- Yayasan Konservasi Alam Nusantara menginisiasi program SIGAP sejak 2010 guna mendukung pembangunan ekonomi serta pelestarian lingkungan berbasis desa.
- Program ini diterapkan di Kalimantan Timur dan Utara melalui penguatan tata kelola desa, perhutanan sosial, dan pengembangan ekonomi lokal.
- Implementasi SIGAP berhasil menekan laju deforestasi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi aktif antara pemerintah dan penduduk desa.
“Apa yang kita lihat di Kaltim dan Kaltara menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan sekadar wacana. Ketika desa diperkuat dan pemerintah daerah memberi ruang, desa mampu menjadi motor pembangunan hijau,” ujarnya.
Direktur Program Terestrial YKAN, Ruslandi, menambahkan salah satu kunci keberhasilan SIGAP terletak pada peran pendamping desa yang bekerja langsung bersama masyarakat untuk mengenali potensi alam dan merancang perubahan.
Menurutnya, praktik pembangunan hijau berbasis desa seperti SIGAP berpotensi diterapkan di berbagai wilayah lain di Indonesia.
“Pendekatan SIGAP sangat mungkin diterapkan di Sumatera, di Papua atau daerah-daerah lain. Dengan begitu, harapannya, laju deforestasi bisa terjaga dan masyarakat hidup sejahtera,” pungkas Ruslandi.