-
Militer AS menghancurkan empat drone dan satu stasiun kendali milik Iran di Bandar Abbas.
-
Presiden Donald Trump menolak draf kesepakatan damai maritim dan mengancam akan meledakkan Oman.
-
Konflik bersenjata ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga mencapai USD 90,38 per barel.
Suara.com - Eskalasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru terhadap operasi pesawat tanpa awak (drone) milik Iran.
Langkah agresif ini diambil hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak draf kesepakatan pemulihan jalur pelayaran di kawasan strategis tersebut.
Serangan ini menghancurkan empat drone tempur serta satu stasiun kendali darat di kota pelabuhan Bandar Abbas yang bersiap meluncurkan drone kelima.

Operasi militer ini menandai rapuhnya kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara yang baru berjalan sejak awal April lalu.
Seorang pejabat militer AS yang menolak disebutkan namanya menegaskan bahwa tindakan tersebut murni untuk mempertahankan diri.
"Tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata," ujarnya dikutip dari Reuters, Kamis (28/5/2026).
Saling Klaim di Jalur Maritim
Di sisi lain, pihak Teheran memberikan narasi yang berbeda terkait pemicu bentrokan bersenjata di koridor logistik global tersebut.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam Iran sempat melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal tanker minyak AS.

Militer Iran mengklaim tindakan tersebut terpaksa dilakukan karena kapal tanker AS mencoba menerobos wilayah Selat Hormuz tanpa izin.
Sebagai balasan, jet tempur Amerika Serikat kemudian membombardir lahan terbuka di sekitar Bandar Abbas yang diklaim Iran tidak menimbulkan korban jiwa.
Konfrontasi bersenjata di jalur kilang minyak dunia ini langsung memicu reaksi berantai pada sektor ekonomi global.
Harga minyak mentah dunia langsung merangkak naik mendekati angka 2 persen hingga menyentuh USD 90,38 per barel di pasar Asia.
Ancaman Keras Donald Trump
Ketegangan semakin meruncing setelah Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah laporan televisi negara Iran mengenai draf perjanjian damai.