Mengapa Krisis Iklim Tak Selesai Saat Dunia Capai Net-Zero Emission? Studi Ungkap Penjelasannya

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 11 Juni 2026 | 10:59 WIB
Mengapa Krisis Iklim Tak Selesai Saat Dunia Capai Net-Zero Emission? Studi Ungkap Penjelasannya
Potret Kekeringan Akibat Suhu Bumi yang Memanas (Pexels/ Pyae Phyo Aung )

Suara.com - Ketika membahas krisis iklim, target net-zero emission sering dipahami sebagai tujuan akhir: emisi turun, suhu Bumi berhenti naik, lalu kondisi perlahan kembali normal. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kenyataan yang tidak sesederhana itu.

Bahkan jika dunia berhasil menekan emisi karbon hingga mendekati nol, Bumi tidak akan langsung kembali menjadi lebih sejuk. Sistem iklim bekerja dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang daripada siklus kebijakan atau pergantian generasi.

Temuan ini berkaitan dengan konsep Antroposen—sebuah gagasan yang menggambarkan bagaimana aktivitas manusia telah menjadi kekuatan yang mengubah sistem fundamental Bumi.

Dalam studi We Are in the Anthropocene—Now What? yang dipublikasikan di jurnal Earth’s Future, para peneliti menjelaskan bahwa sebagian karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan manusia ke atmosfer tidak menghilang dalam hitungan tahun.

Sekitar 20 persen CO2 dapat bertahan selama berabad-abad, sementara sebagian lainnya baru benar-benar hilang setelah puluhan ribu tahun.

Karena itu, panas yang sudah terakumulasi di atmosfer dan lautan tetap akan memengaruhi iklim global meskipun emisi baru berhasil ditekan.

Mengapa Bumi tidak cepat pulih?

Ada anggapan bahwa iklim bekerja seperti saklar: ketika emisi berhenti, suhu otomatis turun. Padahal, sistem iklim lebih menyerupai kapal besar yang membutuhkan waktu lama untuk mengubah arah.

Lautan, misalnya, menyerap sebagian besar panas akibat pemanasan global. Panas yang tersimpan ini kemudian dilepaskan perlahan dan tetap memengaruhi suhu, pola cuaca, serta ekosistem selama waktu yang sangat panjang.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) juga menunjukkan bahwa beberapa perubahan memiliki karakter yang sulit dipulihkan dalam skala ratusan hingga ribuan tahun. Pemanasan laut dan pencairan lapisan es menjadi dua contoh utama.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, konsekuensinya tidak hanya berupa kenaikan suhu. Dampaknya dapat muncul dalam bentuk perubahan musim, ancaman banjir pesisir, gangguan produksi pangan, hingga meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

Tiga kemungkinan masa depan Antroposen

Meski terdengar suram, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa masa depan sudah ditentukan.

Para peneliti menggambarkan setidaknya tiga kemungkinan arah perkembangan Antroposen.

Pertama adalah Antroposen hijau atau terkelola. Dalam skenario ini, emisi ditekan secara cepat dan luas sehingga perubahan iklim masih bisa dibatasi dan masyarakat memiliki ruang untuk beradaptasi.

Kedua adalah Antroposen berbahaya, ketika pengurangan emisi berjalan lambat dan pemanasan terus bertambah sehingga risiko sosial, ekonomi, dan lingkungan meningkat.

Ketiga adalah Antroposen tidak terkendali—kondisi ketika perubahan iklim memicu umpan balik alami yang mempercepat pemanasan dan membuat sistem semakin sulit dikendalikan.

Peneliti menggambarkannya seperti “pasir hisap Antroposen”: semakin lama tindakan ditunda, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk keluar.

Net-zero bukan tujuan akhir
Temuan ini memberi pesan penting: target net-zero tetap krusial, tetapi tidak cukup dipahami sebagai tombol reset bagi planet.

Alih-alih menunggu kondisi kembali seperti semula, fokus kebijakan dan tindakan perlu bergeser pada dua hal sekaligus: mengurangi emisi secepat mungkin dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan yang sudah terjadi.

Transisi energi bersih, perlindungan hutan, pembangunan kota yang lebih tahan iklim, hingga perubahan pola konsumsi menjadi bagian dari strategi tersebut.

Karena dalam konteks krisis iklim, tindakan hari ini bukan hanya menentukan kondisi satu dekade ke depan—tetapi juga menentukan seperti apa dunia yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lawan Krisis Iklim, Pemuda Lereng Merapi Boyolali Sulap Peternakan Domba Jadi Nol Limbah

Lawan Krisis Iklim, Pemuda Lereng Merapi Boyolali Sulap Peternakan Domba Jadi Nol Limbah

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 19:50 WIB

Menyelamatkan Bumi Tanpa Menunggu Pahlawan: 'Less Waste' dari Diri Sendiri

Menyelamatkan Bumi Tanpa Menunggu Pahlawan: 'Less Waste' dari Diri Sendiri

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:08 WIB

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 22:10 WIB

Terkini

504 Kepala Daerah Korup Sejak 2005, Mengapa Dana Banpol Tak Mampu Memperbaiki Kualitas Politik?

504 Kepala Daerah Korup Sejak 2005, Mengapa Dana Banpol Tak Mampu Memperbaiki Kualitas Politik?

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:53 WIB

Menaker Serahkan Dokumen Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO, Wujudkan Pesan Presiden Prabowo

Menaker Serahkan Dokumen Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO, Wujudkan Pesan Presiden Prabowo

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:51 WIB

Malam Hari, Bupati Muara Enim Nonaktif Edison Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap BPK

Malam Hari, Bupati Muara Enim Nonaktif Edison Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap BPK

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:49 WIB

Kejagung Rampungkan Penggeledahan di Enam Lokasi Terkait Kasus Dugaan Korupsi MBG

Kejagung Rampungkan Penggeledahan di Enam Lokasi Terkait Kasus Dugaan Korupsi MBG

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:38 WIB

Hadiri Perayaan Ulang Tahun Raja Charles III, Mendagri Tito Apresiasi Kemitraan Indonesia - Inggris

Hadiri Perayaan Ulang Tahun Raja Charles III, Mendagri Tito Apresiasi Kemitraan Indonesia - Inggris

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:29 WIB

62 Dapur MBG di Kabupaten Tangerang Berhenti Beroperasi Sementara, Tunggu Pencairan Anggaran

62 Dapur MBG di Kabupaten Tangerang Berhenti Beroperasi Sementara, Tunggu Pencairan Anggaran

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:44 WIB

Amerika Makin Boncos! Giliran Aset Tentara AS di Bahrain dan Kuwait Kena Rudal Iran

Amerika Makin Boncos! Giliran Aset Tentara AS di Bahrain dan Kuwait Kena Rudal Iran

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:36 WIB

DPRD DKI Minta RDF Rorotan dan Bantargebang Dioptimalkan Jelang Larangan Open Dumping

DPRD DKI Minta RDF Rorotan dan Bantargebang Dioptimalkan Jelang Larangan Open Dumping

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:50 WIB

Dimulai! Penyidikan Kasus Penyiksaan Menteri Israel Ben Gvir ke Aktivis Gaza

Dimulai! Penyidikan Kasus Penyiksaan Menteri Israel Ben Gvir ke Aktivis Gaza

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:43 WIB

Mira Hayati Lunasi Denda Rp 1 Miliar dalam Kasus Kosmetik Bermerkuri

Mira Hayati Lunasi Denda Rp 1 Miliar dalam Kasus Kosmetik Bermerkuri

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:04 WIB