-
Kemacetan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz memicu defisit pasokan global yang sangat masif.
-
Cadangan minyak darurat dunia kini menipis setelah dikuras untuk meredam lonjakan harga sebelumnya.
-
IMF memperingatkan posisi ekonomi dunia melemah akibat hilangnya bantalan energi strategis tersebut.
Suara.com - Pasar energi global kini berada dalam posisi yang sangat rentan akibat menyusutnya cadangan minyak dunia darurat secara drastis. Dunia kehilangan pelindung utama yang sebelumnya berhasil meredam lonjakan harga saat krisis pertama terjadi.
Kemacetan distribusi di Selat Hormuz kembali memicu kelangkaan pasokan yang serupa dengan krisis komoditas sebelumnya. Defisit energi ini diperparah oleh hilangnya jutaan barel dari pasar global dalam beberapa bulan terakhir.
Data International Monetary Fund menunjukkan selisih pasokan sebesar 4 juta barel per hari sepanjang Maret hingga Mei diatasi dengan menguras stok yang ada. Langkah darurat tersebut kini menyisakan ruang gerak yang sangat sempit bagi stabilitas ekonomi dunia.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/36136-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Saat konflik Iran bergejolak, International Energy Agency mengambil langkah ekstrem dengan melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka. Intervensi berskala masif ini berhasil mencegah kehancuran pasar pada fase awal ketegangan.
Langkah penyelamatan juga sempat datang dari Asia ketika China memilih mengerem aktivitas kilang domestik mereka. Negeri Tirai Bambu tersebut lebih memilih mengonsumsi stok internal ketimbang melakukan pembelian agresif di pasar internasional.
Namun, IMF memperingatkan bahwa strategi penyelamat tersebut kini tidak bisa lagi diandalkan untuk menghadapi tekanan baru. Seluruh instrumen peredam kejut eksternal dipastikan sudah terkuras habis oleh tuntutan pasar global.
“Yang meredam dampak awal kali ini adalah pasar energi memiliki ruang untuk bermanuver dan menyerapnya,” tulis pihak IMF dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNN Internasional.
“Kecuali persediaan diisi kembali, dunia akan memulai dari posisi yang lebih lemah ketika guncangan berikutnya datang,” tambah lembaga keuangan global tersebut.
Kondisi ini diperparah oleh laporan riset terbaru dari lembaga keuangan multinasional Goldman Sachs pekan ini. Mereka memproyeksikan China akan segera kembali berburu minyak mentah dalam volume besar ke pasar internasional.
Langkah tersebut diambil karena Beijing harus segera mengisi kembali tangki penyimpanan mereka pasca-penurunan harga dari level tertingginya. Aksi borong ini berpotensi memicu perebutan pasokan yang semakin sengit di tingkat global.
Ketegangan geopolitik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah terus menjadi sumbu utama ketidakstabilan pasokan energi dunia. Selat Hormuz, yang bertindak sebagai jalur urat nadi logistik minyak mentah global, berulang kali mengalami gangguan operasional akibat konflik bersenjata.
Ketergantungan global pada cadangan strategis kini mencapai titik kritis karena proses pengisian kembali stok membutuhkan waktu bertahun-tahun. Akibatnya, setiap guncangan baru di jalur distribusi dipastikan akan langsung memukul konsumen tanpa adanya jaring pengaman.