-
Iran menegaskan Selat Hormuz ditutup hingga Amerika Serikat menerima seluruh persyaratan dari Teheran.
-
Blokade tetap berjalan meski beberapa kota di Iran dihantam bom oleh militer CENTCOM.
-
Kesepakatan damai yang dimediasi Pakistan terancam gagal akibat aksi saling balas serangan.
Suara.com - Iran memilih memperpanjang pemblokiran Selat Hormuz demi memaksa Amerika Serikat tunduk pada proposal perdamaian Teheran. Ketegangan baru ini mengancam stabilitas pasokan energi dunia dan memperparah krisis geopolitik global.
Penutupan jalur maritim strategis ini menjadi senjata utama Iran melawan gempuran udara Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM). Posisi keras tersebut menegaskan bahwa gertakan senjata Washington tidak lagi efektif meredam perlawanan Teheran.
Dunia kini menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat macetnya arus logistik di Alur Laut Kepulauan yang sangat vital tersebut. Iran bersikeras tidak akan membuka blokade sebelum kedaulatan penuh mereka atas selat itu diakui internasional.
![Ledakan di pelabuhan Dayyer, Bushehr [Ist/AryJeay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/12/18760-perang-as-iran.jpg)
Kontrol penuh terhadap wilayah perairan tersebut wajib berada di bawah kekuasaan mutlak militer Iran. Kepatuhan total Gedung Putih terhadap kesepakatan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Mohammad Akrami-Nia menegaskan kedaulatan mutlak negaranya atas gerbang maritim tersebut.
"Kendali atas selat itu harus berada di bawah otoritas Iran sebelum dapat dibuka kembali," ujarnya, dikutip dari .
Militer Teheran mendesak Washington untuk segera menyudahi seluruh operasi tempur agresif di Timur Tengah. Amerika Serikat juga dituntut menghormati regulasi sepihak yang diterapkan Iran di kawasan tersebut.
Pihak Angkatan Darat Iran memastikan bahwa diplomasi senjata yang dipraktikkan Pentagon akan berakhir sia-sia. Tekanan fisik lewat bom dan rudal diklaim tidak akan bisa menggoyahkan keputusan strategis negara.
Mohammad Akrami-Nia memastikan bahwa intimidasi bersenjata dari pihak asing tidak akan mengubah keputusan Teheran.
"Aksi militer AS yang terus berlanjut tidak akan memaksa Iran untuk membuka kembali jalur perairan tersebut," tegasnya.
Pernyataan keras ini keluar setelah rentetan ledakan besar mengguncang sejumlah kota penting di wilayah Iran. CENTCOM mengakui telah meluncurkan paket serangan udara baru untuk melemahkan sistem pertahanan udara musuh.
Pentagon berdalih bombardir tersebut bertujuan menghancurkan instalasi militer Iran yang mengancam keselamatan kapal dagang. Namun, agresi itu justru memicu eskalasi pertempuran terbuka yang jauh lebih destruktif.
Adu kekuatan antara Washington dan Teheran di Selat Hormuz sebenarnya telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Angkatan bersenjata Amerika Serikat terus meluncurkan rudal ke objek-objek vital di daratan Iran.
Respon simetris langsung ditunjukkan oleh pasukan Iran melalui serangan balasan ke fasilitas militer Pentagon. Beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi sasaran empuk bagi rudal Teheran.
Padahal, kedua negara sebelumnya telah menyepakati sebuah draf kerangka perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan. Upaya diplomatik Islamabad tersebut kini terancam gagal total akibat ego militer kedua belah pihak.