Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'

Bangun Santoso

Minggu, 31 Mei 2026 | 12:57 WIB
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
Ilustrasi Politik (Unsplash/Jon Tyson)
  • Pengamat Ray Rangkuti menyatakan dinasti politik saat ini beradaptasi menggunakan metode yang lebih halus daripada era Orde Baru.
  • Ray menyoroti dominasi keluarga Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai posisi strategis di struktur pemerintahan dan lembaga keuangan negara.
  • Upaya memanipulasi definisi dinasti politik dianggap sebagai strategi untuk melegitimasi posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden saat ini.

Suara.com - Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai praktik dinasti politik dan nepotisme di era sekarang tidak benar-benar hilang, melainkan hanya mengalami adaptasi metode.

Ia menyebut para penguasa kini lebih "main cantik" dalam menempatkan anggota keluarga di posisi strategis guna menghindari kesan vulgar seperti era Orde Baru.

Merespons pandangan bahwa keluarga Presiden Prabowo Subianto tidak terlalu menonjol di dunia bisnis, Ray justru menyoroti dominasi keluarga tersebut di panggung politik.

Ia mengingatkan publik untuk melihat peran keponakan-keponakan Prabowo di struktur pemerintahan.

"Saya tidak tahu persis soal ekonominya, tapi soal politiknya berapa banyak keluarga Pak Prabowo yang masuk dalam dunia politik? Keponakannya, lihat Hasyim aja pegang berapa peranan banyak tuh ya," ujar Ray Rangkuti dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Minggu (31/5/2026).

Ia mencontohkan penempatan kerabat dekat dalam posisi penting di lembaga keuangan negara sebagai bukti bahwa pola tersebut tetap berjalan.

"Tapi di dunia politiknya ponakan Pak Prabowo berapa? Yang terakhir yang wakil bank gubernur BI kan itu juga ponakan Pak Prabowo," tambahnya.

Menurut Ray, perbedaan cara pandang masyarakat seringkali terjadi karena pola yang digunakan saat ini sudah beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Ia mengibaratkan hal ini dengan gaya permainan sepak bola yang dimodifikasi namun tetap bertujuan mencetak gol yang sama.

Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti (kanan). (Ist)
Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti (kanan). (Ist)

“Makanya jangan Anda lihat jumlahnya karena itu beradaptasi dengan zamannya beda ya. Isinya itu sama tapi permainannya sama, ccuman ya cara giring bolanya ya kan cara mencetak golnya itu bisa dimodifikasi gitu loh," jelasnya.

Lebih jauh, Ray memberikan kritik tajam terhadap fenomena terpilihnya Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, sebagai Wakil Presiden. Ia menilai ada upaya sistematis dari para pendukung untuk mengubah definisi "dinasti politik" demi melegitimasi posisi putra sulung mantan Presiden Jokowi tersebut.

"Gibran sebagai wapres. Lalu apa yang dilakukan? Diubah definisinya oleh mereka yang mendukung Gibran bahwa yang disebut dengan dinasti itu harus ditunjuk langsung. Tapi kalau melalui pemilu itu enggak disebut dengan dinasti. Anda tinggal ubah definisinya. Tapi kan perilakunya sama," tegasnya.

Bagi Ray, inti dari dinasti politik tetaplah sama, yakni keluarga penguasa yang ikut berkuasa di saat yang bersamaan.

Upaya mempersempit definisi dinasti hanya pada proses penunjukan langsung dianggap sebagai cara untuk mencuci tangan dari tanggung jawab moral.

"Apa perilaku yang sama? keluarga Anda berkuasa sejak sewaktu Anda sedang berkuasa juga, yang secara umum itulah yang disebut dengan dinasti politik. Lalu itu dipersempit oleh mereka yang dukung Gibran. ‘Ya, kalau dipilih langsung kan bukan bukan dinasti, gitu loh kira-kira," ungkap Ray. (Reporter: Tsabita Aulia)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ray Rangkuti Sentil Mentalitas '5D' DPR: Datang, Duduk, Duit, dan Jadi Jubir Pemerintah

Ray Rangkuti Sentil Mentalitas '5D' DPR: Datang, Duduk, Duit, dan Jadi Jubir Pemerintah

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:48 WIB

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:05 WIB

Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!

Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:38 WIB

Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil

Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 23:10 WIB

Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru

Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:13 WIB

Agenda Keliling Indonesia Jokowi, Pengamat Nilai Ada Target Politik 2029

Agenda Keliling Indonesia Jokowi, Pengamat Nilai Ada Target Politik 2029

Video | Jum'at, 29 Mei 2026 | 09:30 WIB

'Kartu Mati' MK untuk Parpol: Mengapa Keterwakilan 30 Persen Perempuan Kini Jadi Syarat Wajib?

'Kartu Mati' MK untuk Parpol: Mengapa Keterwakilan 30 Persen Perempuan Kini Jadi Syarat Wajib?

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 08:34 WIB

Terkini

Prabowo Diminta 'Pensiun' Keliling Dunia, Saatnya Oper Misi Diplomatik ke Menlu Sugiono

Prabowo Diminta 'Pensiun' Keliling Dunia, Saatnya Oper Misi Diplomatik ke Menlu Sugiono

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 13:15 WIB

Pakar Sebut Hakim PN Jakpus Bisa Kabulkan Gugatan LCC Empat Pilar MPR, Jadi Terapi Kejut

Pakar Sebut Hakim PN Jakpus Bisa Kabulkan Gugatan LCC Empat Pilar MPR, Jadi Terapi Kejut

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:53 WIB

KPK Didesak Segera Periksa Dirjen Bea Cukai Djaka Terkait Kasus Suap Blueray Cargo

KPK Didesak Segera Periksa Dirjen Bea Cukai Djaka Terkait Kasus Suap Blueray Cargo

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:53 WIB

Ray Rangkuti Sentil Mentalitas '5D' DPR: Datang, Duduk, Duit, dan Jadi Jubir Pemerintah

Ray Rangkuti Sentil Mentalitas '5D' DPR: Datang, Duduk, Duit, dan Jadi Jubir Pemerintah

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:48 WIB

Daftar Majelis Hakim PN Jakpus yang Bakal Adili Gugatan LCC MPR, Ada Sosok Ummi Kusuma Putri

Daftar Majelis Hakim PN Jakpus yang Bakal Adili Gugatan LCC MPR, Ada Sosok Ummi Kusuma Putri

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:27 WIB

Ketua MPR Ahmad Muzani Digugat ke PN Jakpus Buntut Kisruh LCC Empat Pilar

Ketua MPR Ahmad Muzani Digugat ke PN Jakpus Buntut Kisruh LCC Empat Pilar

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:07 WIB

Kunjungan Prabowo Dianggap Spontan, Seskab Teddy Diminta Tak Main Rahasia

Kunjungan Prabowo Dianggap Spontan, Seskab Teddy Diminta Tak Main Rahasia

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 12:01 WIB

Apa Itu Formula 1+8? Saran Diplomasi Dino Patti Djalal untuk Presiden Prabowo

Apa Itu Formula 1+8? Saran Diplomasi Dino Patti Djalal untuk Presiden Prabowo

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 11:50 WIB

Misteri Jalan 'Tak Penting' di Gunung Ciremai, Warga Cium Aroma Proyek Geothermal Senyap

Misteri Jalan 'Tak Penting' di Gunung Ciremai, Warga Cium Aroma Proyek Geothermal Senyap

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 11:43 WIB

MPR Digugat soal LCC Empat Pilar Kalbar, Sidang Digelar Selasa Pekan Depan

MPR Digugat soal LCC Empat Pilar Kalbar, Sidang Digelar Selasa Pekan Depan

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 11:39 WIB