-
Amerika Serikat membombardir pangkalan militer Iran setelah kapal komersial ditembaki di Selat Hormuz.
-
Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara untuk menghentikan ancaman terhadap pelaut sipil.
-
Serangan Iran di akhir pekan berdampak pada kerusakan fasilitas di Kuwait dan Qatar.
Suara.com - Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara beruntun ke wilayah Iran demi menghentikan ancaman terhadap kapal komersial global. Gempuran ini menandai eskalasi baru konflik bersenjata yang melumpuhkan keamanan jalur perdagangan laut internasional.
Operasi tempur komando Pentagon ini berlangsung lebih lama dari biasanya dan menyasar puluhan target strategis. Gelombang serangan ini menjadi respons langsung atas agresivitas Teheran yang berulang kali mengincar aset asing.
Dikutip dari CNN Internasional, langkah tegas Washington diambil setelah pasukan Garda Revolusi Iran terdeteksi menembaki kapal dagang di Selat Hormuz. Jalur perairan ini sengaja dieksploitasi Teheran untuk memperkuat posisi tawar mereka dalam diplomasi global.

Komando Pusat AS menegaskan bahwa operasi militer dimulai sejak hari Minggu pukul 17.00 waktu setempat. Langkah penindakan ini bertujuan memutus kemampuan tempur Iran yang terus mengganggu ketertiban maritim.
Presiden Donald Trump mengambil keputusan cepat dengan menginstruksikan langsung operasi udara berskala besar tersebut. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban mutlak atas tindakan sewenang-wenang Teheran.
US Central Command menyatakan pasukan mulai meluncurkan serangan terhadap Iran pada jam 5 sore ET hari Minggu untuk terus mendegradasi kemampuan mereka menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang transit secara bebas di Selat Hormuz.
Pernyataan resmi tersebut mempertegas posisi Pentagon dalam mengamankan jalur pelayaran komersial dunia dari gangguan bersenjata. Fokus utama operasi ini adalah melemahkan infrastruktur militer yang digunakan untuk menyerang kapal sipil.
Central Command mengatakan Presiden Donald Trump mengarahkan serangan tersebut untuk menuntut pertanggungjawaban pasukan Iran.
Perintah eksekutif ini memicu pergeseran konfrontasi di Timur Tengah menjadi konflik terbuka yang kian memanas. Baku tembak di koridor laut strategis kini memperburuk hubungan diplomatik kedua negara yang sudah retak.
Sebelum serangan balasan AS jatuh, Teheran lebih dahulu membombardir sejumlah pangkalan militer Washington di kawasan tersebut. Aksi saling balas ini memicu kepanikan massal di wilayah perbatasan negara-negara tetangga.
Negara-negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah turut melaporkan adanya kerusakan akibat serangan udara Iran. Beberapa wilayah kedaulatan mereka menjadi sasaran proyektil dan rudal sepanjang akhir pekan lalu.
Pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa hantaman roket mengenai pos-pos penjagaan perbatasan mereka dengan sangat telak. Fasilitas pengeboran minyak lepas pantai milik Kuwait juga mengalami kerusakan serius akibat insiden ini.
Otoritas Qatar melaporkan adanya korban luka-luka akibat serpihan ledakan rudal yang berhasil dicegat di udara. Ketegangan militer ini memaksa sistem pertahanan udara di seluruh kawasan Teluk beroperasi penuh.
Negara Oman, Yordania, dan Uni Emirat Arab juga mendeteksi adanya aktivitas tembakan yang melintasi ruang udara mereka. Situasi ini memicu alarm kewaspadaan tinggi bagi maskapai penerbangan sipil dunia.
Konfrontasi bersenjata di Selat Hormuz berakar dari buntunya negosiasi pembatasan nuklir dan sanksi ekonomi global. Iran kerap memanfaatkan ancaman pemblokiran jalur minyak dunia ini sebagai senjata diplomasi utama mereka.