- Warga Nagari Anduriang masih menggunakan rakit untuk menyeberang sungai karena jembatan utama rusak akibat bencana enam bulan lalu.
- Tokoh agama menekankan bahwa bencana ekologis bukan sekadar takdir, melainkan konsekuensi atas kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia.
- Organisasi lintas agama berkolaborasi menerjemahkan isu krisis iklim menggunakan pendekatan nilai spiritual dan budaya agar mudah dipahami masyarakat.
Pandangan serupa juga disampaikan Pendeta Widianto Nugroho dari GKJ Joglo, Jakarta Barat. Ia mengatakan bahwa dalam sejarahnya, tafsir keagamaan pernah disalahgunakan untuk membenarkan eksploitasi alam atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
“Sempat ada kesalahpahaman masa lalu di awal kapitalisme berkembang, bahwa Kekristenan memandang Tuhan memberikan kewenangan bagi manusia untuk menaklukkan alam, dalam arti bebas berbuat apa saja,” ujar Widianto.
Padahal, menurutnya, makna “menaklukkan” dalam ajaran tersebut bukanlah kesewenang-wenangan, melainkan tanggung jawab untuk merawat ciptaan Tuhan.
“Menaklukkan yang dimaksud sebenarnya adalah mewujudkan penatalayanan yang baik terhadap ciptaan Tuhan,” lanjutnya.
Di sisi lain, dari perspektif Katolik, Koordinator Nasional Laudato Si’ Indonesia, Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, menilai krisis ekologis saat ini tidak bisa dilepaskan dari pola kerusakan yang berlangsung secara sistematis dan terus diwariskan.

Ia merujuk pada ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2015 sebagai titik penting perubahan cara pandang gereja terhadap relasi manusia dan alam.
“Kesalahan-kesalahan ekologis itu menjadi dosa struktural yang mewaris di lembaga-lembaga besar, masuk ke dalam perundang-undangan, tapi juga masuk di dalam dosa-dosa domestik,” jelas Lilik.
Menurutnya, cara pandang keagamaan terhadap lingkungan terus berkembang seiring kesadaran bahwa kerusakan bumi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual.
Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Siti. Ia menilai ajaran agama sebenarnya telah lama mengingatkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Siti merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 41 yang menyebut kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia.
Karena itu, menurutnya, bencana tidak seharusnya dipahami semata sebagai takdir yang harus diterima begitu saja. Di balik berbagai krisis ekologis yang terjadi, terdapat tanggung jawab manusia untuk menjaga bumi dan hidup lebih selaras dengan alam.
Rahmatan Lil Alamin dan Tanggung Jawab Menjaga Bumi
Dalam Islam, manusia memang diciptakan sebagai khalifah di bumi, artinya manusia diberi amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Karena itu, konsep rahmatan lil alamin seharusnya tidak hanya dimaknai sebatas hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam.
“Jadi tugas kita sebagai hamba itu nggak hanya habluminallah, bagaimana kita mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah. Tapi juga ada habluminannas, bagaimana kita berbuat baik kepada sesama manusia, dan habluminalalam, bagaimana kita berbuat baik kepada alam,” ujar Siti Barokah.
Menurutnya, ketiga relasi tersebut seharusnya berjalan secara utuh dan saling berkaitan. Amal saleh, kata dia, bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga mencakup tindakan menjaga lingkungan dan merawat kehidupan di sekitar.
“Amal saleh itu segala bentuk kebaikan dalam kehidupan kita. Jadi nggak hanya soal ibadah kepada Tuhan, tapi juga bagaimana kita berbuat baik kepada manusia dan kepada alam,” katanya.