- Kementerian Kesehatan menjalankan program Cek Kesehatan Gratis bagi masyarakat Indonesia sepanjang tahun 2026 untuk memetakan kesehatan penduduk.
- Hingga Juli 2026, sebanyak 59,6 juta orang telah melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi pola penyakit spesifik tiap kelompok usia.
- Data program tersebut menjadi dasar pemerintah dalam melakukan intervensi kesehatan yang tepat sasaran serta efisien bagi masyarakat.
Suara.com - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) selama semester pertama 2026 mulai memetakan persoalan kesehatan masyarakat berdasarkan kelompok usia. Hasilnya menunjukkan pola penyakit yang berbeda pada setiap fase kehidupan, mulai dari bayi baru lahir hingga remaja.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan data yang terkumpul dari program CKG menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk menyusun intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.
"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," ujar Budi di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui Program CKG, melampaui target mingguan yang ditetapkan pemerintah. Dengan dimulainya tahun ajaran baru, Kemenkes optimistis target 130 juta peserta hingga akhir 2026 tetap berada pada jalur pencapaian.
Berdasarkan hasil pemeriksaan selama satu semester terakhir, pada kelompok bayi baru lahir, skrining menunjukkan penyakit jantung bawaan kritis menjadi kondisi dengan potensi prevalensi tertinggi.
Hingga 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining menggunakan pulse oximetry. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,3 persen atau 20.946 bayi teridentifikasi memiliki indikasi kelainan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Menurut Kemenkes, temuan tersebut memperkuat pentingnya deteksi dini penyakit jantung bawaan, termasuk kesiapan sistem rujukan dan layanan rumah sakit untuk menangani kasus tersebut.
Sementara itu, pada kelompok anak sekolah dasar (SD), masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi. Selain itu, petugas juga menemukan peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.
Memasuki usia SMP, persoalan kesehatan gigi masih menjadi temuan terbanyak. Namun, mulai muncul peningkatan gangguan kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi. Selain itu, ditemukan pula peningkatan risiko tuberkulosis (TB), tekanan darah tinggi, serta masalah gizi.
Adapun pada kelompok SMA, pola tersebut semakin menguat. Karies gigi tetap mendominasi, disusul peningkatan tekanan darah, gangguan kesehatan mental, risiko TB, serta persoalan gizi, baik gizi kurang maupun obesitas.
Secara umum, pada kelompok anak sekolah dan remaja, lebih dari 40 persen peserta mengalami karies gigi. Temuan lainnya meliputi anemia (27 persen), peningkatan tekanan darah (21 persen), penumpukan kotoran telinga (7 persen), serta gizi lebih dan obesitas (7 persen).
Kemenkes juga mencatat perubahan pola persoalan gizi di Indonesia. Jika sebelumnya gizi kurang menjadi tantangan utama, kini proporsi anak dengan gizi lebih atau obesitas semakin mendekati angka gizi kurang.
Kondisi tersebut menunjukkan Indonesia tengah menghadapi double burden of malnutrition, yakni beban ganda masalah gizi berupa kekurangan gizi dan kelebihan gizi yang terjadi secara bersamaan.
Selain menjadi program skrining kesehatan terbesar di Indonesia, CKG kini juga mulai memasuki tahap tatalaksana bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Menurut Budi, tujuan utama program ini bukan hanya menemukan penyakit lebih dini, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan penanganan agar tetap sehat dan produktif.
"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang," kata Budi.