Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!

Muhamad Yasir

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:17 WIB
Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!
Tim Hukum Advokasi untuk Konservasi Berkeadilan, Muhammad Arman (memegang mic), melihat UU itu tidak bisa menjawab keadilan bagi masyarakat adat di dalam atau sekitar wilayah konservasi, dalam jumpa dengan media di Jakarta (8/7/2026).
baca 10 detik
  • Koalisi Masyarakat Sipil mengajukan uji materi UU KSDAE ke Mahkamah Konstitusi.
  • Koalisi menilai pasal-pasal dalam UU tersebut berpotensi mengkriminalisasi masyarakat adat dan mencabut hak atas tanah mereka.
  • Pihak pemohon meminta pembatalan pasal krusial serta penafsiran ulang konstitusional untuk melindungi hak kedaulatan masyarakat adat.

Suara.com - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Konservasi Berkeadilan mengajukan uji materi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE) ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Mereka menilai beleid tersebut justru membuka ruang kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang hidup di dalam maupun sekitar kawasan konservasi.

Tim Hukum Advokasi untuk Konservasi Berkeadilan, Muhammad Arman, mengatakan koalisi meminta MK membatalkan Pasal 1 angka 16 UU KSDAE karena dinilai bertentangan dengan hak konstitusional masyarakat adat.

"Karena ketentuan Pasal 1 angka 16 ini itu juga mesti dibaca beririsan dengan ketentuan Pasal 9 berkaitan dengan pemidanaan. Salah satu bagian mendasar adalah kalau masyarakat adat atau rakyat umum, petani, nelayan, tidak mau melaksanakan ketentuan preservasi itu, maka hak atas tanahnya itu bisa dicabut dan bisa dikriminalisasi," kata Arman di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Dalam UU tersebut, areal preservasi didefinisikan sebagai kawasan di luar suaka alam, kawasan pelestarian alam, maupun kawasan konservasi perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang dipertahankan kondisi ekologisnya untuk menopang fungsi penyangga kehidupan dan kelangsungan sumber daya alam hayati.

Selain meminta pembatalan Pasal 1 angka 16, koalisi juga meminta MK memberikan penafsiran konstitusional terhadap Pasal 19, Pasal 33, dan Pasal 37 UU KSDAE agar selaras dengan hak-hak masyarakat adat.

Menurut mereka, konsep preservasi dalam UU tersebut bertentangan dengan konstitusi karena mengabaikan keberadaan masyarakat adat. Koalisi juga meminta MK mengeluarkan putusan provisi atau penundaan pelaksanaan aturan-aturan turunan UU KSDAE hingga perkara diputus.

Arman mengingatkan Putusan MK Nomor 35 Tahun 2012 telah menegaskan bahwa hutan adat bukan lagi merupakan hutan negara. Namun, menurutnya, UU KSDAE justru kembali menempatkan masyarakat adat dalam posisi rentan.

Koalisi menilai lahirnya UU KSDAE berpotensi menjadi alat represi terhadap masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan hutan.

baca juga
Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolingi (memegang mic), menilai UU itu sama sekali tidak mengakui kedaulatan atas tanah masyarakat tanah adat, dalam jumpa dengan media di Jakarta (8/7/2026). [Suara.com/Cornelius Juan Prawira]
Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolingi (memegang mic), menilai UU itu sama sekali tidak mengakui kedaulatan atas tanah masyarakat tanah adat, dalam jumpa dengan media di Jakarta (8/7/2026). [Suara.com/Cornelius Juan Prawira]

Tak Akui Kedaulatan Masyarakat Adat

Sementara Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolingi, menilai UU KSDAE sama sekali tidak mengakui kedaulatan masyarakat adat atas tanah dan wilayah kelolanya.

Menurut Rukka, pendekatan konservasi dalam UU tersebut masih bersifat sentralistik dan mengabaikan sistem pengetahuan serta praktik konservasi yang telah dijalankan masyarakat adat selama turun-temurun.

"Karena konservasi, hewan lebih dihargai daripada masyarakat adat. Masyarakat tidak diperhatikan," ujarnya.

Rukka, yang pernah menjadi saksi pembakaran rumah dan pemenjaraan masyarakat adat Semende Banding Agung pada 2013, menegaskan bahwa konservasi sejatinya tidak dapat dipisahkan dari budaya, hukum adat, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat adat.

"Tidak mungkin ada orang yang mau menghancurkan rumahnya," katanya.

Ia juga mengutip laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menyebut masyarakat adat mengelola sekitar 25 persen wilayah bumi yang menyimpan 80 persen keanekaragaman hayati yang tersisa.

Laporan tersebut menunjukkan laju penurunan keanekaragaman hayati cenderung lebih rendah di wilayah yang dikelola masyarakat adat dan komunitas lokal.

Pandangan serupa disampaikan perwakilan masyarakat adat Tamblingan, Bali, I Putu Ardana. Menurutnya, paradigma konservasi yang diterapkan pemerintah masih bercorak kolonial karena memisahkan kawasan hutan dari masyarakat yang selama ini menjaganya.

"Diberi benteng. Tidak boleh ada interaksi dengan komunitas sekitar. Masyarakat adat lebih kompatibel dan komprehensif (dalam menjaga alam sekitar)," ujarnya.

Putu menjelaskan masyarakat adat Bali mengenal filosofi Nyegara Gunung, yang memandang bentang alam dari gunung hingga laut sebagai satu kesatuan dengan manusia di dalamnya.

Filosofi tersebut diwujudkan melalui sistem yang ia sebut sebagai ecosocius spiritual system, di mana alam, kehidupan sosial, dan nilai spiritual berjalan berdampingan.

"Dengan UU Konservasi ini, negara justru merusak. Jadi dalih untuk melakukan kegiatan ekstraktif," pungkasnya.

Reporter: Cornelius Juan Prawira

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mahfud MD Sentil Fenomena UU 'Simsalabim', Komisi II DPR Langsung Buka Suara

Mahfud MD Sentil Fenomena UU 'Simsalabim', Komisi II DPR Langsung Buka Suara

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 14:49 WIB

Putusan MK Final, Pilkada Tetap Langsung! PKB: Jangan Debat Lagi, Saatnya Tekan Biaya Politik

Putusan MK Final, Pilkada Tetap Langsung! PKB: Jangan Debat Lagi, Saatnya Tekan Biaya Politik

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 10:50 WIB

Menkum: Pakai Karya Jurnalistik untuk Tujuan Komersil Wajib Bayar Royalti ke Pemegang Hak Cipta!

Menkum: Pakai Karya Jurnalistik untuk Tujuan Komersil Wajib Bayar Royalti ke Pemegang Hak Cipta!

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:20 WIB

Terkini

Kucing Merah di Ujung Tanduk: Hutan Kalimantan Terus Kehilangan Penghuninya

Kucing Merah di Ujung Tanduk: Hutan Kalimantan Terus Kehilangan Penghuninya

Your Say | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:40 WIB

Mata Uang Iran Ambruk, Tembus 2 Juta Rial per Dolar AS

Mata Uang Iran Ambruk, Tembus 2 Juta Rial per Dolar AS

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:33 WIB

Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?

Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?

Sumsel | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:31 WIB

Bukan Cuma Penonton, Gus Yahya Ingin NU Jadi 'Active Player' di Isu Strategis Global

Bukan Cuma Penonton, Gus Yahya Ingin NU Jadi 'Active Player' di Isu Strategis Global

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:28 WIB

Empat Hari, ISPA Capai 453 Kasus di Tengah Kabut Asap Riau

Empat Hari, ISPA Capai 453 Kasus di Tengah Kabut Asap Riau

Riau | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:28 WIB

Api Kecil Bisa Jadi Bencana, Setop Bakar Lahan Selama El Nino Masih Sangat Kuat!

Api Kecil Bisa Jadi Bencana, Setop Bakar Lahan Selama El Nino Masih Sangat Kuat!

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:24 WIB

Jarak Bukan Halangan, BRImo Taiwan Hadir Dekatkan Layanan Perbankan untuk WNI

Jarak Bukan Halangan, BRImo Taiwan Hadir Dekatkan Layanan Perbankan untuk WNI

Bri | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:19 WIB

Viral Cekcok di Polsek Cengkareng, Ternyata Buntut Debt Collector Paksa Masuk Mobil Warga

Viral Cekcok di Polsek Cengkareng, Ternyata Buntut Debt Collector Paksa Masuk Mobil Warga

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:19 WIB

Asap Tak Punya Paspor, Airlangga Minta Negara ASEAN Tolong RI

Asap Tak Punya Paspor, Airlangga Minta Negara ASEAN Tolong RI

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:13 WIB

Masa Jabatan Kapolri Digugat ke MK, Mahasiswa UIN Jakarta Cium Aroma Intervensi Politik

Masa Jabatan Kapolri Digugat ke MK, Mahasiswa UIN Jakarta Cium Aroma Intervensi Politik

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 19:12 WIB

×