- IDAI mendesak pemerintah memprioritaskan pemberian protein hewani dari pangan lokal untuk mencegah stunting pada anak usia enam bulan.
- Penggunaan susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis dinilai kurang efektif dibandingkan makanan pendamping berbasis sumber pangan lokal.
- Pemerintah diminta mengalihkan anggaran susu formula guna memperkuat kemandirian pangan nasional serta intervensi gizi berbasis bukti ilmiah klinis.
Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong pemerintah memprioritaskan pangan lokal dalam upaya pencegahan stunting dibanding distribusi susu formula massal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
IDAI menilai tatalaksana nutrisi anak usia di atas enam bulan yang terbukti efektif mencegah stunting adalah makanan pendamping ASI berbasis protein hewani dari pangan lokal.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Dr Yoga Devaera, Sp.A, Subsp.NPM(K), mengatakan pangan lokal memiliki efektivitas lebih baik dalam mencegah stunting.
“Pangan lokal lebih ampuh cegah stunting. Untuk anak di atas 6 bulan, makanan terbaik untuk mencegah stunting adalah protein hewani dari pangan lokal seperti telur, ikan, ayam, dan daging,” kata Yoga dalam siaran pers, Kamis (21/5/2026).
![Makan Bergizi Gratis. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/04/23/85478-mbg.jpg)
IDAI juga menegaskan substitusi berbasis susu formula bukan pendekatan utama penanganan stunting. Tatalaksana nutrisi pasca 6 bulan (MPASI) yang terbukti secara klinis mencegah stunting dengan pemberian protein hewani dari pangan lokal.
"Seperti telur, ikan, daging, bukan substitusi berbasis Ultra-Processed Food (UPF) berupa susu formula," imbuh Yoga.
Karena itu, IDAI meminta pemerintah mempertimbangkan pengalihan anggaran pengadaan susu formula komersial untuk memperkuat program MPASI berbasis pangan lokal.
IDAI menyebut langkah tersebut penting untuk mendukung kemandirian pangan nasional sekaligus memperkuat intervensi gizi berbasis bukti ilmiah dalam penanganan stunting.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), mengatakan pihaknya sebenarnya mendukung seluruh upaya pemerintah dalam memperbaiki gizi nasional.
“IDAI berharap BGN dapat segera melakukan telaah ulang dan sinkronisasi petunjuk teknis sebelum kebijakan ini menimbulkan kerugian kesehatan yang luas," kata Piprim.