Suara.com - Kuwait kembali menghadapi ancaman serius setelah pasukan Iran dituduh menyerang stasiun pengolahan air untuk kedua kalinya. Insiden ini memicu kekhawatiran massal di kawasan Teluk yang sangat bergantung pada pasokan air hasil desalinasi laut.
Ketergantungan ekstrem terhadap teknologi pengolahan air ini membuat kawasan Teluk sangat rentan terhadap gangguan keamanan. Sabotase fisik pada infrastruktur vital tersebut berpotensi melumpuhkan aktivitas domestik dan ekonomi dalam waktu singkat.
Negara-negara di pesisir Teluk kini menghadapi dilema besar antara menjaga ketersediaan air dan risiko konflik bersenjata. Dikutip dari Al Jazeera, sumber daya air alami yang sangat minim memperburuk posisi tawar mereka dalam stabilitas geopolitik saat ini.

Iklim kering yang ekstrem dan curah hujan tidak menentu membuat air menjadi komoditas paling berharga di sana. Kondisi alam yang tidak ramah ini memaksa pemerintah setempat mencari terobosan teknologi demi bertahan hidup.
Cadangan air tanah yang semula menjadi tumpuan kini terus menyusut akibat perubahan iklim global. Penurunan kualitas air bawah tanah ini mempercepat transisi massal menuju metode pemurnian air laut.
Lebih dari 400 pabrik desalinasi kini beroperasi di sepanjang garis pantai dari Uni Emirat Arab hingga Kuwait. Infrastruktur masif ini menjadi urat nadi utama bagi jutaan penduduk di wilayah paling kering di bumi.
Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk saat ini menguasai sekitar 60 persen kapasitas desalinasi global. Total produksi mereka menyumbang hampir 40 persen dari keseluruhan air desalinasi di seluruh dunia.
Ketergantungan ini terlihat sangat timpang dengan porsi kebutuhan domestik masing-masing negara yang luar biasa tinggi. Uni Emirat Arab memenuhi 42 percent kebutuhan air minumnya dari proses pemurnian air laut ini.
Angka ketergantungan ini melonjak drastis hingga mencapai 90 persen di Kuwait selaku target serangan. Sementara itu, Oman mencatat angka ketergantungan sebesar 86 persen dan Arab Saudi sebesar 70 persen.
Arab Saudi bahkan memegang predikat sebagai produsen air hasil desalinasi terbesar di tingkat global. Skala produksi yang masif ini mencerminkan betapa kritisnya posisi pabrik desalinasi bagi ketahanan nasional mereka.
Di sisi lain, Iran juga membangun fasilitas serupa di wilayah pesisir mereka seperti Pulau Qeshm. Namun, posisi strategis Teheran jauh lebih aman dibandingkan dengan tetangga Arab mereka di seberang Teluk.
Iran beruntung karena masih memiliki banyak aliran sungai alam dan bendungan besar di wilayah daratannya. Hal ini membuat Teheran tidak terlalu bergantung pada pabrik desalinasi yang membutuhkan konsumsi energi tinggi.
Sebelum krisis ini memuncak, air tanah dan air desalinasi bersama-sama memasok sekitar 90 persen sumber daya air utama di wilayah tersebut. Komposisi pasokan air yang rawan ini sempat diangkat dalam laporan Gulf Research Center pada tahun 2020.
Kerusakan lingkungan yang diperparah iklim ekstrem memicu lonjakan ketergantungan pada metode desalinasi yang boros energi. Kajian Arab Center Washington DC pada tahun 2023 menegaskan dominasi mutlak negara Teluk dalam industri pemurnian air laut global, yang kini justru menjadi target empuk sabotase militer.