- Polisi menetapkan mantan istri berinisial SJ dan eksekutor HW sebagai tersangka pembunuhan pengusaha Korea Selatan, Byong Chan Sang.
- Peristiwa pembunuhan berencana tersebut terjadi di kediaman korban, Kampung Buaran, Bekasi, pada hari Selasa, 26 Mei lalu.
- Tersangka melakukan aksi karena motif dendam, masalah harta, serta imbalan uang sebesar Rp139 juta akibat desakan ekonomi.
Suara.com - Aparat kepolisian mengungkapkan motif yang melatarbelakangi pelaku dalam kasus pembunuhan berencana warga negara asing asal Korea Selatan Byong Chan Sang (66), seorang pengusaha furnitur yang tinggal di Kampung Buaran, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Kepala Kepolisian Resor Metro Bekasi Komisaris Besar Polisi Sumarni menyatakan penyidik telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus pembunuhan berencana yang terjadi pada Selasa (26/5) tersebut, yakni SJ selaku mantan istri korban dan HW yang berperan sebagai eksekutor.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa motif SJ adalah rasa sakit hati, dendam, tekanan batin, dugaan kekerasan yang dilakukan korban selama hidup bersama serta keinginan untuk menguasai harta milik korban," ujar Sumarni dalam konferensi pers di Mapolres Metro Bekasi, Selasa (2/6/2026).
Dia menjelaskan, SJ mengaku kalau selama ini korban tidak memberikan nafkah kepada anak-anak mereka setelah perceraian.
Selain itu, masih terdapat persoalan terkait pembagian harta yang belum terselesaikan.
Dari hasil penyidikan, SJ kemudian merancang pembunuhan terhadap mantan suaminya dengan melibatkan HW, pria yang dikenal saat berolahraga di pusat kebugaran.
SJ menjanjikan imbalan sebesar Rp139 juta untuk menghabisi nyawa korban.
Polisi mengungkap pembunuhan tersebut bukan tindakan spontan.
Kedua tersangka beberapa kali bertemu untuk menyusun rencana pembunuhan, termasuk membahas cara pelaksanaan hingga pembayaran upah bagi eksekutor.
"Pembunuhan ini diawali perencanaan matang. Ada beberapa kali pertemuan antara SJ dan HW untuk membahas rencana tersebut," katanya sebagaimana dilansir Antara.
Sementara itu, HW mengaku menerima tawaran tersebut karena alasan ekonomi. HW menyatakan kondisi keuangan keluarganya sedang terpuruk sehingga tergiur dengan bayaran yang dijanjikan.
"Motif HW murni faktor ekonomi. Yang bersangkutan membutuhkan uang dan akhirnya menerima tawaran untuk melakukan pembunuhan," kata Sumarni.