- Donald Trump mendesak negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.
- Kesepakatan Abraham Accords bertujuan membangun kawasan Timur Tengah yang bersatu, kuat, serta makmur melalui berbagai kerja sama ekonomi.
- Upaya normalisasi tersebut menghadapi kendala karena negara terkait tetap menuntut kemerdekaan Palestina sebagai syarat utama menjalin hubungan diplomatik.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendorong negara-negara Timur Tengah untuk bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan yang bertujuan menormalisasi hubungan dengan Israel.
Melalui platform Truth Social, Trump menyebut sejumlah negara potensial yang diharapkan ikut menandatangani perjanjian tersebut.
Di antaranya Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania.
Trump menilai sebagian besar negara di kawasan sebenarnya siap bergabung dalam kesepakatan tersebut.
Trump bahkan meminta Arab Saudi dan Qatar segera mengambil langkah konkret.
“Sebagian besar negara seharusnya siap dan bersedia,” tulis Trump.
Donald Trump juga menyebut negara yang menolak bergabung menunjukkan niat buruk.
![Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/76171-donald-trump.jpg)
Trump menggambarkan Abraham Accords sebagai jalan menuju Timur Tengah yang lebih bersatu dan kuat secara ekonomi.
Trump bahkan mengatakan Iran akan diterima jika bersedia bergabung dalam koalisi tersebut.
“Timur Tengah akan menjadi wilayah yang bersatu, kuat, dan sangat makmur secara ekonomi,” ujar Trump.
Abraham Accords pertama kali dimediasi Amerika Serikat pada 2020 saat masa jabatan pertama Trump.
Kesepakatan itu membuka normalisasi hubungan diplomatik Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.
Perjanjian tersebut dinamai dari Nabi Ibrahim atau Abraham yang dihormati dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
Isi kesepakatan berfokus pada perdamaian, dialog, kerja sama perdagangan, sains, seni, hingga bidang kesehatan.
Pendukung Abraham Accords menilai perjanjian itu menjadi terobosan diplomatik penting di Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut juga membuka kerja sama ekonomi baru antara Israel dan negara-negara Arab, termasuk sektor pertanian dan teknologi.
Namun, kesepakatan itu juga menuai kritik.
Sejumlah pengamat menilai normalisasi hubungan dengan Israel justru mengurangi tekanan internasional terkait penyelesaian konflik Palestina-Israel.
Analis Timur Tengah Khaled Elgindy seperti dilansir dari DW, menyebut Abraham Accords telah melemahkan posisi tawar Palestina dalam konflik dengan Israel.
Menurutnya, langkah itu membuat isu pendirian negara Palestina tidak lagi menjadi syarat utama normalisasi hubungan.
Meski Trump optimistis, peluang negara baru bergabung dalam waktu dekat dinilai masih kecil.
Arab Saudi tetap menegaskan normalisasi hubungan dengan Israel harus disertai kemajuan nyata menuju pembentukan negara Palestina.
Qatar juga diperkirakan sulit bergabung karena selama ini memposisikan diri sebagai mediator netral di kawasan dan dikenal mendukung perjuangan Palestina.
Sementara Iran hampir dipastikan menolak, mengingat permusuhan terhadap Israel menjadi bagian penting dari kebijakan politik Teheran.