- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik diplomat Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.
- Perdebatan muncul karena perbedaan latar belakang antara Teddy sebagai perwira militer dan Dino selaku diplomat senior berpengalaman.
- Saling lempar argumen tersebut memicu sorotan publik terhadap efektivitas kunjungan luar negeri Presiden dibandingkan dengan perspektif diplomatik nasional.
Suara.com - Ketegangan antara lingkaran Istana dengan pengamat luar negeri menuai sorotan publik. Hal ini bermula saat Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan respons menohok terhadap kritik diplomat senior Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dalam penjelasan yang disampaikan Teddy, melalui video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet, ia sempat menyentil masa jabatan Dino yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) yang dianggapnya singkat.
"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," ucap Teddy, dikutip pada (Rabu/3/6/2026).
Saling lempar argumen ini memicu publik membandingkan profil keduanya. Berikut adalah perbandingan rekam jejak karier antara Teddy Indra Wijaya dan Dino Patti Djalal:
Teddy Indra Wijaya: Prajurit Elite, Tangan Kanan Dua Presiden
Teddy Indra Wijaya, yang kini berpangkat Letnan Kolonel (Letkol), memiliki karier militer yang melesat cepat. Lulusan SMA Taruna Nusantara dan Akademi Militer (Akmil) 2011 ini merupakan prajurit infanteri dari satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Prestasi akademis militernya diakui secara internasional. Teddy merupakan salah satu perwira TNI yang berhasil meraih kualifikasi sebagai anggota Pasukan Elite US Army Ranger di Fort Benning, Amerika Serikat. Di sekolah wajib perwira infanteri AS tersebut, ia membawa pulang tiga penghargaan sekaligus.
Karier birokrasinya pun tak kalah mengkilap. Teddy memiliki kedekatan unik dengan dua pemimpin negara, ia menjabat sebagai asisten ajudan Presiden ke-7 Joko Widodo pada tahun 2016 hingga 2019, sebelum akhirnya menjadi ajudan setia Prabowo Subianto selama menjabat jadi Menteri Pertahanan.
Puncaknya, pada 21 Oktober 2024, ia dilantik menjadi Sekretaris Kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto berdasarkan keputusan Presiden nomor 143p/2024. Saat itu pengangkatannya pun banyak menuai pro dan kontra.
Setahun berlalu, tepatnya pada 25 Februari 2025, pangkat Teddy resmi dinaikkan menjadi Letnan Kolonel (Letkol).
Dino Patti Djalal: Darah Diplomat dan Intelektual LSE
Di sisi lain, Dino Patti Djalal adalah sosok yang lahir di dunia diplomasi. Putra dari diplomat senior Hasjim Djalal ini memiliki latar belakang pendidikan yang sangat kuat.
Dino mengantongi gelar Doktor (PhD) dari London School of Economics and Political Science (LSE), sebuah perguruan tinggi peringkat atas dunia untuk bidang ilmu sosial.
Dino bergabung dengan Kementerian Luar Negeri sejak 1987. Namanya mulai dikenal publik secara luas saat menjabat sebagai Juru Bicara Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bidang Luar Negeri selama enam tahun pada 2004–2010.
Kariernya mencapai puncak saat dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat pada 2010–2013, sebuah posisi yang krusial dalam peta geopolitik Indonesia.
Meskipun benar ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) selama kurang lebih tiga bulan pada akhir masa jabatan SBY, kontribusinya di dunia internasional terus berlanjut melalui Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang ia dirikan pada 2015, sebuah organisasi yang fokus meningkatkan literasi publik mengenai hubungan internasional, geopolitik, dan diplomasi.
Kiprah Dino dalam membedah isu global di tanah air tak pernah surut, baik melalui forum diskusi maupun publikasi kebijakan.
Ia dikenal vokal dalam memberikan perspektif strategis mengenai hubungan bilateral dengan negara-negara besar, perkembangan di ASEAN, hingga pergeseran geopolitik di zona Indo-Pasifik.
Perspektif Berbeda
Perdebatan antara Teddy dan Dino mencerminkan pertemuan dua perspektif berbeda. Teddy, dengan latar belakang militer dan operasionalnya, melihat kunjungan luar negeri Presiden Prabowo sebagai langkah strategis yang efisien.
Sementara Dino, dengan kacamata diplomat senior dan akademisnya, mengedepankan evaluasi kritis terhadap efektivitas dan dampak jangka panjang bagi kepentingan nasional. (Reporter: Tsabita Aulia)