- Politikus Guntur Romli mengkritik klaim Seskab Teddy terkait keberhasilan diplomasi luar negeri Presiden Prabowo dalam mendatangkan investasi.
- Guntur menyatakan mayoritas investasi berasal dari modal dalam negeri, bukan hasil diplomasi internasional seperti yang diklaim pemerintah.
- Guntur menilai angka Rp575 triliun dari Jepang dan Korea Selatan hanyalah komitmen investasi yang belum terealisasi secara nyata.
Suara.com - Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli menilai Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya memutarbalikam fakta, dalam penjelasannya mengenai total investasi berkat buah diplomasi Presiden Prabowo Subianto di luar negeri.
Sorotan tajam ini muncul setelah Seskab Teddy memberikan penjelasan publik mengenai capaian ekonomi di era pemerintahan saat ini yang diklaim sebagai hasil kerja keras diplomasi internasional sang presiden.
Sosortan terhadap pernyataan Seskab Teddy disampaikan Guntur Romli melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadi, @gunromli.
Suara.com telah mengonfirmasi untuk mengutip pernyataan Guntur yang kini ramai jadi sorotan.
"Lagi rame video Pak Seskab Teddy menjawab video Pak Dino Patti Djalal. Tapi ada poin dalam video Seskab Teddy yang dengan jelas memutarbalikkan fakta," ujar Guntur dalam videonya, dikutip Selasa (2/6/2026).
Pernyataan ini merujuk pada video klarifikasi yang dibuat oleh Teddy untuk menanggapi kritik dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait efektivitas kunjungan luar negeri presiden.
Guntur tidak mempersoalkan besaran nilai investasi yang disebut Teddy dalam paparannya.
Namun, yang menjadi persoalan fundamental bagi politikus PDIP tersebut adalah klaim Teddy yang menyebut total investasi tersebut merupakan hasil langsung dari diplomasi luar negeri yang dilakukan oleh Prabowo Subianto.
"Dia menyebut total investasi selama 1,5 tahun pemerintahan Prabowo sebesar 2.430 triliun. Sampai di sini Teddy benar. Tapi kemudian Teddy membanggakan investasi itu sebagai buah diplomasi luar negeri Presiden Prabowo. Nah, ini yang menyesatkan," kata Guntur.
Menurutnya, ada kerancuan data yang sengaja ditampilkan untuk membangun narasi kesuksesan diplomasi yang tidak
sesuai dengan realitas di lapangan.
Guntur menjelaskan mayoritas dari total invedtasi yang disebutkan Teddy justru berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 52,6% atau 1.279,1 triliun.
Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hanya 1.150,9 triliun atau 47,4% persen. Angka ini menunjukkan bahwa motor utama investasi nasional sebenarnya adalah pengusaha lokal, bukan investor asing yang terjaring melalui kunjungan kenegaraan.
"Bahkan sepanjang 2025, PMA hampir stagnan. Artinya, mayoritas uang yang benar-benar masuk adalah investor dalam negeri, bukan hasil kunjungan luar negeri Presiden Prabowo," kata Guntur.
Ia menekankan bahwa mengklaim hasil investasi dalam negeri sebagai prestasi diplomasi luar negeri adalah sebuah
kekeliruan logika data yang fatal dalam administrasi negara.
Mengenai investasi, Guntur mengatakan sebelumnya ia pernah membuat video perihal "Presiden Prabowo Gagal Menarik Investasi Asing dibanding dengan Masifnya Perjalanan ke Luar Negeri".