- Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$1,6 miliar pada Mei 2026 yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan.
- Penurunan nilai ekspor nasional sebesar 8,30 persen dipicu oleh melemahnya kinerja komoditas utama seperti minyak sawit dan besi baja.
- Pemerintah perlu melakukan diversifikasi produk serta hilirisasi industri untuk mengurangi ketergantungan pada sepuluh komoditas utama yang mendominasi ekspor.
Suara.com - Pelemahan ekspor minyak sawit dan besi baja dinilai menjadi peringatan serius bagi perekonomian nasional. Setelah Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$1,6 miliar pada Mei 2026, dua komoditas andalan itu disebut mulai kehilangan daya dorong terhadap kinerja ekspor nasional.
Kepala Riset NEXT Indonesia Center Ade Holis mengatakan defisit tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai anomali bulanan semata. Menurutnya, persoalan yang lebih mengkhawatirkan adalah melemahnya sejumlah komoditas ekspor utama secara bersamaan.
"Ketika komoditas utama seperti sawit, besi baja, hingga beberapa produk manufaktur mulai melemah secara bersamaan, itu menunjukkan mesin ekspor Indonesia sedang kehilangan tenaga. Jika tidak segera diperkuat, ya ruang surplus perdagangan kita jelas akan semakin menyempit," kata Ade Holis di Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Berdasarkan kajian NEXT Indonesia Center yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 setelah nilai impor mencapai US$24,8 miliar, melampaui ekspor yang sebesar US$23,2 miliar.
Defisit tersebut sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan yang bertahan selama 72 bulan.
Secara kumulatif, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan sebesar US$4 miliar sepanjang Januari-Mei 2026. Nilai ekspor mencapai US$115,4 miliar atau tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan impor yang mencapai 15,24 persen menjadi US$111,3 miliar membuat surplus perdagangan terus menipis.
Ade menjelaskan tekanan terhadap ekspor mulai terlihat pada Mei 2026 ketika nilai ekspor nasional turun 8,30 persen dibandingkan April 2026.
Penurunan itu terutama dipicu melemahnya ekspor minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, mesin mekanis, tembaga, produk kimia, hingga berbagai produk manufaktur lainnya.
Ia juga menyoroti struktur ekspor Indonesia yang masih bergantung pada sedikit komoditas unggulan.
Selama periode 2021-2025, sekitar 65,98 persen ekspor nasional hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas utama, mulai dari bahan bakar mineral, minyak sawit, besi dan baja, mesin elektrik hingga kendaraan bermotor.
“Struktur ekspor Indonesia ini masih sangat terkonsentrasi, bahkan selama periode 2021-2025, sekitar 65,98% ekspor nasional hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas, seperti bahan bakar mineral yang menjadi kontributor terbesar, kemudian minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, serta kendaraan bermotor,” ungkapnya.
Karena itu, Ade menilai pemerintah perlu segera memperkuat fondasi ekspor dengan mempercepat diversifikasi produk bernilai tambah agar tidak terus bergantung pada komoditas tertentu.
NEXT Indonesia Center juga mendorong pemerintah mempercepat hilirisasi industri sawit, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan daya saing industri besi dan baja, elektronik, otomotif, produk kimia, dan sektor manufaktur lainnya agar mampu menjadi sumber pertumbuhan ekspor baru.