- Donald Trump menegur keras Benjamin Netanyahu karena eskalasi militer Israel di Lebanon mengancam upaya perdamaian Amerika Serikat dan Iran.
- Pemerintah Iran mulai memulihkan akses internet nasional yang sempat terputus total selama tiga bulan akibat situasi konflik perang.
- Iran mengaktifkan kembali produksi gas di ladang South Pars sebagai upaya pemulihan infrastruktur vital di tengah tekanan ekonomi internasional.
Suara.com - Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan sedang berada di titik nadir setelah sebuah percakapan telepon yang sangat panas terjadi antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan laporan dari Axios, Trump dikabarkan sangat geram hingga membentak Netanyahu karena aksi militer Israel yang terus melakukan eskalasi di Lebanon.
Trump menilai langkah nekat Israel tersebut telah merusak upaya negosiasi damai yang sedang dirintis antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam rekaman pembicaraan yang bocor, Trump bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan menyebut Netanyahu telah bertindak gila karena membahayakan stabilitas kawasan di saat kesepakatan diplomatik sedang diupayakan.
"Kamu gila? Kau akan dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” kata Trump.
Ketegangan ini muncul karena memo kesepakatan damai yang sedang digodok Washington dan Teheran secara eksplisit menuntut berakhirnya permusuhan di Lebanon.
Jika perang AS-Iran terus berlanjut, Iran mengancam tidak hanya akan meninggalkan meja perundingan, tetapi juga siap melakukan konfrontasi langsung.
Internet Iran Mulai Pulih
![Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/04/31622-ilustrasi-perang-as-iran.jpg)
Di tengah gejolak diplomatik tersebut, situasi internal Iran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski masih dalam kondisi rapuh.
Setelah mengalami pemutusan akses internet total selama kurang lebih tiga bulan sejak awal perang, otoritas Iran akhirnya mulai menyambungkan kembali akses internet ke publik.
Langkah ini mengakhiri masa kegelapan digital selama lebih dari 2.000 jam, yang tercatat sebagai pemadaman internet nasional terlama di dunia bagi negara dengan 90 juta penduduk.
Menurut Al Jazeera, meski sudah mulai berjalan, akses internet di Iran nyatanya belum benar-benar normal. Pemerintah setempat masih menerapkan pengawasan ketat dan memblokir jutaan halaman web serta aplikasi populer seperti Instagram, WhatsApp, dan YouTube.
Masyarakat pun harus berhadapan dengan koneksi yang lambat dan tidak stabil. Bahkan, muncul skema Internet Pro yang harganya tiga kali lipat lebih mahal hanya untuk mendapatkan akses yang sedikit lebih longgar, sebuah kebijakan yang memicu kritik tajam dari berbagai kalangan di Teheran.
Sektor Energi Mulai Jalan Lagi
Selain pulihnya akses komunikasi, sektor energi Iran juga mulai bangkit setelah sempat lumpuh akibat serangan udara.