-
Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke Iran demi menguasai jalur strategis Selat Hormuz.
-
Serangan balasan drone Iran membakar fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Kuwait.
-
Konflik bersenjata ini memicu lonjakan tajam harga minyak mentah global ke level tertinggi.
Suara.com - Amerika Serikat meluncurkan serangan udara intensif ke wilayah Iran demi mengendalikan kawasan strategis Selat Hormuz. Langkah agresif ini memicu balasan drone dari Teheran yang menyasar basis pertahanan udara Washington.
Ketegangan bersenjata tersebut langsung mengguncang pasar energi global secara signifikan. Harga minyak mentah dunia mencatat rekor lonjakan harian tertinggi dalam 6 tahun terakhir.
Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya untuk melanjutkan operasi militer skala besar tersebut tanpa kompromi. Washington menilai Teheran telah melanggar kesepakatan bersama yang sebelumnya pernah ditandatangani kedua pihak.
![Momen tak biasa terjadi di ruang Oval Gedung Putih saat seorang balita berusia dua tahun tertangkap kamera tidur-tiduran dengan santai. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/24/59332-donald-trump.jpg)
Dalam wawancara bersama penyiar radio konservatif Hugh Hewitt, Trump menyampaikan langkah taktisnya.
“Kita akan memukul mereka dengan sangat keras malam ini, dan kita akan memukul mereka dengan keras besok.” ujarnya.
Trump juga menyoroti kegagalan kerja sama dalam memorandum kesepahaman antara Washington dan Teheran. Menurut penuturannya, Iran tidak menghormati uji coba yang menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.
Padahal, Trump sebelumnya mengklaim kerja sama tersebut mampu menyelesaikan konflik dan mencegah kepemilikan senjata nuklir. Kini, ia menganggap nota kesepahaman itu tidak lagi memiliki arti besar bagi negaranya.
Di hadapan para jurnalis, Trump menyatakan bahwa militer Amerika Serikat pada akhirnya akan menguasai Selat Hormuz. Ia bersikeras bahwa dinamika pertempuran dengan pihak Iran saat ini bergerak sangat cepat.
Trump berdalih operasi pengeboman terbaru ini hanyalah sebuah konflik militer jangka pendek. Kendati demikian, ia menolak memberikan tenggat waktu pasti mengenai akhir dari pertempuran tersebut.
Amerika Serikat juga menuntut ganti rugi finansial kepada negara-negara mitra yang dibantu dalam konflik ini. Trump menyebutkan beberapa sekutu regional seperti Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, serangkaian ledakan hebat dilaporkan mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan. Media lokal mengabarkan dentuman juga terdengar jelas di Pulau Kish, Qeshm, dan Abu Musa.
Pihak militer Iran segera merespons agresi Amerika Serikat dengan mengirimkan gelombang serangan pesawat tanpa awak. Serangan drone tersebut diklaim berhasil mengenai markas militer Amerika Serikat yang berada di Kuwait.
Pernyataan resmi angkatan bersenjata Iran menyebutkan target destruksi meliputi sistem komunikasi hingga tangki bahan bakar. Fasilitas pertahanan udara Patriot, menara pengawas, serta depot amunisi juga dilaporkan hangus terbakar.
Pihak militer Iran menegaskan bahwa operasi udara ini merupakan balasan atas agresi berulang Amerika Serikat. Bentrokan terbuka ini langsung berimplikasi buruk terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Minyak mentah Brent meroket 9,59 persen hingga menyentuh angka 83,30 dolar AS per barel. Nilai tersebut menjadi level penyelesaian transaksi tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.
Imbas kondisi keamanan yang memburuk, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Uni Emirat Arab membatalkan seluruh agenda konsuler. Seluruh personel pemerintah non-darurat bahkan telah dievakuasi keluar dari negara tersebut.
Krisis diplomatik ini semakin meruncing setelah rudal milik militer Iran menghantam kapal tanker. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengonfirmasi dua kapal tanker mereka diserang di Selat Hormuz.
Insiden mematikan di jalur pelayaran internasional tersebut menewaskan seorang awak kapal tangki. Jalur logistik minyak global kini berada dalam ancaman kelumpuhan total akibat perang terbuka.