Pemerintah Diminta Tidak Perkeruh Ekonomi dengan Regulasi yang Membingungkan

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 10 Juni 2026 | 16:50 WIB
Pemerintah Diminta Tidak Perkeruh Ekonomi dengan Regulasi yang Membingungkan
Ilustrasi - Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU]
  • Dosen UGM Denni Puspa Purbasari meminta pemerintah menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini.
  • Kebijakan pemerintah yang tidak matang dan mendadak dinilai dapat menghambat aktivitas dunia usaha serta menurunkan penerimaan devisa negara.
  • Para akademisi UGM menegaskan pentingnya penyusunan regulasi yang terukur, transparan, serta berbasis masukan data untuk menghindari kepanikan pasar.

Suara.com - Dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Denni Puspa Purbasari, mengingatkan pemerintah agar tidak memperkeruh situasi ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Menurut dia, kondisi eksternal yang penuh tekanan seharusnya direspons dengan kebijakan yang hati-hati dan terukur, bukan justru melahirkan aturan-aturan baru yang membingungkan pelaku usaha maupun masyarakat.

Apalagi, tekanan ekonomi global saat ini datang dari banyak arah sekaligus. Mulai dari ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat, potensi kenaikan suku bunga Jepang, hingga risiko gejolak pasar keuangan dunia.

"Kalau situasi eksternalnya itu demikian, maka imperatif kita ini harus membuat situasi domestik itu kuat," kata Denni saat Bincang Pakar FEB UGM, Rabu (10/6/2026).

Ancaman terhadap perekonomian nasional bisa menjadi lebih serius ketika tekanan eksternal bertemu dengan kebijakan domestik yang tidak matang.

Denni menilai gejolak ekonomi yang awalnya belum terlalu akut bisa berubah menjadi tidak terkendali apabila pemerintah justru menambah ketidakpastian di dalam negeri.

"Sekali satu kejadian itu terjadi secara simultan bersamaan dengan depresiasi itu sendiri, sehingga meskipun depresiasinya itu tidak tergolong akut, tapi kalau kemudian ada faktor lain atau event lain yang itu kemudian berdampak negatif," ujarnya.

Ia mengkritik pola kebijakan pemerintah yang dinilai sering diumumkan secara mendadak tanpa kesiapan aturan teknis maupun konsultasi yang memadai dengan pemangku kepentingan. Kondisi tersebut tak jarang membuat dunia usaha memilih menahan aktivitas karena takut tersandung persoalan administratif dan regulasi.

"Jangan sampai regulasi banyak dikeluarkan, statement-nya mendahului dari barangnya, barangnya tidak bisa dicari di sumber situs pemerintah misalnya saja, terus kemudian dilakukannya kurang konsultasi terhadap para stakeholders, dan kemudian implementasinya tiba-tiba," tuturnya.

Menurut Denni, dampak dari kebijakan yang tidak matang bisa langsung terasa terhadap aktivitas ekspor nasional. Banyak produk ekspor Indonesia bersifat mudah rusak sehingga keterlambatan akibat aturan yang tidak jelas justru dapat menghambat masuknya devisa yang dibutuhkan untuk menopang nilai tukar rupiah.

"Ini membuat dunia usaha atau masyarakat juga yang sehari-hari melakukan aktivitasnya tiba-tiba tarik rem," imbuhnya.

Pemerintah diminta lebih disiplin mengikuti mekanisme penyusunan kebijakan yang benar, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sensitif. Kehati-hatian menjadi penting agar kebijakan pemerintah tidak malah memicu kepanikan baru di masyarakat maupun pasar.

"Jadi mengambil respons kebijakan pun harus kemudian melalui proses yang itu mengikutilah apa yang para ahli itu sudah sarankan," ujarnya.

Pengunjung berbelanja di salah satu ritel di Jakarta, Selasa (12/9/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Ilustrasi ekonomi - Pengunjung berbelanja di salah satu ritel di Jakarta, Selasa (12/9/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Senada, Ekonom UGM Evi Noor Afifah menilai pemerintah terlalu sering menggunakan faktor eksternal sebagai penjelasan utama atas tekanan ekonomi yang terjadi.

Padahal, menurut dia, sejumlah analisis menunjukkan persoalan internal seperti risiko fiskal dan belanja negara yang tidak efektif justru ikut memperburuk situasi.

"Jadi eksternal itu bukan yang utama, tapi yang utamanya adalah di internal sendiri," kata Evi.

Sementara itu, Ekonom UGM Wisnu Setiadi Nugroho menilai kritik keras dari kalangan akademisi belakangan muncul akibat adanya frustrasi terhadap pemerintah yang dianggap tidak lagi mau mendengar masukan berbasis data. Ia menyebut sebagian pengambil kebijakan justru terkesan mengabaikan realitas ekonomi yang sedang terjadi.

"Sekarang beneran bukan sekedar enggak diterima (saran dari ahli), tapi malah kita dinyinyir, malah kita dibilang itu adalah ekonom TikTok, segala macam," kata Wisnu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Usai Isu Reshuffle Menkeu, Purbaya Kini Janji Lakukan Penghematan Belanja Besar-besaran

Usai Isu Reshuffle Menkeu, Purbaya Kini Janji Lakukan Penghematan Belanja Besar-besaran

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:24 WIB

Ekonom Sayangkan Harga BBM Naik Terlalu Tinggi, Padahal Pemerintah Bisa Cegah Sejak Awal

Ekonom Sayangkan Harga BBM Naik Terlalu Tinggi, Padahal Pemerintah Bisa Cegah Sejak Awal

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:19 WIB

Ekonom Sentil Negara Sibuk Biayai Program Besar, Daya Beli Rakyat Dibiarkan Ambruk

Ekonom Sentil Negara Sibuk Biayai Program Besar, Daya Beli Rakyat Dibiarkan Ambruk

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:18 WIB

Dollar Meroket, Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Sentuh di Rp16.000-17.500 di 2027

Dollar Meroket, Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Sentuh di Rp16.000-17.500 di 2027

Video | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:03 WIB

5 Kritik Ferry Latuhihin: Rupiah Anjlok, Curigai Mati Listrik Massal Gegara 'Ekonomi'

5 Kritik Ferry Latuhihin: Rupiah Anjlok, Curigai Mati Listrik Massal Gegara 'Ekonomi'

Tekno | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:53 WIB

Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu

Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB

Harga Pertamax Melonjak, Pemerintah Sedang Rumuskan Stimulus bagi Masyarakat

Harga Pertamax Melonjak, Pemerintah Sedang Rumuskan Stimulus bagi Masyarakat

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:08 WIB

Indonesia-Singapura Umumkan Kerja sama Ekonomi, Dari Investasi hingga Rute Pesawat

Indonesia-Singapura Umumkan Kerja sama Ekonomi, Dari Investasi hingga Rute Pesawat

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:06 WIB

Kenaikan Pertamax Jadi Sinyal Pemerintah Mulai Realistis Kurangi Beban APBN

Kenaikan Pertamax Jadi Sinyal Pemerintah Mulai Realistis Kurangi Beban APBN

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:46 WIB

Efisiensi Anggaran tapi Gaji Tetap: Apakah Masyarakat Merasakan Manfaatnya?

Efisiensi Anggaran tapi Gaji Tetap: Apakah Masyarakat Merasakan Manfaatnya?

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:45 WIB

Terkini

Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan

Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:36 WIB

BTN JAKIM 2026 Hadirkan Race Expo di Balai Kartini dengan Promo Menarik dan Brand Ternama

BTN JAKIM 2026 Hadirkan Race Expo di Balai Kartini dengan Promo Menarik dan Brand Ternama

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:34 WIB

Pemerintah Persilakan Kejagung Usut Siapapun Terlibat Korupsi BGN, Tak Peduli Jabatannya

Pemerintah Persilakan Kejagung Usut Siapapun Terlibat Korupsi BGN, Tak Peduli Jabatannya

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:31 WIB

Uang Pengganti Membengkak Jadi Rp13,4 Triliun, Kerry Riza Tak Terima dan Ajukan Kasasi

Uang Pengganti Membengkak Jadi Rp13,4 Triliun, Kerry Riza Tak Terima dan Ajukan Kasasi

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:21 WIB

Wamendagri Wiyagus: Desa Berperan Penting Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Wamendagri Wiyagus: Desa Berperan Penting Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:05 WIB

Heboh Isu SDN di Ende Digusur Jadi Kopdes, Jenderal Maruli: Gak Normal kalau Membubarkan Sekolah

Heboh Isu SDN di Ende Digusur Jadi Kopdes, Jenderal Maruli: Gak Normal kalau Membubarkan Sekolah

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:55 WIB

Dilema Driver Ojol Pilih Mesin Motor Awet atau Kantong Jebol karena Harga Pertamax Naik

Dilema Driver Ojol Pilih Mesin Motor Awet atau Kantong Jebol karena Harga Pertamax Naik

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:42 WIB

Percepat Normalisasi Sungai, Satgas PRR Buka Peluang Kerja Sama dengan Pihak Ketiga

Percepat Normalisasi Sungai, Satgas PRR Buka Peluang Kerja Sama dengan Pihak Ketiga

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:36 WIB

Namanya Muncul dalam Kasus Korupsi BGN, Wakil Ketua KPK: Saya Tak Bisnis Dapur

Namanya Muncul dalam Kasus Korupsi BGN, Wakil Ketua KPK: Saya Tak Bisnis Dapur

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:27 WIB

Wamendagri Ribka Haluk: Pendidikan Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

Wamendagri Ribka Haluk: Pendidikan Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:24 WIB