-
Gelombang panas ekstrem melanda Eropa Barat dan memecahkan rekor suhu tertinggi dalam satu abad terakhir.
-
Korban jiwa berjatuhan di Inggris dan Prancis akibat tenggelam saat mencoba mendinginkan diri.
-
Para ahli menegaskan bahwa fenomena kubah panas ini dipicu oleh dampak nyata perubahan iklim global.
Suara.com - Lonjakan suhu ekstrem melanda kawasan Eropa Barat secara mendadak pada musim semi kali ini. Fenomena alam yang tidak biasa ini memicu jatuhnya korban jiwa di beberapa negara akibat sengatan panas.
Pemerintah setempat segera mengeluarkan peringatan darurat terkait ancaman fatal terhadap keselamatan warga. Banyaknya korban tenggelam dilaporkan terjadi saat masyarakat berusaha mendinginkan diri di perairan terbuka.
Dikutip dari The Hils, kondisi terparah terjadi di London saat Kew Gardens mencatat suhu hingga 35,1 derajat Celsius. Angka ini memecahkan rekor tertinggi yang baru saja tercipta sehari sebelumnya di lokasi sama.
![Wisatawan berswafoto di dekat kawasan Big Ben, London, Inggris, Minggu (18/1/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/20/44061-wisata-di-london-inggris-ilustrasi-london-big-ben-atau-elizabeth-tower.jpg)
Amplitudo suhu ini otomatis menumbangkan catatan panas ekstrem tahun 1922 dan 1944 silam. Ibu kota Inggris tersebut juga mengalami fenomena malam tropis karena suhu udara bertahan di atas 20 derajat Celsius.
Gelombang panas yang serupa turut melumpuhkan wilayah barat daya Prancis secara masif. Layanan cuaca nasional setempat, Météo-France, mengonfirmasi keberadaan fenomena kubah panas (heat dome).
Sistem tekanan tinggi tersebut mengunci udara panas di atas wilayah pemukiman warga. Dampaknya, suhu melonjak drastis hingga 10 derajat Celsius di atas rata-rata normal musim ini.
![Wisatawan mengunjungi lokasi prajurit penjaga berkuda yang berjaga di depan gerbang Royal Horse Guards, London, Inggris, Minggu (18/1/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/20/83310-wisata-di-london-inggris-ilustrasi-london-royal-horse-guards.jpg)
Perubahan iklim global dituding menjadi aktor utama di balik anomali cuaca yang kian tidak terprediksi. Para ahli mengingatkan bahwa ancaman mematikan ini kini mengintai wilayah yang sebelumnya tergolong aman.
Seorang pakar iklim memberikan penegasan mengenai korelasi emisi gas rumah kaca dengan bencana ini. Faktor tersebut membuat cuaca buruk menjadi jauh lebih sering terjadi belakangan ini.
“Kita tahu tanpa ragu sedikit pun bahwa peristiwa gelombang panas seperti ini menjadi lebih mungkin terjadi dan lebih parah akibat perubahan iklim yang timbul dari emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas dari kita,” kata dia.
Anomali kenaikan suhu yang terjadi saat ini dinilai sudah berada di luar batas kewajaran. Struktur wilayah Eropa Barat bahkan tampak belum siap menghadapi lonjakan drastis tersebut.
“Namun, bagaimanapun juga, banyak rekor yang tercipta, khususnya di Inggris dan Prancis, sangat gila dan membingungkan.”
Dampak nyata dari cuaca ekstrem ini langsung mengacaukan aktivitas harian para komuter di kota London. Pengguna kereta bawah tanah terpaksa bersimbah keringat karena fasilitas gerbong yang minim pendingin ruangan.
Perjalanan kereta dari dan menuju Stasiun Waterloo bahkan sempat terhenti akibat kemunculan asap di jalur rel. Masalah infrastruktur akibat panas ini meluas hingga ke wilayah utara Britania.
Di Skotlandia, petugas pemadam kebakaran harus berjuang semalaman menjinakkan kobaran api di perbukitan Arthur's Seat. Kebakaran vegetasi tersebut melepaskan asap pekat yang menyelimuti langit kota Edinburgh.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) langsung merespons dengan menerbitkan status waspada amber. Peringatan ini ditujukan terutama untuk melindungi kelompok lansia yang sangat rentan.
Mayoritas bangunan domestik di Inggris memang tidak dilengkapi sistem pendingin udara karena terbiasa dengan iklim sedang. Ketiadaan fasilitas ini memperparah risiko kesehatan warga saat siang hari.
Petaka justru datang ketika warga berbondong-bondong mendatangi danau dan waduk untuk menyegarkan badan. Otoritas Inggris melaporkan sedikitnya empat remaja tewas tenggelam dalam insiden terpisah.
Kasus serupa merenggut nyawa seorang pria paruh baya di kawasan pesisir barat daya Inggris. Korban tewas akibat cuaca panas ini juga terkonfirmasi di wilayah Prancis.
Juru bicara pemerintah Prancis, Maud Bregeon, mengumumkan adanya tujuh kematian yang terindikasi kuat akibat cuaca panas. Korban meliputi peserta ajang olahraga dan warga yang tenggelam.
Musibah ini diperparah karena gelombang panas datang jauh sebelum jadwal penugasan penjaga pantai musim panas. Akibatnya, banyak kawasan wisata air populer yang belum memiliki pengawasan keselamatan.
Gelombang arus bawah yang kuat di pesisir Atlantik Prancis memicu rentetan situasi darurat laut. Dua orang wisatawan dilaporkan tewas tergulung ombak di wilayah resor Gironde.
Administrator wilayah setempat langsung mengeluarkan instruksi tegas bagi para pengunjung pantai. Masyarakat diminta tidak meremehkan bahaya alam yang mengintai di sepanjang pesisir.
"Untuk menerapkan kewaspadaan yang setinggi-tingginya.”
Fenomena lonjakan suhu di luar musimnya ini tidak hanya berpusat di wilayah Inggris dan Prancis saja. Sejumlah negara di Eropa Selatan seperti Spanyol dan Italia turut melaporkan kondisi serupa.
Pihak badan meteorologi Spanyol menyatakan bahwa suhu bulan Mei kali ini sudah setara dengan kondisi puncak musim panas. Wilayah Sevilla bahkan sempat menyentuh angka 38 derajat Celsius pada akhir pekan lalu.
Sebagian besar kawasan Semenanjung Iberia mengalami anomali suhu hingga 10 derajat di atas batas normal. Sementara itu, suhu di kota Roma, Italia, diproyeksikan terus merangkak naik hingga menyentuh 32 derajat Celsius.