Sentil Budaya Rangking, Menteri Abdul Muti: Membandingkan Nilai Murid Itu Pemicu Bullying

Bangun Santoso

Senin, 25 Mei 2026 | 19:24 WIB
Sentil Budaya Rangking, Menteri Abdul Muti: Membandingkan Nilai Murid Itu Pemicu Bullying
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengungkap akar persoalan perundungan di sekolah. (Suara.com/Dinda Pramesti K)
baca 10 detik
  • Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti menyatakan perundungan di sekolah terjadi akibat relasi kuasa antara pihak kuat dan lemah.
  • Kelompok rentan perundungan meliputi murid perempuan, siswa berkebutuhan khusus, anak ekonomi lemah, serta siswa berprestasi akademik rendah.
  • Kemendikdasmen menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang mengedepankan pendekatan humanis untuk menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman.

Suara.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengungkap akar persoalan perundungan di sekolah yang menurutnya tak lepas dari relasi kuasa di lingkungan pendidikan.

Ia menyebut murid perempuan, anak dari keluarga ekonomi lemah, hingga siswa dengan capaian akademik rendah menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban bullying.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat membuka seminar bertema “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman: Pembentukan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah” yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Save the Children Indonesia, Senin (25/5/2026).

Menurut Mu’ti, sekolah saat ini masih belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi anak. Ia menilai praktik perundungan terus berkembang dengan bentuk dan pelaku yang semakin beragam.

“Berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dan bahkan kalau kita lihat ragam perundungannya dan pelakunya juga semakin beragam,” kata Mu’ti.

Ia menjelaskan, bullying pada dasarnya muncul dari relasi kekuasaan antara pihak yang kuat terhadap yang lemah.

“Kalau kita bicara mengenai perundungan itu memang relasinya selalu relasi power, the powerful kepada the powerless,” ujarnya.

Mu’ti kemudian membeberkan kelompok murid yang paling sering menjadi sasaran perundungan di sekolah.

“Yang seringkali menjadi sasaran dari perundungan itu yang pertama adalah memang mereka yang physically itu mereka lemah, bisa jadi karena memang mereka anak-anak berkebutuhan khusus,” tuturnya.

baca juga

Selain itu, ia menyebut murid perempuan juga lebih rentan mengalami bullying.

“Sebagian besar yang menjadi sasaran perundungan itu anak-anak perempuan,” katanya.

Tak hanya itu, faktor ekonomi dan prestasi akademik juga disebut menjadi pemicu munculnya perundungan di sekolah.

“Yang ketiga itu mereka yang secara ekonomi itu di bawah, karena mungkin dari pakaiannya kelihatan, dari penampilan fisiknya juga kelihatan,” ucap Mu’ti.

“Dan yang keempat itu mereka yang secara akademik itu capaiannya juga rendah. Mereka yang capaian akademiknya rendah seringkali menjadi sasaran dari perundungan,” sambungnya.

Mu’ti menilai sistem pendidikan juga kerap tanpa sadar ikut melanggengkan praktik bullying, salah satunya melalui budaya membanding-bandingkan murid berdasarkan nilai akademik.

“Keamanan secara intelektual juga penting, sehingga perangkingan kemudian membandingkan murid satu dengan yang lain dari capaian akademik itu juga seringkali menjadi sebab terjadinya perundungan,” katanya.

Karena itu, Kemendikdasmen menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Kebijakan tersebut, kata Mu’ti, menitikberatkan pada pendekatan humanis dibanding hukuman.

“Pendekatan yang kita jadikan sebagai core value adalah pendekatan yang humanis. Pendekatan yang di situ kita memanusiakan manusia, memanusiakan semua murid kita dan memuliakan mereka sesuai dengan keadaannya,” ujarnya.

Mu’ti juga menyinggung masih adanya guru yang bersikap menghakimi murid tanpa memahami latar belakang persoalan yang dihadapi anak.

“Anak datang terlambat itu hanya dihukumi dia terlambat, tapi tidak mencoba bertanya kenapa terlambat,” katanya.

Ia memberi contoh murid yang tertidur di kelas belum tentu malas, melainkan bisa jadi harus bekerja membantu orang tua atau mengalami masalah gizi.

“Barangkali dia harus bekerja malam hari membantu orang tuanya yang karena itu dia tidak bisa tidur cepat, dia kelelahan dan karena itu dia kemudian akhirnya tertidur setiap kali pelajaran atau mungkin karena dia kurang gizi,” tutur Mu’ti.

Menurut dia, budaya sekolah aman dan nyaman hanya bisa tercipta jika sekolah membuka ruang ekspresi bagi murid dan memperlakukan anak secara manusiawi.

“Titik tekannya bukan pada punishment, bukan pada misalnya sanksi-sanksi, tapi pada pendekatan yang lebih humanis, pendekatan yang lebih manusiawi, guru-guru lebih banyak mendengar murid-murid lebih banyak bergandeng tangan,” pungkasnya. (Dinda Pramesti K)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Curhat Menteri Pendidikan Saat Nobar Children of Heaven: Pakai Sepatu Seminggu Sekali

Curhat Menteri Pendidikan Saat Nobar Children of Heaven: Pakai Sepatu Seminggu Sekali

Entertainment | Minggu, 24 Mei 2026 | 14:40 WIB

Pernah Jadi Korban Bullying, Rapper Dindin Beberkan Kisah Pilu saat SMA

Pernah Jadi Korban Bullying, Rapper Dindin Beberkan Kisah Pilu saat SMA

Your Say | Rabu, 20 Mei 2026 | 12:13 WIB

Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA 21 Surabaya Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying

Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA 21 Surabaya Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying

News | Senin, 11 Mei 2026 | 20:53 WIB

DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying Remaja Berkarakter dan Berempati di SRMA 13 Bekasi

DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying Remaja Berkarakter dan Berempati di SRMA 13 Bekasi

News | Senin, 11 Mei 2026 | 20:46 WIB

DBL Resmi Luncurkan Super Teacher, Benahi Manajemen Talenta Basket Pelajar

DBL Resmi Luncurkan Super Teacher, Benahi Manajemen Talenta Basket Pelajar

Sport | Jum'at, 08 Mei 2026 | 13:54 WIB

Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun

Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 19:49 WIB

Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas

Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 16:14 WIB

Terkini

Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai

Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:39 WIB

Misi Balas Dendam! 23 Pemain Terbaik Madura United Siap Bungkam Tren Positif PSM Makassar

Misi Balas Dendam! 23 Pemain Terbaik Madura United Siap Bungkam Tren Positif PSM Makassar

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:29 WIB

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:40 WIB

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:28 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

×