PBB: Hampir 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel Sejak Oktober 2025

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:33 WIB
PBB: Hampir 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel Sejak Oktober 2025
Pengungsi Palestina mengumpulkan makanan yang disumbangkan oleh sebuah badan amal untuk berbuka puasa di Rafah, Jalur Gaza Selatan, Senin (11/3/2024). [AFP]
  • PBB melaporkan hampir 1.000 warga Palestina tewas akibat serangan Israel pasca-gencatan senjata Oktober.

  • Blokade bantuan kemanusiaan dan perampasan tanah di Tepi Barat memperparah krisis kemanusiaan.

  • Volker Türk menegaskan rencana pengusiran warga dan penghapusan negara Palestina adalah ilegal.

Suara.com - Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, membongkar eskalasi kekerasan sistematis oleh militer Israel yang telah menewaskan hampir 1.000 warga Palestina. Korban jiwa tersebut terus berjatuhan dalam kurun waktu yang sangat singkat sejak pengumuman gencatan senjata pada Oktober lalu.

Mayoritas korban yang kehilangan nyawa dalam serangan tanpa henti tersebut merupakan masyarakat sipil yang tidak bersenjata. Tragedi ini memperpanjang daftar hitam pelanggaran kemanusiaan berat yang terjadi di wilayah pendudukan.

PBB melihat adanya pola pengusiran paksa yang membuat ruang hidup warga setempat menjadi semakin terjepit. Kondisi tersebut diperparah oleh aksi pemblokiran logistik yang membuat bantuan internasional mustahil masuk.

Warga Palestina mengungsi dengan berjalan kaki saat mereka melarikan diri dari bagian utara Gaza, di tengah operasi militer Israel, di Jabalia di Jalur Gaza utara pada tanggal 4 Desember 2024. (Foto arsip: Reuters)
Warga Palestina mengungsi dengan berjalan kaki saat mereka melarikan diri dari bagian utara Gaza, di tengah operasi militer Israel, di Jabalia di Jalur Gaza utara pada tanggal 4 Desember 2024. (Foto arsip: Reuters)

Otoritas pengawas internasional mendeteksi strategi terstruktur untuk mengusir penduduk asli secara perlahan dari tanah kelahiran mereka. Pengetatan wilayah memaksa jutaan orang bertahan hidup di area yang sangat sempit dan tidak layak.

Kebijakan pembatasan pasokan pangan dan obat-obatan kini menjadi senjata sekunder untuk menekan ketahanan masyarakat Gaza. Blokade ini memicu bencana kelaparan massal yang menyasar kelompok rentan seperti anak-anak.

Kondisi di luar jalur pertempuran utama juga menunjukkan situasi yang sama mengkhawatirkannya bagi kemanusiaan. Aparat keamanan dan kelompok pemukim ilegal di Tepi Barat dilaporkan bergerak agresif merampas wilayah lokal.

Aksi aneksasi sepihak ini secara efektif mempercepat lenyapnya komunitas-komunitas asli masyarakat Arab di sana. Penghancuran infrastruktur sipil berjalan beriringan dengan operasi penangkapan massal tanpa proses hukum.

Catatan terkini menunjukkan operasi brutal tersebut telah merenggut 57 nyawa dan melukai hampir 1.300 orang lainnya. Ratusan penduduk kini mendekam di tahanan tanpa kejelasan status hukum yang transparan.

Pihak berwenang setempat bahkan telah menerbitkan 23 perintah penyitaan tanah baru untuk memperluas pemukiman ilegal. Langkah sepihak ini memicu kecaman keras dari berbagai lembaga pemantau perdamaian dunia.

Volker Türk menegaskan bahwa manuver politik dan militer yang dilancarkan negara tersebut melanggar batasan hukum global. Ambisi untuk melenyapkan kedaulatan wilayah lain kini disuarakan tanpa ragu oleh elite pemerintahan.

"Sejumlah pejabat senior Israel terang-terangan berbicara soal pengusiran seluruh warga Palestina dari Gaza, dan penghapusan kemungkinan berdirinya negara Palestina yang layak. Semua ini sepenuhnya ilegal," kata Türk dikutip dari WAFA, Selasa (16/6/2026).

Pernyataan dari pejabat tinggi tersebut mempertegas adanya niat politik untuk menghapus eksistensi sebuah bangsa. Dunia internasional kini dituntut mengambil tindakan nyata yang melampaui sekadar retorika kecaman.

Konflik bersenjata ini kembali meletus setelah pengumuman gencatan senjata formal pada bulan Oktober lalu gagal meredakan ketegangan. Alih-alih damai, intensitas serangan udara dan operasi darat justru mengalami peningkatan yang sangat drastis.

Krisis kemanusiaan ini berakar dari pendudukan wilayah jangka panjang yang terus mengabaikan resolusi perdamaian PBB. Ketidakmampuan lembaga internasional menghentikan aneksasi membuat solusi 2 negara kini berada di ambang kehancuran total.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menlu Abbas Araghchi: Kesepakatan Damai AS - Iran Satu Paket dengan Israel - Lebanon

Menlu Abbas Araghchi: Kesepakatan Damai AS - Iran Satu Paket dengan Israel - Lebanon

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 16:22 WIB

Iran Tegaskan Israel Terikat Kesepakatan Damai dengan AS, Soroti Penarikan Pasukan dari Lebanon

Iran Tegaskan Israel Terikat Kesepakatan Damai dengan AS, Soroti Penarikan Pasukan dari Lebanon

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 16:13 WIB

Dari Poster Ali Khamenei hinga Bendera Palestina Berkibar di Laga Iran vs Selandia Baru

Dari Poster Ali Khamenei hinga Bendera Palestina Berkibar di Laga Iran vs Selandia Baru

Bola | Selasa, 16 Juni 2026 | 11:36 WIB

Terkini

Klaim Rupiah Menguat dan MBG Sudah Dievaluasi, BMPAN: Tuntutan Mahasiswa Sudah Direspons

Klaim Rupiah Menguat dan MBG Sudah Dievaluasi, BMPAN: Tuntutan Mahasiswa Sudah Direspons

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:07 WIB

Ditanya Soal Aliran Uang ke Eks Menag Yaqut, Dirut Maktour: Saya Tak Berani...

Ditanya Soal Aliran Uang ke Eks Menag Yaqut, Dirut Maktour: Saya Tak Berani...

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:00 WIB

Curhat Korban Hanania Travel di DPR: Banyak Orang Tua Jatuh Sakit karena Gagal Berangkat Umrah

Curhat Korban Hanania Travel di DPR: Banyak Orang Tua Jatuh Sakit karena Gagal Berangkat Umrah

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:52 WIB

Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan

Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:32 WIB

Dua Kubu Massa Berhadapan di Patung Kuda, Saling Adu Argumen soal Program MBG

Dua Kubu Massa Berhadapan di Patung Kuda, Saling Adu Argumen soal Program MBG

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:21 WIB

Korban Travel Haji Hanania Group Diperkirakan Tembus 3.000 Orang, Kerugian Capai Rp 95 Miliar

Korban Travel Haji Hanania Group Diperkirakan Tembus 3.000 Orang, Kerugian Capai Rp 95 Miliar

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:13 WIB

Diperiksa KPK 7 Jam! Bos Maktour Fuad Hasan Cuma Ketawa Ditanya Soal Illegal Gain Rp27,8 M

Diperiksa KPK 7 Jam! Bos Maktour Fuad Hasan Cuma Ketawa Ditanya Soal Illegal Gain Rp27,8 M

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:56 WIB

Bos Maktour Bantah Ada Transaksi untuk Dapat Kuota Haji Tambahan

Bos Maktour Bantah Ada Transaksi untuk Dapat Kuota Haji Tambahan

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:46 WIB

Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG

Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:40 WIB

Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi

Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:39 WIB