- BMKG memprediksi wilayah DKI Jakarta akan mengalami cuaca lebih gerah pada September hingga Oktober 2026 mendatang.
- Kenaikan suhu udara tersebut dipicu oleh posisi matahari serta pengaruh fenomena El Niño di musim kemarau.
- Puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 yang mencakup 61,4 persen zona musim.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah DKI Jakarta akan mengalami kondisi cuaca yang semakin gerah pada September hingga Oktober 2026 seiring berlangsungnya musim kemarau dan mulai munculnya pengaruh fenomena El Niño.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan dampak El Niño di Jakarta pada dasarnya tidak berbeda dengan wilayah lain di Pulau Jawa. Saat ini, Jakarta Utara telah memasuki musim kemarau sejak Mei, sedangkan wilayah Jakarta Selatan mulai mengalaminya pada Juni.
"Biasanya DKI Jakarta itu akan terasa lebih sumuk atau gerah sekitar akhir September hingga Oktober karena posisi Matahari melintas di sekitar wilayah atas Pulau Jawa," kata Ardhasena dalam konferensi pers virtual mengenai Perkembangan Musim Kemarau 2026 di Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Menurut Ardhasena, karakteristik musim kemarau di Pulau Jawa umumnya ditandai oleh udara yang lebih kering pada Juli hingga Agustus akibat minimnya curah hujan dan menurunnya tingkat kelembapan udara.
Kondisi tersebut kemudian diikuti peningkatan suhu udara pada September hingga Oktober yang membuat cuaca terasa lebih panas dan gerah.
"Jadi itu merupakan karakteristik yang khas dari Pulau Jawa ketika puncak musim kemarau. Lalu temperaturnya akan naik di sekitar bulan September dan Oktober," ujarnya.
BMKG sebelumnya memprediksi fenomena El Niño mulai berkembang pada pertengahan 2026 dan berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
Meski demikian, BMKG belum merilis prediksi resmi musim hujan tahun ini. Proyeksi tersebut baru akan diumumkan pada Agustus mendatang.
Sementara itu, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus dan mencakup 429 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.
Wilayah yang lebih dahulu mencapai puncak kemarau pada Juli mencakup sekitar 12,6 persen zona musim yang tersebar di sebagian Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian barat.
Pada Agustus, kondisi kering diperkirakan meluas dan mendominasi Sumatra bagian tengah hingga selatan, Jawa Tengah sampai Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Maluku dan Papua.
Adapun puncak musim kemarau pada September diprediksi terjadi di sekitar 14,3 persen zona musim yang meliputi sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, serta sebagian wilayah Papua.
BMKG juga memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia mulai memasuki musim hujan pada Oktober. Wilayah tersebut terutama berada di bagian barat Indonesia, mulai dari sebagian Pulau Sumatra hingga wilayah Jambi dan Sumatra Selatan.