-
Iran menutup kembali Selat Hormuz dan memperluas serangan rudal ke wilayah negara Teluk.
-
Amerika Serikat membalas dengan menggempur ratusan target militer untuk melumpuhkan pertahanan Iran.
-
Penutupan jalur maritim strategis ini mengancam pasokan energi dan memicu inflasi global.
Suara.com - Blokade total di Selat Hormuz kembali terjadi setelah militer Iran memperluas wilayah gempurannya ke berbagai negara Teluk. Langkah sepihak Teheran ini menjadi respons langsung atas kehadiran dan aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan strategis tersebut.
Ketegangan baru ini seketika menghancurkan harapan damai yang sempat dirancang kedua belah pihak bulan lalu. Dampak buruknya kini langsung mengintai stabilitas ekonomi global yang bergantung pada jalur tersebut.
Dunia internasional sekarang menghadapi ancaman lonjakan harga energi yang sangat serius akibat penutupan jalur maritim paling vital ini. Jika pemblokiran terus berlanjut, inflasi global dipastikan melonjak tajam dalam waktu dekat.
![Ledakan di pelabuhan Dayyer, Bushehr [Ist/AryJeay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/12/18760-perang-as-iran.jpg)
Hujan rudal dan pesawat tanpa awak milik Iran menyasar wilayah Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Yordania, hingga Oman. Serangan masif ini membuktikan bahwa Teheran tidak lagi ragu menyasar sekutu Washington demi mengusir armada asing.
Pemerintah Qatar melaporkan 3 orang, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan proyektil dan menyatakan Iran bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut. Otoritas Uni Emirat Arab juga sibuk menghalau proyektil berbahaya yang mengarah ke wilayah mereka.
Di sisi lain, angkatan bersenjata Amerika Serikat tidak tinggal diam dan langsung meluncurkan serangan balasan yang masif. Ledakan besar terdengar di sekitar fasilitas militer Iran yang berada di Pelabuhan Bandar Abbas serta Pulau Qeshm.
Sementara Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Komando Pusat AS menegaskan bahwa mereka telah menghancurkan ratusan target militer untuk melumpuhkan kekuatan tempur lawan.
Otoritas Teluk Persia yang baru dibentuk Iran berdalih bahwa penutupan Selat Hormuz terpaksa dilakukan demi alasan keselamatan navigasi. Mereka menuduh pergerakan militer Amerika Serikat di perairan internasional tersebut sebagai pemicu utama ketidakamanan.
Pihak Amerika Serikat dengan tegas membantah klaim sepihak tersebut dan tetap menyiagakan kapal perang mereka. Washington memastikan pasukannya akan terus berpatroli untuk menjamin hukum kebebasan pelayaran internasional tetap tegak.
Konflik bersenjata ini otomatis membatalkan komitmen awal perdamaian yang sempat disepakati kedua negara di meja perundingan. Padahal, kesepakatan itu awalnya diharapkan menjadi jalan keluar untuk membuka kembali akses perdagangan laut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tetap melanjutkan komunikasi diplomatik dengan Oman dan Pakistan yang selama ini menjadi mediator antara Teheran dan Washington. Namun, upaya diplomasi tersebut tampaknya menemui jalan buntu seiring meningkatnya intensitas serangan di lapangan.
Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia yang tidak memiliki alternatif pengganti sepadan. Sekitar seperlima dari total pasokan gas alam cair dan minyak mentah global melintasi jalur sempit ini setiap harinya.
Gangguan keamanan sekecil apa pun di wilayah ini selalu berhasil memicu kepanikan pasar finansial dunia. Sejarah mencatat bahwa pemblokiran Selat Hormuz selalu diikuti oleh krisis energi global yang menyengsarakan banyak negara.
Upaya mediasi yang dimotori oleh Pakistan dan Oman kini berpacu dengan waktu di tengah dentuman meriam. Masa depan stabilitas ekonomi dunia kini bergantung pada kerelaan kedua pihak untuk menahan diri.