-
Pertempuran sengit antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak global sebesar 8.92 persen.
-
Harga minyak mentah jenis Brent melesat hingga mencapai angka 82.79 dolar AS per barel.
-
CENTCOM mengerahkan pasukan untuk menegakkan blokade total terhadap pelabuhan dan pesisir pantai Iran.
Suara.com - Harga minyak dunia meroket hampir 9 persen menyusul eskalasi pertempuran yang kian sengit antara militer Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap terganggunya jalur pasokan energi internasional di kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah Brent langsung merangkak naik tiga persen di atas perdagangan pekan lalu pada awal Senin. Angka tersebut melesat hingga 8.92 persen pada penutupan perdagangan dan menyentuh level 82.79 dolar AS per barel.
Sementara itu Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) memastikan pasukannya bakal turun penuh mengawal blokade baru ini. Dikutip dari Al Jazeera, langkah pengetatan maritim tersebut dijadwalkan mulai berlaku efektif pada Kamis pukul 20.00 GMT.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Pihak militer Washington menegaskan tidak akan menoleransi aktivitas pelayaran yang melintasi zona terlarang. Armada tempur laut disiagakan guna menutup ruang gerak komoditas ekspor dan impor Teheran.
“Pasukan CENTCOM akan menegakkan blokade terhadap kapal-kapal yang transit menuju atau dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran,” tulis CENTCOM dalam pernyataan resmi di media sosial.
Kendati demikian, Amerika Serikat mengeklaim tidak berniat mengganggu aktivitas pelayaran komersial lainnya yang legal. Akses perairan internasional di sekitarnya dipastikan tetap terbuka di bawah pengawasan ketat.
“Militer AS terus mendukung kelancaran arus lalu lintas melalui perairan regional bagi semua kapal yang tidak melanggar blokade,” lanjut pernyataan resmi dari pihak CENTCOM.
Kebijakan sepihak ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa yang pernah diterapkan beberapa bulan lalu. Washington mengklaim telah mengantongi hasil signifikan dari operasi pemblokiran jalur laut fase pertama.
“Dimulainya kembali blokade AS terhadap Iran mengikuti implementasi awal dari 13 April hingga 18 Juni. Pasukan CENTCOM mengalihkan lebih dari 140 kapal yang patuh, melumpuhkan sembilan kapal yang tidak patuh, dan mengizinkan lebih dari 50 kapal komersial yang mendukung bantuan kemanusiaan untuk melewati blokade selama periode dua cloud tersebut.” jelas pihak militer.
Langkah agresif ini diprediksi bakal terus menekan urat nadi perekonomian Iran yang bergantung pada ekspor minyak. Di sisi lain, dunia kini bersiap menghadapi dampak lanjutan dari ketidakstabilan harga energi global yang kian memanas.