- Seorang siswa MAN 3 Padang melakukan ledakan bom rakitan karena terinspirasi dari aksi kekerasan serupa di media sosial.
- Algoritma media sosial memicu fenomena copycat crime dengan menyebarkan narasi radikal kepada remaja yang mengalami tekanan psikologis berat.
- Sosiolog UGM mendesak pemerintah dan sekolah memperbaiki sistem perlindungan anak untuk meminimalisasi pengaruh buruk budaya digital bagi siswa.
Suara.com - Ledakan bom rakitan yang diduga dibuat seorang siswa di MAN 3 Padang memunculkan sorotan terhadap pengaruh teknologi digital terhadap perilaku remaja.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menilai media sosial dan jejak digital kekerasan berpotensi memicu munculnya aksi serupa melalui fenomena copycat crime.
Menurut Abe sapaan akrabnya, algoritma media sosial saat ini mampu membentuk cara berpikir hingga tindakan seseorang. Apalagi bagi remaja yang mengalami tekanan psikologis akibat bullying dan merasa terisolasi.
Ruang digital dapat menjadi tempat yang memvalidasi kekerasan sebagai solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
"Di era teknologi hari ini menunjukkan bahwa kita melihat teknologi algoritmanya dengan budaya digital yang itu membentuk kesadaran, narasi, dan juga tindakan dari pelaku itu nyata terjadi," kata Abe kepada Suara.com, Rabu (15/7/2026).
Di sana ada semacam algoritma radikalisasi ya. Dan juga ada echo chamber dalam konteks itu," imbuhnya.
Belum lagi soal informasi bahwa pelaku di MAN 3 Padang terinsipirasi membuat peledak dari kasus bom di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu.
Abe bilang beberapa kasus serupa yang terdokumentasi di internet menjadi contoh bagaimana rekam jejak aksi kekerasan dapat terus diakses dan ditiru oleh generasi berikutnya. Kondisi tersebut membuat pola kekerasan terus direproduksi melalui ruang digital.
"Itu artinya ada pola penyebaran taktik, kita bisa menyebutnya sebagai copycat crime," ujarnya.
Menurut Abe, pemberitaan maupun konten digital yang terlalu rinci mengenai cara merakit bom atau detail pelaksanaan aksi sangat berpotensi menjadi cetak biru bagi pelaku lain.
Apalagi jejak digital sulit dihapus, informasi tersebut dapat terus beredar dan menjadi referensi tindakan serupa.
Ia menilai persoalan tersebut semakin berbahaya ketika dipadukan dengan kondisi siswa yang mengalami tekanan psikologis akibat bullying atau perundungan. Dalam situasi itu, teknologi digital menjadi ruang yang memperkuat kemarahan sekaligus menyediakan referensi untuk melakukan aksi balas dendam.
Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya siswa untuk mengekspresikan diri. Alih-alih memberikan nilai dan makna yang terkoneksi dengan kehidupan, sistem pendidikan sekarang justru membuat para siswa terasing.
"Tragis, ironis, ketika satu-satunya yang membesarkan adalah teknologi digital, satu-satunya yang memberikan tuntunan nilai itu justru adalah teknologi digital yang ada di saku mereka," ungkapnya.
Abe menegaskan penanganan kasus tidak cukup hanya berfokus pada pelaku. Ia meminta pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat membangun kembali sistem perlindungan terhadap anak agar ruang digital tidak menjadi satu-satunya tempat remaja mencari jawaban atas persoalan hidupnya.
"Selama ini kita hanya mengobati atau menangani simtom-simtomnya saja, akar masalahnya enggak tersentuh.. Maka kita butuh evaluasi secara radikal sekolah-sekolah kita," pungkasnya.