- Riyan Hidayat, anggota DPRD Banten yang berasal dari latar belakang sederhana, kini mencalonkan diri sebagai Ketua Umum BM PAN.
- Perjalanan kepemimpinan Riyan ditempa melalui pendidikan pesantren, aktivisme organisasi mahasiswa, serta berbagai pengalaman profesional dan dunia kewirausahaan.
- Setelah meniti karier dari tingkat akar rumput, Riyan kini siap maju dalam bursa kepemimpinan nasional BM PAN periode 2026–2031.
Suara.com - Kepemimpinan tak lahir dari panggung megah, kata itu mungkin pantas untuk menggambarkan perjalanan panjang anggota DPR Provinsi Banten, Riyan Hidayat yang tengah andil dalam bursa kepemimpinan Barisan Muda Penegak Amanat Nasional atau BM PAN.
Lahir dan tumbuh di permukiman yang dekat dengan hamparan kebun kopi perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatra Selatan, perjalanan pendidikan dan aktivitas oraganisasi, kepemimpinan dan pengabdian Riyan Hidayat megantarkannya ke panggung kepemimpinan nasional.
Riyan Hidayat berasal dari keluarga sederhana. Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Kehidupan yang serba terbatas justru membentuk karakter kemandirian dan daya juang kuat sejak usia dini.
Sejak kecil, Riyan telah akrab dengan kehidupan perantauan. Pendidikan sekolah dasarnya dimulai di wilayah pinggiran Kabupaten OKU Selatan. Saat itu, ia harus berjalan kaki melewati jalan setapak dan kawasan hutan untuk mengenyam pendidikan.
Selang satu tahun, ia mengikuti perpindahan keluarganya ke Pekanbaru, Riau. Riyan beberapa kali berpindah sekolah dasar hingga akhirnya menamatkan pendidikan SD di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan MTs dan MA di Pondok Pesantren Darussalam Lampung. Ia juga menjalani program Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) di pondok tersebut. Masa pesantren menjadi periode penting pembentukan karakter kepemimpinan dan pengabdiannya.
Tak hanya aktif di akademik dan keagamaan, Riyan juga terlibat dalam berbagai organisasi santri. Ia sempat dipercaya menjadi Ketua Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Darussalam.
Usai lulus dari pesantren, Riyan lebih dahulu menjalani masa pengabdian sebagai ustaz dan guru di pesantren selama satu tahun. Pilihan tersebut menjadi bentuk tanggung jawab moral atas pendidikan yang diterima sekaligus menegaskan komitmennya terhadap dunia pendidikan dan pembinaan generasi muda.
Pada 2013, Riyan menjalani pendidikan di Jurusan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lingkungan kampus memperluas cakrawala berpikirnya terhadap isu-isu kebangsaan, filsafat, demokrasi, dan gerakan sosial mahasiswa.
Masa kuliahnya tak mudah, untuk menopang kebutuhan hidup dan pendidikan, ia bekerja paruh waktu di sejumlah perusahaan perbankan swasta sebagai direct sales marketing.
Di waktu yang sama, ia juga menjadi guru mengaji privat dari rumah ke rumah. Semangat kewirausahaan mendorongnya merintis berbagai usaha. Seperti, bisnis percetakan, konveksi, penjualan sandal dan sepatu, hingga menjadi pemasok bahan baku makanan dan sayuran.
Beragam pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya mengenai dunia usaha, ekonomi rakyat, dan tantangan yang dihadapi pelaku UMKM.
Dalam dunia organisasi, Riyan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi itu menjadi salah satu ruang kaderisasi penting dalam perjalanan kepemimpinannya.
Ia dipercaya mengemban berbagai amanah strategis hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Mahasiswa UIN Jakarta. Riyan juga pernah menjabat sebagai Ketua DPP KNPI, Wakil Ketua Kadin Kabupaten Tangerang.
Ia juga sempat menjabat Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, organisasi yang dipimpin oleh Bursah Zarnubi, salah satu tokoh aktivis nasional yang kini menjabat sebagai Bupati Lahat dan Ketua Umum APKASI.