-
Dua tentara Amerika Serikat gugur di Yordania akibat serangan balistik dan drone Iran.
-
Iran resmi membatalkan Nota Kesepahaman Islamabad setelah dihujani serangan udara tujuh malam berturut-turut.
-
Konflik ini memicu lonjakan tajam harga minyak mentah Brent dan WTI di pasar dunia.
Suara.com - Pertempuran sengit kembali pecah di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat kehilangan dua prajuritnya dalam serangan udara di Yordania. Insiden berdarah ini langsung menghancurkan nota kesepahaman damai yang baru berusia satu bulan antara kedua negara.
Presiden Donald Trump langsung merespons tragedi tersebut dengan memerintahkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran. Selain korban jiwa, Komando Pusat AS (Centcom) juga melaporkan satu tentara lainnya hilang dalam tugas.
Runtuhnya gencatan senjata dipicu oleh keputusan Teheran yang resmi menarik diri dari kesepakatan Islamabad. Langkah sepihak ini diambil setelah militer Amerika membombardir Iran selama tujuh malam berturut-turut.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa negaranya tidak lagi terikat dengan perjanjian yang sebelumnya diharapkan mampu membuka kembali Selat Hormuz.
“Amerika Serikat telah melanggar dan menangguhkan semua komitmennya berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad,” ujar Gharibabadi dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (19/7/2026).
“Kami juga telah menangguhkan komitmen kami; kami tidak menerapkannya dan sedang sibuk membela negara kami.”
Sikap keras Iran tersebut langsung mendapat respons dingin dari Washington. Trump menegaskan posisinya saat dimintai keterangan oleh awak media mengenai penolakan Iran terhadap perjanjian transisi itu.
Ketika ditanya tentang Iran yang menyatakan tidak lagi mematuhi perjanjian perdamaian sementara, Trump mengatakan kepada seorang reporter NewsNation, “Saya tidak peduli sama sekali.”
Gugurnya dua tentara di Yordania kini menambah daftar panjang korban jiwa militer AS menjadi 16 orang sejak perang meletus pada akhir Februari lalu. Korban berjatuhan akibat rentetan serangan drone dan rudal balistik pertahanan Iran.
Trump menyatakan keprihatinan mendalam atas gugurnya para prajurit yang sedang menjalankan misi negara tersebut. Meski demikian, ia menegaskan posisi Amerika tidak akan melunak terhadap ambisi pertahanan Teheran.
“Sangat menyedihkan, ini adalah hal yang sangat menyedihkan,” kata Trump.
“Kami benci melihat hal itu terjadi. Ini adalah pelayanan kepada negara kita,” dan dia menegaskan kembali janjinya bahwa AS “tidak pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.”
Menteri Pertahanan Pete Hegseth turut menyampaikan belasungkawa sekaligus menegaskan tekad militer AS yang tidak akan surut.
Melalui media sosial X, Hegseth menyatakan, “Semoga lekas sampai tujuan, para pahlawan. Pengorbanan mereka hanya memperkuat tekad kita.”
Centcom saat ini menerapkan blokade laut penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran demi melumpuhkan infrastruktur militer musuh. Empat kapal komersial telah dialihkan dan beberapa kapal lainnya berhasil ditahan oleh pasukan koalisi.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim berhasil menghentikan pergerakan empat kapal yang dikawal oleh militer AS di Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital ini kini menjadi medan pertempuran utama yang sangat berbahaya.
“Dalam operasi rudal dan drone yang terkoordinasi, keempatnya dihentikan dan dilumpuhkan di laut,” kata Komando Angkatan Laut IRGC seperti dikutip oleh Kantor Berita IRNA Iran dalam sebuah unggahan di X.
Agresi militer ini juga mulai meluas dan mengancam keamanan negara-negara tetangga seperti Kuwait dan Bahrain. Fasilitas penyulingan air bersih di Kuwait dilaporkan terbakar akibat serangan drone terarah.
Kuwait Airways terpaksa menjadwal ulang sebagian besar penerbangan demi keselamatan penumpang. Pihak maskapai menyatakan langkah ini diambil akibat “serangan rudal dan drone yang bermusuhan menyusul agresi Iran.”
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, melemparkan ancaman serius dan menyebut bahwa tanda tangan Trump dalam kesepakatan damai tidak memiliki nilai kredibilitas.
“Sekarang musuh Amerika berusaha menyulut perang dan menanggung biaya yang lebih berat, mereka harus tahu bahwa bangsa Iran dan Front Perlawanan memiliki #pelajaran_yang_tak_terlupakan bagi mereka,” demikian pesan Khamenei yang disiarkan oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting di X.
Meskipun situasi di lapangan terus memburuk, Trump tetap optimis bahwa strategi militernya berjalan efektif. Ia bahkan mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik jika Iran menolak bernegosiasi.
Dalam pidato utamanya, Trump mengeklaim keberhasilan operasi militer ini kepada warga Amerika Serikat.
“Kita juga menang besar di Iran, dan Anda akan melihat hasil dari kerja keras itu segera, sangat segera,” ucap Trump optimis.
Ketegangan bersenjata ini berakar dari serangan pembuka yang diluncurkan oleh pasukan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Ketegangan teranyar ini berimbas langsung pada lonjakan tajam harga minyak mentah mentah dunia di pasar internasional.
Konflik yang berkepanjangan ini dikhawatirkan oleh para pengamat politik global akan menjebak Amerika Serikat dalam perang tanpa akhir. Kegagalan strategi dinilai menjadi pemicu utama kegagalan gencatan senjata di kawasan Teluk.