Wamensos Bahas Sekolah Rakyat, PPSE dan Perlindungan Korban Bencana Non-Alam Bersama Tiga Pemda

Fabiola Febrinastri, RR Ukirsari Manggalani

Jum'at, 17 Juli 2026 | 11:30 WIB
Wamensos Bahas Sekolah Rakyat, PPSE dan Perlindungan Korban Bencana Non-Alam Bersama Tiga Pemda
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menerima tiga perwakilan daerah di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).(Dok: Kemensos)

Suara.com - Tiga pemerintah daerah datang membawa aspirasi berbeda saat bertemu Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).

Kabupaten Sabu Raijua membahas percepatan program Sekolah Rakyat, Kota Banjar mengusulkan penguatan Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) dan sekolah rakyat, sementara Kabupaten Indragiri Hilir mengangkat perlindungan bagi warga yang menjadi korban konflik satwa liar.

Pertemuan dihadiri Bupati Sabu Raijua Karisman B. Riwu Kore bersama Asisten I Sofa Siu dan Kepala Dinas Sosial Dagerlin Lay Rihi; Wali Kota Banjar Sudarsono bersama Ketua Tim Akselerasi Percepatan Pembangunan Daerah Kota Banjar Bintang; serta Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Tantawi Jauhari, Kepala Dinas PUTR dan PKP Yusnaldi, dan Kepala Dinas Sosial P3A Rudy Fahmi.

Sementara Agus Jabo didampingi Direktur Pemberdayaan Sosial Keluarga Miskin dan Rentan Radik Karsadiguna, Plt. Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Masryani Mansyur, Kepala Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Joko Widiarto, perwakilan Sekretariat Bersama Sekolah Rakyat Herman, serta jajaran Tenaga Ahli Menteri Sosial.

Bupati Sabu Raijua Karisman B. Riwu Kore mengatakan daerahnya telah mengusulkan pembangunan Sekolah Rakyat sejak Mei 2025. Menurutnya, Sekolah Rakyat sangat dibutuhkan karena Sabu Raijua merupakan wilayah 3T.

“Sekolah Rakyat ini memang untuk Sabu Raijua sangat-sangat diperlukan karena posisi kami 3T. Data yang kami punya itu sekitar 15 ribu di Desil 1 dan Desil 2,” ujar Karisman.

Ia menjelaskan lokasi awal pembangunan telah dipindahkan ke Raemadia. Pemerintah daerah kini telah menyiapkan lahan seluas 8 hektare yang dinilai landai, memiliki akses jalan, air, dan sertifikat yang lengkap. Namun, prosesnya masih terkendala administrasi, termasuk dokumen lingkungan serta hasil survei yang belum diterima secara lengkap.

Perwakilan Sekretariat Bersama Sekolah Rakyat, Herman, menjelaskan usulan Sabu Raijua telah masuk ke Kementerian Pekerjaan Umum sejak 4 April 2026, namun hasil surveinya belum diterbitkan.

“Sabu Raijua sudah masuk ke PU per 4 April tahun ini. PU memang sampai sekarang belum mengeluarkan hasil survei. Nanti saya kabari, Pak,” ujar Herman.

baca juga

Agus Jabo meminta dokumen terbaru lokasi Raemadia segera disampaikan kepada Sekretariat Bersama Sekolah Rakyat agar prosesnya dapat terus dikawal.

“Yang jelas masukkan dulu ke Sekber. Kalau tidak masuk Sekber berarti macet, karena mereka yang mengurus teknisnya ke PU. Ini daerah tertinggal, nanti diprioritaskan,” katanya.

Adapun Wali Kota Banjar Sudarsono menyampaikan usulan Sekolah Rakyat sebelumnya terkendala luas lahan yang hanya 4,5 hektare. Pemerintah Kota Banjar kemudian memindahkan lokasi ke Kecamatan Pataruman dengan lahan baru seluas 6,6 hektare milik pemerintah kota.

“Alhamdulillah sekarang lahannya kami pindahkan. Yang awalnya 4,5 hektare, sekarang menjadi 6,6 hektare di Kecamatan Pataruman. Dokumen sudah lengkap dan siap,” ujar Sudarsono.

Herman membenarkan dokumen lokasi baru tersebut telah diterima Sekretariat Bersama Sekolah Rakyat.

“Banjar baru saya terima dokumen yang baru, Pak. Karena yang kemarin lahannya 4,5 hektare. Yang baru ini 6,6 hektare milik Pemkot. Nanti akan kami tindaklanjuti,” kata Herman.

Selain Sekolah Rakyat, Pemerintah Kota Banjar juga menyampaikan kebutuhan penguatan pemberdayaan ekonomi bagi keluarga penerima manfaat. Ketua TAPPD Kota Banjar Bintang mengatakan pemerintah daerah ingin memperluas intervensi produktif agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan sosial.

Menurutnya, penurunan angka kemiskinan di Banjar selama ini ditopang oleh kombinasi bantuan sosial, pelatihan, dan program pemberdayaan. Karena itu, Banjar mengusulkan penambahan penerima PKH sekaligus intervensi PPSE bagi warga yang masih produktif.

“Kami ingin bantuan itu tidak berhenti pada bansos. Kami ingin kompetensinya terus naik dan memberi efek pada penurunan pengangguran terbuka,” ujar Bintang.

Kepala Pusdatin Kesos Joko Widiarto menjelaskan kuota nasional PKH bersifat terbatas dan tidak seluruh keluarga pada Desil 1 hingga 4 otomatis menjadi penerima. Namun, pemerintah daerah tetap dapat mengusulkan warga yang memenuhi syarat melalui Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial-Next Generation.

“Secara nasional kuota PKH itu 10 juta. Satu desil saja isinya sekitar sembilan juta. Jadi PKH sebenarnya hanya cukup untuk Desil 1 dan sebagian Desil 2. Kalau ada yang putus dan memenuhi syarat, silakan diusulkan melalui SIKS-NG,” ujar Joko.

Ia menambahkan, jalur yang lebih tepat untuk menekan pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga produktif adalah melalui PPSE.

“Kalau mau mengurangi tingkat pengangguran terbuka, jalannya ya PPSE, Pak,” katanya.

Direktur Pemberdayaan Sosial Keluarga Miskin dan Rentan Radik Karsadiguna menyampaikan bahwa asesmen awal telah dilakukan terhadap 61 keluarga di Kota Banjar.

“Sudah asesmen 61 KPM, Pak. Tetapi belum disalurkan, baru tahap asesmen,” ujar Radik.

Agus Jabo meminta proposal PPSE Kota Banjar segera ditindaklanjuti dan disesuaikan dengan kuota yang tersedia. Ia juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta dan filantropi apabila kuota APBN terbatas.

“Kita ingin perubahan, tidak hanya bansos tetapi pemberdayaan. Kalau kuota PPSE masih ada, kita intervensi. Kalau terbatas, kita bisa berkolaborasi dengan perusahaan atau filantropi,” kata Agus Jabo.

Selanjutnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Tantawi Jauhari menyampaikan usulan Sekolah Rakyat telah diajukan sejak 2025. Lokasi yang disiapkan memiliki luas sekitar 6 hektare, dilengkapi akses listrik dan air, serta jalan menuju lokasi yang sedang dibangun pemerintah daerah.

Namun, hasil penilaian awal menyebut karakter tanah lokasi tersebut sebagai lahan gambut sehingga memerlukan penjelasan teknis lebih lanjut kepada Kementerian PU.

“Penduduk kami sekitar 45 persen berada di Desil 1 sampai Desil 5. Kami sangat berharap lokasi ini bisa dimasukkan dalam tahap ketiga,” ujar Tantawi.

Herman mengatakan catatan PU memang menyebut lokasi tersebut sebagai lahan gambut. Karena itu, pemerintah daerah perlu memberikan penjelasan teknis mengenai kondisi tanah dan kesiapan pembangunan.

“Penilaian PU itu lahannya gambut. Ini perlu diyakinkan ke PU, karena kalau gambut proses pematangannya agak lama,” ujar Herman.

Agus Jabo meminta pemerintah daerah segera melengkapi penjelasan teknis agar usulan tersebut dapat dibahas kembali sebelum daftar pembangunan tahap berikutnya ditetapkan.

Selain Sekolah Rakyat, Indragiri Hilir juga menyampaikan persoalan warga miskin yang meninggal akibat diterkam buaya atau harimau saat mencari nafkah di wilayah pesisir dan perkebunan.

“Di tempat kami sering terjadi warga meninggal diterkam harimau atau buaya. Mereka adalah orang-orang miskin yang bekerja mencari ikan atau udang di pantai,” ujar Tantawi.

Masryani Mansyur menjelaskan kejadian tersebut dapat dikategorikan sebagai bencana non-alam berupa konflik satwa liar dengan manusia.

“Ini masuk bencana non-alam, Pak, yaitu konflik dengan satwa liar. Kalau diterkam buaya atau harimau, itu masuk konflik satwa liar dengan manusia,” kata Masryani.

Kemensos akan mempelajari lebih lanjut mekanisme perlindungan dan bantuan setelah pemerintah daerah menyampaikan data serta usulan resmi sesuai ketentuan.

Menutup pertemuan, Agus Jabo meminta seluruh pemerintah daerah menjaga komunikasi dengan unit teknis Kemensos agar usulan tidak berhenti pada pembahasan.

“Nanti segera ditindaklanjuti. Kalau proposalnya ada, programnya ada, dan kuotanya tersedia, tentu kita proses. Perintah Presiden jelas, pemerintah pusat harus bersinergi dengan pemerintah daerah supaya kemiskinan bisa secepatnya diselesaikan bersama-sama,” katanya. ***

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mensos Gus Ipul: Setiap Siswa Sekolah Rakyat  Berharga

Mensos Gus Ipul: Setiap Siswa Sekolah Rakyat Berharga

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 09:08 WIB

Gus Ipul Buka MPLS Perdana Sekolah Rakyat Permanen  di Sragen

Gus Ipul Buka MPLS Perdana Sekolah Rakyat Permanen di Sragen

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 09:03 WIB

Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027

Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 21:32 WIB

Sekolah Rakyat Junjung Prinsip Setiap Siswa Berharga, ESQ Dukung Pemetaan Talenta Siswa

Sekolah Rakyat Junjung Prinsip Setiap Siswa Berharga, ESQ Dukung Pemetaan Talenta Siswa

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 11:11 WIB

28.478 Siswa Baru Masuk Sekolah Rakyat

28.478 Siswa Baru Masuk Sekolah Rakyat

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 11:03 WIB

MPLS Sekolah Rakyat Digelar Bertahap Empat Gelombang

MPLS Sekolah Rakyat Digelar Bertahap Empat Gelombang

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 10:51 WIB

Terkini

Harga Pangan Awal November: Cabai dan Daging Ayam Kompak Turun, Beras Naik

Harga Pangan Awal November: Cabai dan Daging Ayam Kompak Turun, Beras Naik

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 12:02 WIB

Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam

Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 12:00 WIB

7 Bedak Lokal untuk 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan dan Garis Halus

7 Bedak Lokal untuk 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan dan Garis Halus

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 11:52 WIB

Anime Our Last Crusade Season 3 Resmi Diumumkan, Tujuh Seiyuu Utama Kembali

Anime Our Last Crusade Season 3 Resmi Diumumkan, Tujuh Seiyuu Utama Kembali

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 11:30 WIB

O!Save Punya Siapa? Ini Pemilik Toko Retail Banjir Diskon yang Jadi Sorotan

O!Save Punya Siapa? Ini Pemilik Toko Retail Banjir Diskon yang Jadi Sorotan

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 11:24 WIB

Kronologi RANS Carnival Diboikot, Aksi 'Warga Jaga Warga' Selamatkan UMKM

Kronologi RANS Carnival Diboikot, Aksi 'Warga Jaga Warga' Selamatkan UMKM

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 11:22 WIB

Syarat Mengurus KTP Hilang 2026, Cek Dokumen dan Cara Menggantinya Gratis

Syarat Mengurus KTP Hilang 2026, Cek Dokumen dan Cara Menggantinya Gratis

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 11:22 WIB

Bela Dandhy Laksono, Menteri HAM: Seseorang Tak Boleh Dihukum karena Daya Cipta dan Karsanya

Bela Dandhy Laksono, Menteri HAM: Seseorang Tak Boleh Dihukum karena Daya Cipta dan Karsanya

News | Minggu, 01 November 2026 | 11:03 WIB

Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi

Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi

News | Minggu, 01 November 2026 | 11:03 WIB

Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?

Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 11:00 WIB

×