- Fenomena Jakarta Core merupakan tren konten sinematik di media sosial yang menampilkan sisi estetis kota Jakarta.
- Generasi Z menciptakan konten visual tersebut sebagai mekanisme pertahanan psikologis dalam menghadapi kerasnya realitas kehidupan urban.
- Romantisasi ruang publik ini dipengaruhi oleh perbaikan infrastruktur kota serta dorongan algoritma platform media sosial digital.
Suara.com - Pernahkah kamu melihat video seseorang berjalan santai di trotoar Sudirman yang lebar, dengan pantulan lampu gedung pencakar langit di aspal yang masih basah sehabis hujan? Atau konten senja yang dipotong siluet gedung-gedung di kawasan SCBD, diambil dari balik jendela kafe di lantai atas?
Itulah Jakarta Core. Dalam beberapa bulan terakhir, konten-konten semacam itu membanjiri beranda media sosial, terutama di TikTok dan Instagram.
Namun, Jakarta Core bukan sekadar tren visual. Ia adalah gejala psikologis dari sebuah generasi yang sedang berdamai dengan kota yang selama ini mereka keluhkan.
Dari "Macet Mulu" ke "Sinematik Banget"
Selama puluhan tahun, Jakarta identik dengan citra yang keras: kemacetan yang membuang waktu, polusi yang bikin sesak, dan banjir yang datang setiap musim. Narasi dominan tentang Jakarta adalah kota yang harus ditahan, bukan dinikmati.
Namun, sesuatu bergeser.
Generasi Z (Gen Z), mereka yang lahir di era smartphone dan tumbuh bersama estetika visual media sosial, mulai memandang Jakarta dengan cara yang berbeda. Mereka tidak mengingkari masalah kotanya, tetapi menemukan sudut-sudut yang selama ini luput dari perhatian: lekukan arsitektur kolonial di kawasan Kota Tua, gradasi langit sore di atas jalur MRT, atau cahaya neon minimarket yang memantul di genangan hujan di gang sempit.
Fandi, seorang Gen Z yang bekerja di Jakarta, menggambarkan pengalaman itu dengan caranya sendiri. "Saya suka mencari sisi lain di tengah hiruk pikuk kesibukan kota Jakarta," ujarnya. "Pergerakan pekerja yang dinamis, transportasi umum yang semakin berkembang, gejolak warga pinggiran kota bikin saya merasa lebih hidup saat bekerja di Jakarta," lanjut dia.
Jakarta, dalam bingkai kamera smartphone mereka, tiba-tiba terasa begitu sinematik.
Psikologi di Balik Romantisasi
![Suasana sepi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (31/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/31/40402-jakarta-sepi-jalanan-jakarta-sepi-ilustrasi-jakarta-sepi.jpg)
Ada beberapa lapisan psikologis yang bisa menjelaskan fenomena ini.
Pertama, kebutuhan untuk menemukan makna di tengah tekanan. Jakarta adalah kota dengan tekanan hidup yang tinggi. Biaya hidup melonjak, persaingan kerja ketat, dan mobilitas menyita energi.
Dalam kondisi seperti ini, manusia secara naluriah mencari cara untuk bertahan secara emosional, salah satunya dengan menemukan keindahan dalam hal-hal kecil di sekitarnya. Meromantisasi kota menjadi mekanisme bertahan. Bukan untuk menyangkal realitas, melainkan memilih untuk juga melihat sisi yang layak dicintai.
Sosiolog Andreas Budi Widyanta membaca fenomena ini secara kritis. Menurutnya, romantisasi Jakarta bukanlah bukti bahwa kota ini sudah nyaman dihuni, melainkan justru sebaliknya, sebuah respons aktif warga digital terhadap realitas urban yang keras. "Fenomena itu bukan karena Jakarta sudah benar-benar nyaman, melainkan sebuah pelarian estetis dari realitas yang membuat anak-anak muda stres," tegasnya.
Kedua, identitas kosmopolitan yang ingin diklaim. Media sosial adalah panggung presentasi diri. Ketika seseorang mengunggah video berjalan di trotoar lebar Sudirman dengan outfit rapi dan earphone terpasang, ia sedang mengomunikasikan sesuatu kepada dunia: aku adalah bagian dari kota yang modern dan hidup. Jakarta Core memberi anak muda kosakata visual baru untuk mengekspresikan identitas urban mereka.
Ketiga, efek kontras generasional. Generasi sebelumnya memiliki kenangan tentang Jakarta sebagai kota yang belum berbenah. Gen Z tumbuh di era ketika MRT sudah beroperasi, trotoar di sejumlah kawasan sudah diperlebar dan dipercantik, serta ruang publik seperti Dukuh Atas mulai ditata.
Bagi mereka, ini adalah baseline baru. Dari baseline itulah estetika Jakarta Core lahir. Hal ini pula yang dirasakan Fandi, yang menyebut perkembangan transportasi umum sebagai salah satu alasan ia bisa menikmati ritme kota dengan cara yang berbeda.