-
Harga emas dunia melosot hingga 1,9 persen menjadi US$3.983 per ons akibat ketegangan geopolitik.
-
Konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak yang mengancam stabilitas inflasi global global.
-
Prospek suku bunga tinggi Amerika Serikat melemahkan daya tarik investasi emas dan perak.
Suara.com - Harga emas dunia ambruk hingga ke bawah level psikologis 4.000 dolar AS per ons pada perdagangan Kamis. Penurunan tajam ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap lonjakan inflasi menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah.
Emas melemah sebesar 1,9 persen menuju angka 3.983 dolar AS per ons pada pukul 13.10 GMT. Kejatuhan ini menandai pudarnya kilau logam mulia yang biasanya menjadi aset aman saat terjadi krisis geopolitik.
Komoditas perak bahkan mencatat koreksi lebih dalam sebesar 3,6 persen ke posisi 55.67 dolar AS per ons. Tekanan besar pada perak terjadi karena tingginya biaya energi berpotensi melumpuhkan aktivitas industri global.
![Ilustrasi Harga Emas [Suara.com/HD diedit dengan AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/98252-harga-emas.jpg)
Aksi militer Amerika Serikat yang menyerang target-target Iran pada Rabu memperpanjang ketegangan di jalur pasokan energi dunia. Situasi tersebut langsung mendongkrak harga minyak mentah dan menyalut kekhawatiran inflasi baru.
"Teheran telah memberikan sinyal kesediaan untuk melanjutkan negosiasi," kata Presiden AS Donald Trump, dikutip dari Anadolu, JUmat (17/7/2026).
Namun, ketidakpastian tetap tinggi setelah kesepakatan damai sementara bulan lalu justru berantakan.
Lonjakan harga energi memicu ekspektasi bahwa inflasi global akan kembali berakselerasi dalam waktu dekat. Spekulasi ini memutarbalikkan fungsi protektif logam mulia di mata para investor.
Tingginya inflasi berpotensi memaksa Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kebijakan moneter yang ketat otomatis menggerus daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil langsung.
Padahal, logam mulia sempat mendapatkan angin segar dari rilis data inflasi Amerika Serikat yang melunak. Kondisi makroekonomi tersebut awalnya diprediksi mampu menopang pergerakan harga komoditas dalam jangka pendek.
Indeks harga produsen Amerika Serikat di luar dugaan merosot pada Juni untuk pertama kalinya dalam setahun. Penurunan performa ekonomi ini terjadi menyusul melemahnya laporan inflasi konsumen di negara tersebut.