- Badan Gizi Nasional segera menyusun Bank Menu untuk menjadi acuan dapur MBG di seluruh Indonesia mulai Mei 2026.
- BGN akan memberikan sanksi tegas bagi mitra penyedia bahan baku yang tidak mematuhi aturan standar kualitas maupun kuantitas.
- Pengawas gizi wajib memastikan keamanan pangan di SPPG melalui pemantauan ketat saat penerimaan bahan baku dan penggunaan peralatan.
Ia juga mengingatkan bahwa Pengawas Gizi harus ada pada saat-saat titik kritis. Pertama, saat dropping bahan baku harus ada Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan.
"Karena, pada saat dropping bahan baku harusnya sudah diperiksa, sudah dilihat apakah bahan itu bagus atau tidak. Kalau tidak, langsung ditolak. Kalau perlu kita nggak usah masak kalau dia tidak bisa mengganti. Jangan dipaksakan!" cetus Nanik.
Pengawas Gizi harus ada pada saat dropping bahan baku pangan karena kunci keamanan pangan mulai dari titik itu.
"Kalau anda melihat ayam yang datang sudah mulai kebiru-biruan, dan di dalam hati saja anda sudah ragu, langsung drop saja. Ayam juga sering datang dalam bentuk bongkahan, minta aslap bongkar, lihat, bisa jadi di dalamnya sudah busuk,” kata Nanik.
Sementara, dari sidak yang dilakukannya selama ini, Nanik sering menemukan barang hanya diterima relawan, lalu digeletakkan sembarangan.
Nanik pun mendorong agar SPPG-SPPG melengkapi alat yang tersedia di setiap SPPG. Soal kelengkapan peralatan ini sedang disusun dalam juknis peralatan SPPG yang baru secara khusus.
"Di Gudang basah, selain harus ber-AC, juga harus ada freezer, chiller, dan showcase. Semua harus diketahui fungsi dan tujuan penggunaannya oleh pengelola dapur. Satu lagi perlu chiller yang kecil untuk menyimpan sample menu, yang disimpan di kantor SPPG,” kaya Nanik.
Setiap dapur juga wajib memiliki mesin pemotong sayuran dan blender besar sehingga proses persiapan memasak bisa lebih cepat.
Untuk ruang persiapan harus memakai meja, Sedangkan untuk memanggang harus dengan oven besar dan tidak boleh hanya dengan torch.
Sementara untuk mengupas telur, setiap SPPG juga harus memiliki mesin pengupas telur, dan tidak boleh memakai tangan kosong lagi. Setiap SPPG juga harus menyediakan cooling room sebelum ruang pemorsian,
Mesin vakum pun diperlukan untuk membungkus menu agar lebih terjaga higientasnya. Sementara untuk memasak, ke depan akan diwajibkan memakai deep frying dan tidak boleh memakai wajan lagi.
Sementara itu, semua mobil juga harus ber_AC, sehingga kondisi ompreng MBG ketika didistribusikan makanan tetap dalam rantai dingin, sehingga mengurangi potensi insiden keamanan pangan.