al mengaku sering kali harus beradu mulut hingga “bersenggolan” fisik dengan pengendara yang tidak sabar dan nekat menerobos palang pintu.

“Sering kita sering tuh namanya kecet-kecet (beradu mulut) sama pengendara-pengendara yang ga sabar. Begitu kita udah tutup nih tapi dia masih ngobrol masih mau nyebrang gitu kita sering kecet-kecet (beradu mulut) sama orang kayak gitu,” ungkapnya.

Bahkan, saking nekatnya pengendara, palang bambu yang dipasang warga pun kerap menjadi korban.

“Ya palang pintu kereta juga sering ketabrak sampe patah lah gitu karena emang pengendaranya,” tambahnya.

Kekhawatiran ini kian memuncak karena posisi mereka yang rentan secara hukum. Sebagai penjaga liar, mereka tidak memiliki perlindungan hukum jika terjadi kecelakaan. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa jika terjadi masalah, merekalah yang akan menjadi pihak pertama yang disalahkan.

Antara Ladang Ekonomi dan Ancaman Penutupan

Menanggapi instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menertibkan perlintasan sebidang liar pasca-tragedi Bekasi Timur, Al memiliki sudut pandang sebagai “orang lapangan”. Baginya, perlintasan ini bukan sekadar ladang mencari uang, tapi juga urat nadi mobilitas warga. Namun, ia tidak menampik bahwa faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Jika penutupan adalah satu-satunya jalan yang diambil pemerintah, Al meminta agar ada solusi yang manusiawi bagi masyarakat sekitar.

“Ya balik lagi ya maksudnya kalau emang harus ada penutupan gitu ya harus dikasih juga jalan alternatifnya jangan terlalu muter jauh,” harapnya.

Kisah Bang Al memberikan perspektif baru bahwa para penjaga rel liar berada di posisi yang sangat sulit. Mereka mengisi kekosongan peran negara dalam menjaga keselamatan di perlintasan sebidang, namun harus siap memikul konsekuensi pidana dan beban moral yang sangat berat tanpa jaminan kesejahteraan yang pasti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Palang Bambu dan HT Patungan, Warga Pertaruhkan Nyawa Jaga Perlintasan Liar

Palang Bambu dan HT Patungan, Warga Pertaruhkan Nyawa Jaga Perlintasan Liar

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:27 WIB

Mengenal Istilah Ngadal: Tradisi 'Magang' Anak SMP Jadi Penjaga Perlintasan Rel Liar

Mengenal Istilah Ngadal: Tradisi 'Magang' Anak SMP Jadi Penjaga Perlintasan Rel Liar

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:31 WIB

Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari

Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:07 WIB

Terkini

Nadiem Jadi Tahanan Rumah, Kejagung Siapkan Pengawasan 24 Jam dan Gelang Elektronik

Nadiem Jadi Tahanan Rumah, Kejagung Siapkan Pengawasan 24 Jam dan Gelang Elektronik

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:58 WIB

Targetkan 500 Ribu Lulusan SMK Kerja di LN, Cak Imin Prioritaskan Siswa dari Keluarga Miskin

Targetkan 500 Ribu Lulusan SMK Kerja di LN, Cak Imin Prioritaskan Siswa dari Keluarga Miskin

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:48 WIB

23 Selamat, 14 Hilang! Drama Mencekam Pekerja Migran Indonesia di Laut Malaysia

23 Selamat, 14 Hilang! Drama Mencekam Pekerja Migran Indonesia di Laut Malaysia

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:37 WIB

Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Gas Jerman, Ancaman Krisis Energi Menghantui Warga Eropa

Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Gas Jerman, Ancaman Krisis Energi Menghantui Warga Eropa

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:26 WIB

Melanggar Perda, Satpol PP DKI Siap Sikat Lapak Hewan Kurban di Trotoar

Melanggar Perda, Satpol PP DKI Siap Sikat Lapak Hewan Kurban di Trotoar

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:23 WIB

NHM Kerahkan Tim Darurat, Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Berhasil Dievakuasi

NHM Kerahkan Tim Darurat, Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Berhasil Dievakuasi

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:17 WIB

Jejak Alumni Kamboja di Hayam Wuruk: Mengapa Jakarta Dipilih Jadi Basis Judol?

Jejak Alumni Kamboja di Hayam Wuruk: Mengapa Jakarta Dipilih Jadi Basis Judol?

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:15 WIB

TelkomGroup Resmikan Community Gateway Wamena

TelkomGroup Resmikan Community Gateway Wamena

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:06 WIB

Kisruh LCC Empat Pilar, DPR Usul Juri Pakai Headset dan Rekaman Audio agar Penilaian Tak Bermasalah

Kisruh LCC Empat Pilar, DPR Usul Juri Pakai Headset dan Rekaman Audio agar Penilaian Tak Bermasalah

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:02 WIB

Studi Ungkap Banyak Eksperimen Laut Salah Prediksi Dampak Pemanasan Global, Apa Dampaknya?

Studi Ungkap Banyak Eksperimen Laut Salah Prediksi Dampak Pemanasan Global, Apa Dampaknya?

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:00 WIB