- Pemerintah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian damai serta rencana pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
- Pemerintah China menyambut baik kesepakatan tersebut dan mengapresiasi upaya mediasi Pakistan dalam proses perdamaian di kawasan Timur Tengah.
- Penandatanganan resmi perjanjian damai antara kedua negara tersebut dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Suara.com - Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan damai yang dicapai Amerika Serikat dan Iran, termasuk rencana pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan terdampak konflik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut Beijing menyambut baik tercapainya kesepakatan tahap pertama antara Washington dan Teheran serta mengapresiasi peran Pakistan sebagai mediator dalam proses tersebut.
"China menyambut baik kesepakatan antara AS dan Iran yang sama-sama sepakat untuk mendatangani dokumen nota kesepahaman tahap pertama. Kami juga mengapresiasi upaya mediasi Pakistan," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (16/6/2026).

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah rampung. Ia juga menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah blokade yang dilakukan Angkatan Laut AS dicabut.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!" tulis Trump melalui Truth Social.
"Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, dan pada saat yang sama mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat," lanjutnya.
Meski demikian, Trump belum mengungkap secara rinci isi kesepakatan maupun mekanisme pelaksanaannya.
Menanggapi perkembangan tersebut, China berharap seluruh pihak dapat menjalankan komitmen yang telah disepakati dan mengedepankan penyelesaian damai melalui jalur diplomasi.
"Kami berharap dokumen tersebut akan ditandatangani sesuai dengan jadwal yang disepakati dan semua pihak terkait akan tetap berkomitmen pada solusi damai dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi," ujar Lin Jian.
China juga menyatakan siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memulihkan stabilitas di kawasan Timur Tengah dan Teluk.
Menurut Lin Jian, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi langkah penting karena jalur tersebut memiliki peran strategis bagi perdagangan energi global.
"Kami juga mencatat bahwa dalam teks nota kesepahaman tahap pertama negosiasi antara Iran dan AS pun mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Kami berharap selat tersebut akan kembali aman untuk lalu lintas bebas dalam waktu dekat," katanya.
Meski mendukung penuh kesepakatan tersebut, Lin Jian tidak menjelaskan apakah China terlibat langsung dalam proses perundingan antara AS dan Iran.
Ia menegaskan bahwa sejak konflik pecah, China terus mendorong upaya perdamaian berdasarkan gagasan yang diajukan Presiden Xi Jinping terkait keamanan dan stabilitas di Timur Tengah.
"Sejak pecahnya konflik, China telah bekerja tanpa lelah untuk mengakhiri perang dan mewujudkan perdamaian. Presiden Xi Jinping mengajukan empat usulan tentang keamanan dan peningkatan perdamaian maupun stabilitas di Timur Tengah," ujar Lin Jian.
Menurutnya, usulan tersebut telah mendapat dukungan luas dari negara-negara kawasan dan komunitas internasional.
"Dengan berpedoman pada semangat usulan tersebut dan menjunjung tinggi keadilan, China, sebagai negara besar yang bertanggung jawab, akan terus memberikan kontribusi untuk mewujudkan perdamaian abadi di Timur Tengah," tambahnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan penandatanganan resmi kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup penghentian operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon, yang mulai berlaku pada Senin malam.
Selain itu, Iran juga akan kembali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dengan tidak memproduksi senjata nuklir.
Meski demikian, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menegaskan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran tidak mengikat bagi Israel.
(Antara)