-
Serangan udara Amerika Serikat di Khuzestan menewaskan satu pekerja dan melukai empat orang.
-
Pentagon menggempur puluhan target militer Iran sebagai balasan atas serangan pangkalan mereka.
-
Konflik bersenjata ini mulai meluas dan berdampak pada fasilitas minyak negara sekutu.
Suara.com - Gempuran udara militer Amerika Serikat yang menyasar berbagai wilayah strategis di Iran mulai memakan korban jiwa dari warga sipil. Serangan teranyar menghantam stasiun pompa air di Kabupaten Mahshahr, Provinsi Khuzestan, bagian barat daya Iran.
Insiden berdarah ini merenggut nyawa seorang petugas keamanan setempat yang sedang berjaga. Selain korban tewas, 4 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka serius akibat ledakan proyektil tersebut.
Dikutip dari Kasntor Berita Iran, gelombang serangan udara ini membuktikan bahwa konflik bersenjata kedua negara kini berdampak langsung pada fasilitas publik masyarakat. Ketegangan terus meningkat seiring meluasnya radius dentuman bom ke pemukiman warga.

Ledakan dahsyat juga terdengar jelas di kota Khorramshahr dan Hoveyzeh yang berada di bawah administrasi Khuzestan. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengonfirmasi langsung terjadinya rentetan getaran kuat di kedua kota tersebut.
Sebelum titik-titik tersebut meledak, Washington telah membidik wilayah di sekitar kota Ahvaz. Serangan pembuka di area tersebut menandai dimulainya agresi militer skala besar di tanah Iran.
Operasi udara destruktif ini berlangsung secara maraton sejak hari Minggu sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Seorang pejabat Pentagon menyatakan bahwa jet tempur mereka masih terus membombardir wilayah Iran 3 jam setelah serangan pertama.
Militer Amerika Serikat mengklaim aksi ini merupakan lanjutan dari serangan udara besar-besaran sebelumnya. Mereka menargetkan puluhan pos militer yang dianggap sebagai pusat pertahanan strategis pihak Teheran.
Baku hantam ini dipicu oleh aksi Teheran yang meluncurkan gelombang serangan ke basis militer Washington akhir pekan lalu. Eskalasi tersebut menghancurkan seluruh sisa ruang diplomasi yang sempat dibangun kedua negara.
Juru bicara militer Amerika Serikat berdalih serangan baru ini dipicu oleh tindakan provokatif Iran di jalur laut. Korps Garda Revolusi Islam Iran dituduh menembaki kapal komersial yang melintasi jalur perairan internasional.
Perebutan pengaruh di jalur maritim ini menjadi isu sensitif bagi hubungan luar negeri kedua pihak. Selat tersebut merupakan alat tawar menawar politik yang sangat krusial bagi Teheran dalam setiap negosiasi global.
Dampak pertempuran ini mulai meluber dan mengancam stabilitas keamanan negara-negara tetangga di Timur Tengah. Para sekutu Washington melaporkan bahwa mereka turut menjadi sasaran tembakan militer Iran sepanjang akhir pekan.
Pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa serangan fajar telah merusak pos-pos perbatasan dan satu rig minyak mereka. Sementara itu, otoritas Qatar melaporkan warganya terluka akibat serpihan intersepsi rudal di udara.
Tiga negara lain yaitu Oman, Yordania, dan Uni Emirat Arab juga mendeteksi adanya aktivitas tembakan serupa. Wilayah udara mereka sempat dilewati oleh proyektil yang diluncurkan selama konflik memanas.
Kondisi geopolitik di kawasan Teluk kini berada pada titik terendah akibat saling balas serangan ini. Keamanan warga sipil dan fasilitas energi global menjadi taruhan utama dari perang terbuka ini.